Pernah suatu saat saya mengajari Dadan, anak laki-laki
saya, 4 tahun, melontarkan bola basket ke arah backboard, menemukan sudut
pantul yang tepat; agar bola tak membentur ring dan langsung menerobos net.
Berkali-kali ia mencoba melempar, mencapai backboard
pun tidak; apalagi memantul. “Ayo, lebih kuat lagi lontaranmu, Nak!,” teriak
saya berkali-kali menyemangati. Sekeras apa pun saya berteriak, sekuat apa pun
ia berusaha; tetap saja bola tak mencapai backboard. Bola bergerak naik tak
lebih dari setengah jarak antara lantai dan ring. Bola tak pernah mengenai
sasaran dan selalu terus jatuh ke lantai, diikuti pandangan mata kosong anak
saya, tanda kekecewaannya.
Tak sabaran, saya peragakan contoh melempar sesantai
mungkin, seolah saya melemparkan tanpa tenaga, sembari berucap: “Lihat! Begini
saja kok, Nak, kenapa sulit?” Anak saya berusaha dan berusaha lagi, namun tak
pernah lemparan bolanya berhasil membentur backboard.
Akhirnya ia terduduk terengah-engah setengah baring
dengan kedua lengan tangan bertelekan di lantai. Katanya lirih: “Buat ayah
mudah sekali membikin bola itu naik, memantul ke bawah, dan menerobos net. Ayah
tak mau tahu, beta
... baca selengkapnya di Momen = (Mo)tivasi (Men)jadi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar