Kami
biasa memanggilnya Mbah Min, dia tinggal di sebelah rumahku yang berbatasan
dengan sungai kecil. Dia tinggal sendirian di rumah yang berdindingkan bilik
dan beratapkan rumbia. Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu asal usul
keluarganya dan tidak berani menanyakannya karena khawatir akan menyinggung
hatinya.
Tapi
bagi keluarga saya, Mbah Min sudah dianggap seperti keluarga sendiri karena mau
membantu menjaga pemakaman keluarga besarku tanpa mengharapkan bayaran sedikit
pun. Pekerjaan rutinnya membersihkan rumput di areal pemakaman pada pagi hari,
dan rumput-rumput itu dikumpulkan untuk dijual ke peternak sapi di kampungku.
Bagi
saya sendiri ada keasyikan tersendiri bila bermain ke rumahnya dan tidak peduli
dengan omongan tetangga yang menganggap Mbak Min itu, orang tidak waras karena
terkadang berbicara sendiri dengan pohon.
Saat
dirinya berbicara dengan pohon itu seolah-olah sedang berhadapan dengan kekasih
tercintanya dan terkadang mengelus-ngelusnya. Terkadang dia juga menangis
tersedu-sedu saat ada pohon yang ditebang oleh warga, seperti dia tidak mau
kehilangan kekasih tercintanya itu.
B
... baca selengkapnya di Mbah Min Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
B
... baca selengkapnya di Mbah Min Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar