WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA
"IBLIS PENCULIK! BERSIAPLAH MENERIMA KEMATIAN!
AKAN KUKIKIS SETIAP GUMPALAN DAGING YANG MELEKAT DI TULANG BELULANG DALAM
TUBUHMU!" NENEK MUKA SETAN GONDORUWO PATAH HATI BERSERU KAGET KETIKA
DAPATKAN DIRINYA TERBUNGKUS DALAM SERANGAN PEDANG YANG MENABUR CAHAYA PUTIH
MENYILAUKAN DAN SAMBARAN HAWA DINGIN MENGGIDIKAN. DENGAN CEPAT NENEK INI
MELOMPAT SELAMATKAN DIRI SAMBIL TANGAN KANANNYA MELEPAS PUKULAN. LIMA SINAR
HITAM MENDERU KELUAR DARI LIMA KUKU.
SEBAGAIMANA diceritakan dalam Episode sebelumnya (Gondoruwo Patah Hati) untuk menyelamatkan diri dari kurungan orangorang Kerajaan, Pendekar 212 Wiro Sableng melarikan diri dengan mencuri dan mempergunakan kuda besar milik Patih Selo Kaliangan. Wiro sengaja memencet kantong anggota rahasia kuda itu hingga dalam sakit luar biasa binatang ini merasa kepala dan sekujur tubuhnya seolah disengat api lalu seperti kesetanan lari menuruni bukit teh, tak perduii arah, tak perduii apapun yang menghadang di depannya.
Tak selang berapa lama Wiro sampai di kaki bukit. Kuda
yang ditunggangi mulai memperlambat lari. Mungkin keletihan, bisa juga karena
rasa sakit sudah berkurang. Senyum-senyum, tapi juga berbalik kasihan Wiro
usap-usap tengkuk kuda itu. Walau udara dingin bukan main namun tubuh Wiro dan
kuda yang ditungganginya basah oleh keringat. Di satu tempat Wiro kembali
mengusap leher kuda. Saat itu untuk pertama kali dia melihat kalau binatang ini
berlari agak pincang. Wiro hentikan kuda itu lalu melompat turun. Ketika diperiksa
ternyata ada cidera di salah satu kaki binatang itu.
Wiro kerahkan tenaga dalam, mengalirkannya ke kaki
yang cidera. Lalu dia mengelus-elus dan meniup-niup kantong anggota rahasia si
kuda hingga binatang ini kedap-kedipkan mata dan meringkik halus. Mungkin
keenakan. Wiro menyeringai.
"Kuda baik..." kata Wiro sambil mengelus
hidung kuda.
"Kau telah menolong menyelamatkan diriku. Aku
berterima kasih padamu. Sekarang kau boleh pergi kemana kau suka...." Wiro
tepuk pinggul kuda, tapi binatang ini hanya melangkah perlahan berputar-putar
lalu menggosok-gosokkan badan ke sebatang pohon, akhirnya merebahkan diri di
bawah pohon itu.
Wiro menggaruk kepala. "Apa yang harus aku
lakukan sekarang. Kemana aku harus pergi." Sang pendekar lalu ingat pada
kejadian yang barusan dialaminya di puncak bukit teh.
Dalam pertempuran melawan Iblis Batu Hitam, Momok
Dempet Tunggul Gono dan Ki Sepuh Item dia memang berhasil membunuh Iblis Batu
Hitam dan Tunggul Gono. Tapi itu sama sekali tidak ada artinya dibanding dengan
diculiknya Bunga oleh Iblis Kepala Batu Alis Empat alias Iblis Kepala Batu
Pemasung Roh.
"Makhluk kepala batu sialan itu! Gila betul! Ilmu
jahanam apa yang dimilikinya. Dia mampu membuat sosok Bunga leleh menjadi asap.
Lalu menyedot dan memasukkan ke dalam guci tembaga! Kemana aku harus
mencarinya! Bagaimana aku harus menyelamatkan Bunga!" Murid Sinto Gendeng
gelengkan kepala berulang kali. Terdiam sesaat. Lalu Wiro ingat. Kembali dia
membatin.
"Ketika tanah terbelah hampir melumat bangsat
bernama Ki Sepuh Item, ada penunggang kuda muncul menolong. Aku rasa-rasa
pernah melihat manusia itu sebelumnya. Tapi dimana...?! Otakku seperti tidak
mau bekerja lagi!" Wiro lalu pukul-pukul keningnya sendiri.
Saat itulah tiba-tiba Wiro mendengar satu suara.
"Suara isakan di malam buta. Siapa yang
menangis?!" Pendekar 212 memandang berkeliling.
Pandangannya membentur sebuah pohon besar sejarak dua
puluh langkah di depart sebelah kiri. Suara isakan datang dari balik pohon itu.
Dengan hati-hati Wiro bergerak mendekati pohon besar. Dia sengaja tidak
melangkah langsung ke arah pohon, tapi bergerak agak menjauh ke kanari. Murid
Eyang Sinto Gendeng ini selalu ingat pengalaman. Jika menemui keanehan, bukan
mustahil di balik keanehan itu tersembunyi malapetaka bahkan maut. Ada orang
menangis di malam buta, di tempat begitu rupa, bukankah ini satu keanehan?
Karena itu sebaiknya dia berjaga-jaga, berlaku hati-hati. Di satu tempat Wiro
membungkuk, berlindung di balik semak belukar rendah. Dari balik semak belukar
Wiro melihat seorang berjubah hitam, berambut panjang kelabu duduk di bawah
pohon. Dua kaki dilipat ke atas, kepala diletakkan di atas ujung lutut. Setelah
sekian lama sembunyi menunggu, suara isak tangis orang di bawah pohon bukannya
reda, tapi semakin keras. Wiro garuk-garuk kepala sambil berpikir-pikir apakah
dia perlu mendatangi orang yang menangis itu dan menyapanya.
"Suara tangisnya semakin keras dan pilu. Jika
tidak ada satu hai yang sangat mengganjal hati pasti orang itu tidak akan
menangis di tempat begini sepi, malam hari pula. Dari rambutnya yang kelabu
keputihan jelas dia seorang perempuan lanjut usia."
Setelah bimbang dan menunggu sebentar akhirnya Wiro
bangkit berdiri. Dia melangkah ke arah pohon. Empat langkah dari sosok orang
yang menangis Wiro berhenti. Suara isakan tangis tidak berhenti, tapi dari
tangan yang bergerak Wiro maklum kalau orang yang menangis tahu kehadirannya.
Maka setelah mendehem, dengan suara lembut dan sopan murid Sinto Gendeng
menyapa.
"Orang tua, gerangan kesedihan apakah yang
membuatmu sampai menangis di malam hari, di tempat terpencil begini rupa?"
Orang di bawah pohon terus saja menangis. Seolah tidak mendengar teguran
Pendekar 212.
"Jangan-jangan dia tuli," pikir murid Sinto
Gendeng. Maka dia menegur sekali lagi.
"Orang tua, suara tangismu ikut mendatangkan
kesedihan dalam diriku. Aku tidak ingin mengganggumu. Tapi jika aku bisa
membantu, hentikan tangismu. Jawab pertanyaanku. Mengapa kau menangis di tempat
ini. Malam-malam begini?" Tiba-tiba dua tangan yang terletak di ujung lutut
bergerak keluar dari balik rambut kelabu. Tangan yang sebelah kanan mendadak
menyambar ke depan. Lima larik sinar hitam mengeluarkan hawa dingin berkelebat
dalam gelapnya malam.
"Breett!" Wiro keluarkan seruan tertahan.
Mukanya pucat. Untung dia berlaku sigap. Hanya baju putihnya yang robek. Waktu
tangan orang menyambar dia cepat melompat mundur. Memandang ke depan dia
meiihat bagaimana jari-jari tangan yang menyerang itu memiliki kuku panjang
berwama hitam. Dari keadaan tangan orang Wiro segera maklum kaiau saat itu dia
berhadapan dengan seorang tokoh rimba persilatan berkepandaian tinggi. Sepuluh
jari kuku yang panjang hitam itu past! merupakan senjata andalan. Tapi
diam-diam Wiro jadi penasaran karena masih belum melihat wajah orang. Rambut
kelabu panjang riap-riapan menutupi mukanya.
"Orang tua...." Ucapan Wiro terputus. Orang
yang ditegur bergerak mengangkat kepala. Kepala itu digoyangkan. Rambut yang
menutupi muka tersibak. Ketika wajahnya dipalingkan ke arah Wiro, murid Sinto
Gendeng ini melengak kaget ialu bergerak surut due langkah. Orang berjubah
hitam berambut kelabu yang menangis ternyata memiliki muka seram luar biasa.
Wajahnya wajah seorang nenek hancur-hancuran seolah wajah itu cacat bekas
dicacah! Tiba-tiba suara tangis nenek muka setan di bawah pohon sirap. Berganti
dengan suara tawa panjang. Lalu ketika tawa panjang ini sirna, sosoknya
bergerak dan tahu-tahu dia sudah berdiri dua langkah di hadapan Wiro! Wiro
seperti mendadak mau kencing dan mundur lagi beberapa langkah. Dia jadi ingat pada
sahabatnya kakek berjuluk Si Setan Ngompol. Dalam hati dia membatin.
"Begini rasanya kalau mendadak kaget. Ingin
kencing. Kalau Setan Ngompol hadir di sini pasti kencingnya sudah mancur kalang
kabut!"
"Tadi kau beraninya menegurku! Sekarang kau
ketakutan seperti melihat seribu setan! Hik... hik... hik!"
"Nek, aku tidak mengira...."
"Tidak mengira apa?!" bentak si nenek.
"Tidak mengira kalau wajahku mengerikan seperti
ini?!" Dalam kejut dan takutnya Wiro jadi bicara polos.
"Nek, terus terang memang baru sekali ini aku
melihat orang berwajah luar biasa seram sepertimu ini. Tapi rasa heran dan
ingin tahuku lebih besar lagi dibanding rasa takut. Tadi aku bertanya mengapa
kau berada di tempat terpencil ini, malam-malam begini menangis pilu."
"Kau sendiri mengapa bisa kesasar ke sini? Begitu
muncul mau tahu urusan orang lain!" membentak si nenek.
"Maafkan aku Nek. Bukan maksudku mau tahu
urusanmu. Tadi sudah kubilang. Suara tangismu ikut mendatangkan kesedihan dalam
hatiku!" Si nenek tertawa panjang mendengar ucapan Wiro.
"Kenal tidak, bukan sanak bukan kandangmu, bukan
ibu bukan nenekmu! Mengapa kau bisa ikutikutan sedih?!"
"Nek, aku cuma bermaksud baik...."
"Bermaksud baik! Laki-laki semua sama saja! Tidak
muda tidak tua! Punya sifat suka merayu! Anak muda, kalau ingin bicara manis
merayu perempuan, cari gadis muda! Jangan merayu diriku yang sudah tua bangka
begini rupa!" Wiro tertawa lebar. Dalam hati dia berkata.
"Nenek gila! Siapa yang merayu dirinya! Setan
beneranpun tidak akan mau merayunya!"
"Kau tertawa! Apa yang kau tertawakan! Ayo
katakan! Apa yang kau tertawakan!" Si nenek tibatiba membentak.
"Aku tertawa karena apa yang kau ucapkan tadi
betui adanya, Nek. Mengapa aku merayu dirimu yang tua bangka begini rupa. Lebih
baik merayu gadis cantik! Nah aku pergi dulu Nek. Aku mau mencari gadis cantik
untuk dirayu!" Habis berkata begitu murid Sinto Gendeng kerutkan hidung
dan kedipkedipkan mata lalu memutar badan siap melangkah pergi. Si nenek
melirik ke arah kuda besar di kegelapan, memperhatikan pakaian Wiro yang robek.
Bukan cuma robek bekas sambaran kukunya tadi. Dengan cepat nenek ini melompat
menghadang gerakan Wiro.
"Aku tahu kau datang menunggang kuda besar itu.
Aku juga mengenali, kuda dengan dandanan seperti itu bukan kuda sembarangan.
Hanya ada di Keraton. Pakaianmu robek besar di bagian perut. Hemm.... Anak
muda, kukira kau bukan ma.nusia baik-baik. Kau mencuri kuda Istana, meiarikan
diri. Mungkin sebelumnya teiah melakukan satu kejahatan hingga ada yang
menyerangmu. Untung hanya bajumu yang robek, tidak perutmu!"
"Nek, matamu tajam, otakmu cerdik. Aku tidak
membantah. Kuda itu milik Patih Kerajaan. Terpaksa aku curi untuk selamatkan
diri...."
"Nah, nah! Betul rupanya dugaanku! Sekarang
katakan kejahatan besar apa yang telah kau lakukan hingga meiarikan diri dengan
mencuri kuda Patih Kerajaan?"
"Aku tidak melakukan kejahatan apa-apa. Beberapa
tokoh culas Istana memf itnah, menuduhku yang bukan-bukan!"
"Hemm, begitu?" Si nenek menyeringai.
"Aku jadi curiga padamu. Coba katakan. Apa fitnah
dan tuduhan yang bukan-bukan itu?"
"Ah, kau seperti tengah menyelidikiku! Tapi tidak
ada salahnya kujawab semua pertanyaanmu. Pertama aku dituduh membunuh perempuan
muda bernama Kinasih, istri mendiang juru ukir Keraton bernama Sura
Kalimarta...."
"Padahal kau memang membunuh perempuan itu bukan?
Hik... hik... hik!" si nenek kembali menyeringai lalu tertawa cekikikan.
Wiro menggeleng.
"Aku malah juga dituduh sebagai pembunuh juru
ukir itu! Sial! Dan katanya juga harus ikut bertanggung jawab atas ienyapnya
keris pusaka Keraton bernama Kiai Naga Kopek! Gila!"
"Siapa yang gila?!" tanya si nenek.
"Patih Kerajaan! Para tokoh silat Istana!"
jawab Wiro. Si nenek manggut-manggut lata tertawa panjang. Begitu tawanya
lenyap dia berkata.
"Kalau kau tidak membunuh Kinasih dan suaminya
lalu siapa yang melakukan? Setan? Kalau kau tidak mencuri keris Kiai Naga Kopek
lalu siapa yang melakukan? Setan?! Hik... hik... hik!"
"Siapa pembunuh Kinasih dan suaminya mana aku
tahu! Kalau keris pusaka Keraton itu memang aku pernah melihatnya. Dirampok
oleh Warok Mata Api dari Alas Roban. Lalu dijarah oleh seorang pemuda tak
dikenal!" Tiba-tiba saja saat itu Wiro ingat.
"Astaga!" Wiro berseru tertahan.
"Apa yang astaga!" tanya si nenek. Wiro tak
menjawab. Kepalanya digaruk berulang kali. Mulutnya berucap perlahan.
"Aku ingat kini! Orang berpakaian kuning
bercelana hitam, menunggang kuda coklat, yang menyelamatkan Ki Sepuh Item! Dia
adalah pemuda yang sama yang membunuh Warok Mata Api dan anak buahnya! Yang
menjarah kotak-kotak barang perhiasan dan uang emas milik Keraton. Termasuk
yang merampok keris Kiai Naga Kopek. Waktu itu aku dan Kinasih menyaksikan
dengan mata kepala sendiri! Kalau tidak salah dia mengaku bernama Damar
Wulung." (Baca Episode sebelumnya berjudul "Roh Dalam Keraton")
Si nenek muka setan memperhatikan kelakuan Wiro yang bicara perlahan seorang
diri.
"Bangsat gondrong ini kurang waras otaknya
rupanya..." kata si nenek dalam hati. Lalu kembali dia membentak.
"Gondrong otak miring! Racau apa yang barusan
keluar dari mulutmu! Apa yang astaga?!"
"Pencuri keris pusaka itu Nek. Aku ingat, aku
tahu orangnya!"
"Siapa?!" si nenek delikkan mata.
"Seorang pemuda bernama Damar Wulung. Kau kenal
atau mungkin pernah tahu orangnya?" Nenek muka setan gelengkan kepala.
"Kau sengaja menuduh orang lain, untuk
menghindari diri dari tuduhan dan kejahatanmu sendiri."
"Terserah kau mau bicara apa. Aku tak ingin
mengganggumu lebih lama. Aku mau pergi saja...."
"Kau takut orang-orang Kerajaan akan memergokimu
di sini?"
"Selama aku tidak bersalah, aku tidak takut pada
siapapun," jawab Wiro tandas.
"Kau boleh pergi, tapi jawab dulu beberapa
pertanyaanku!"
"Walah, dapat urusan lagi!" kata Wiro sambil
garuk-garuk kepala.
"Baik Nek, lekaslah. Apa yang hendak kau
tanyakan."
"Kau pernah mendengar seorang bernama Rana
Suwarte?"
"Tidak." Si nenek terdiam. Dia seperti
tengah berpikir-pikir.
"Pertanyaanmu cuma satu itu, Nek?"
"Menurutmu, apakah seseorang bisa kawin dengan orang yang tidak
dicintainya?" Wiro tidak menyangka ditanya begitu.
"Nenek satu ini, aneh pertanyaannya. Nah, nah!
Biar aku permainkan dia."
"Nek, yang namanya orang itu, tentu saja bisa
kawin dengan siapa saja! Namanya juga kawin! Tapi kalau nikah, nah itu baru
urusan lain! Tidak bisa sembarangan!"
"Pemuda kurang ajar! Yang aku maksud memang kawin
secara benar! Nikah! Bukan kawin-kawinan! Gondrong, kau pasti suka dan sering
kawin-kawinan ya?!" Wiro tertawa gelak-gelak sampai keluar air mata.
"Kau tertawa! Berarti benar dugaanku!"
"Nek, kau pasti tengah menghadapi masalah rumit,
sangat menyedihkan. Sampai-sampai memencilkan diri di malam buta begini rupa,
di tempat sepi seperti ini, menangis berpilu-pilu."
"Pemuda geblek! Jangan kau berani bicara
macam-macam! Nanti kujadikan semacam kau baru tahu!" Wiro tersenyum, tidak
perdulikan ucapan orang.
"Nek, apakah orang bernama Rana Suwarte itu ada
sangkut pautnya dengan semua kesedihanmu saat ini? Apakah kau hendak menikah
dengannya?" Si nenek tergagau mendengar ucapan Wiro. Matanya mendelik,
tapi perlahan-lahan mengecil kembali.
"Pemuda ini, tampangnya tolol, otaknya rada-rada
miring. Tapi bagaimana dia bisa menduga hubunganku dengan Rana Suwarte?"
"Bocah gendeng! Siapa yang mau menikah dengan
Rana Suwarte! Enak saja kau bicara!" Wiro garuk kepala, tertawa lebar.
"Kalau bukan dengan dia, pasti dengan seorang
lain. Tapi yang bernama Rana Suwarte itu rupanya menjadi penghalang. Atau ada
orang yang memaksamu kawin dengan Rana Suwarte. Padahal kau mencintai seorang
lain." Dalam hati Wiro berkata.
"Sudah tua bangka begini rupa, berwajah lebih
angker dari setan. Apa iya ada lelaki yang suka padanya?" Tersirap darah
si nenek mendengar ucapan murid Sinto Gendeng tadi.
"Pemuda sinting aneh. Bagaimana dia bisa menduga
apa yang tengah terjadi dengan diriku!" kata si nenek dalam hati. Wiro
garuk lagi kepalanya, lantas berkata.
"Nek, maafkan kalau kehadiranku mengganggumu. Aku
harus pergi sekarang. Kau boleh kembali ke bawah pohon sana dan meneruskan
tangismu tadi sampai tiga hari tiga malam. Ha... ha... ha!"
"Benar-benar kurang ajar! Jangan harap kau bisa
pergi sebelum menjawab pertanyaanku yang satu ini!" Sekali berkelebat si
nenek tahu-tahu sudah berada di depan Wiro. Lima jari tangan kanannya yang
berkuku panjang hitam mencengkeram di batang leher sang pendekar. Wiro terkesiap
sesaat lalu mulut usilnya kembali bicara.
"Walah, apalagi yang hendak kau tanyakan, Nek.
Hemm.... Aku tahu. Kau pasti mau menanyakan dimana tukang rias paling handal
yang bisa mendandanimu kalau nanti melangsungkan pernikahan! Bukan
begitu?!" Nenek bermuka setan memaki panjang pendek. Tapi kemudian
wajahnya agak mesem-mesem lalu dia lepaskan cengkeraman lima jari tangannya di
leher Wiro dan tertawa gelak-gelak
"Apa pertanyaanmu Nek?" Wiro mendesak.
"Kau kenal dengan seorang bocah bernama Naga
Kuning?" Kagetlah murid Sinto Gendeng mendengar pertanyaan ini.
"Bola matamu kulihat membesar dalam gelap!
Berarti kau memang kenal dengan anak itu!"
"Lebih dari kenal Nek!" jawab Wiro.
"Hai! Apa maksudmu dengan ucapan itu?!" Wiro
melihat nenek di hadapannya seperti tersenyum dan ada bayangan harapan di balik
keseraman wajah setan itu.
* * *
WIRO pandang wajah setan si nenek seketika lalu
berkata.
"Naga Kuning, bocah konyol, dia sahabatku. Saat
jni justru aku tengah mencari-carinya."
"Naga Kuning sahabatmu katamu? Bagaimana mungkin
pemuda dewasa sepertimu punya sahabat seorang anak seusia duabelasan
tahun...."
"Naga Kuning bukan anak sembarangan Nek. Ilmunya
tinggi. Selain itu kami bertiga...."
"Kami bertiga siapa maksudmu?" memotong si
nenek.
"Aku, Naga Kuning dan seorang kakek bernama Setan
Ngompol...."
"Setan Ngompol! Aku pernah mendengar nama kakek
bau pesing itu! Lanjutkan ceritamu, anak muda," kata si nenek muka setan.
"Karena senasib sepenanggungan, kami bertiga
sudah sama mengangkat diri sebagai saudara...."
"Hemm, rupanya ada satu kejadian besar yang
membuat kalian saling mengangkat jadi saudara. Kejadian apa?"
"Kalau kuceritakan, kau belum tentu mau
percaya," kata Wiro pula. Si nenek menyeringai.
"Tergantung kadar kedustaan dalam ceritamu!"
Wiro berpikir sebentar.
"Baiklah, tak ada salahnya kuceritakan padamu. Soal percaya atau tidak itu urusanmu sendiri." Lalu murid Sinto Gendeng ini menuturkan riwayat bagaimana dia, Naga Kuning dan Setan Ngompol terpesat ke negeri Latanahsilam, negeri seribu dua ratus tahun lalu.
"Baiklah, tak ada salahnya kuceritakan padamu. Soal percaya atau tidak itu urusanmu sendiri." Lalu murid Sinto Gendeng ini menuturkan riwayat bagaimana dia, Naga Kuning dan Setan Ngompol terpesat ke negeri Latanahsilam, negeri seribu dua ratus tahun lalu.
"Ketika batu sakti Pembalik Waktu pecah dan
Istana Kebahagiaan Hancur, semua orang yang ada dalam Isana itu termasuk aku,
Naga Kuning dan Setan Ngompol, terlempar melesat ke udara seolah menjebol
langit. Tahu-tahu aku jatuh terpesat di satu bukit karang tak jauh dari Teluk
Penanjung kawasan Pangandaran. Di situ aku menemui beberapa orang tokoh aneh.
Bahkan nyawaku hampir dihabisi oleh sepasang momok berjuluk Momok Dempet Kaki
Kuda. Kemudian ketika aku mengalami nasib sial dibekuk dan dijebloskan ke
penjara Kerajaan, di penjara aku bertemu dengan sahabatku Setan Ngompol. Kalau
tidak ditolong seorang sahabat kami berdua tidak mungkin lolos."
"Hemm.... Bisa lolos dari penjara Istana bukan
satu pekerjaan mudah. Tidak sembarang orang mampu berbuat begitu, apalagi
menyelamatkan dua orang sekaligus. Aku jadi kepingin tahu, siapa sahabat yang
menolongmu dan Setan Ngompol itu?" Wiro tak segera menjawab tapi menggaruk
kepala lebih dulu. Melihat hal ini si nenek lantas berkata.
"Dari tadi aku melihat kau suka menggaruk-garuk
kepala. Apa kau jarang mandi? Mungkin cuma sekali setahun? Hik... hik! Pantas
kau kelihatan gemuk, padahal gemuk tebalnya daki! Hik... hik!" Wiro
menyeringai.
"Kalau kau mau tahu Nek, sahabat yang menolong
aku itu seorang gadis cantik...."
"Nah... nah!"
"Tapi dia bukan manusia utuh. Setengah
roh...."
"Makhluk halus jejadian?" ujar si nenek.
"Bisa dikatakan begitu."
"Luar biasa! Baru sekaii ini aku mengetahui ada
anak manusia bersahabat dengan gadis cantik setengah roh setengah manusia.
Jangan-jangan kalian bukan cuma bersahabat, tapi saling bercinta! Eh, aku mau
tanya anak muda. Jangan-jangan kau sendiri juga makhluk halus jejadian."
Wiro tertawa lebar.
"Asal aku berteman dengan setan tua sepertimu,
aku tidak keberatan kau sebut sebagai makhluk halus jejadian. Kabarnya setan
dan makhluk halus jejadian masih ada kaitan saudara! Ha... ha... ha!"
"Hik... hik... hik!" Si nenek ikut tertawa
cekikikan. Diam-diam dia mulai merasa senang dengan pemuda yang baru dikenalnya
ini.
"Aku masih mau melanjutkan ceritaku Nek. Kau
masih mau mendengar?"
"Tentu-tentu!" jawab si nenek.
"Setelah lolos dari penjara aku dan Setan Ngompol
berpisah. Aku sudah menemukan Setan Ngompol, tapi belum ketemu Naga Kuning. Aku
belum dapat memastikan apakah anak itu ikut terlempar dan melesat kembali ke
tanah Jawa ini."
"Aku malah sudah bertemu dengan dia. Sudah dua
kali!" kata si nenek. Wiro terkejut
"Kalau kau sudah bertemu dengan bocah itu,
mengapa dan apa perlunya bertanya padaku?"
"Dua kali berjumpa, dua kali muncul keraguan
dalam hatiku. Karena sosoknya yang kulihat dua kali itu bukan sosok yang pernah
kukenal puluhan tahun silam. Sulit dipercaya ada manusia bisa berganti wajah,
apa lagi berubah bentuk sosoktubuhnya. Aku khawatir kalau-kalau bocah itu bukan
dia...."
"Dia siapa Nek?" tanya Wiro.
"Aku tidak bisa mengatakan padamu...."
"Rupanya ganjalan hidupmu sangat berat. Hingga
kau tidak percaya begitu saja pada semua orang, termasuk aku. Tapi kalau hidup
tidak bisa memberikan rasa percaya, kau bakal menghadapi banyak kesulitan
Nek." Si nenek menyeringai. Dia mendongak memandang langit malam yang
hitam gelap.
"Dalam hidup kita memang tidak boleh percaya
polos-polos saja pada semua orang. Itu kalau mau selamat. Tapi dengar, anak
muda. Aku akan berterus terang dan bercerita lebih banyak padamu, asal kau mau
memberitahu kau ini sendiri siapa adanya. Tadi walau bajumu robek, tapi kau
telah sanggup menghindar dari serangan Lima Cakar Langit yang aku lancarkan.
Hanya sedikit saja tokoh silat di tanah Jawa ini yang sanggup selamatkan diri
dari serangan itu! Aku benar-benar ingin tahu siapa kau ini sebenarnya. Awas,
jangan berani berdusta!"
"Seperti kau lihat, aku seorang pemuda gondrong,
yang katamu cuma mandi setahun sekali, otaknya rada-rada miring dan badannya
gemuk karena ketebalan daki!" Si nenek tertawa lebar.
"Anak tolol! Maksudku bukan itu! Sebagai manusia
kau tentu punya nama. Kalau kau orang rimba persilatan tidak mustahil punya
julukan. Kalau kau orang hebat lantas siapa gurumu...."
"Apa kau juga ingin tahu apa aku sudah punya bini
atau belum?"
"Menurut dugaanku kau belum punya bini. Tapi
bini-binian mungkin banyak. Hik... hik... hik!"
"Kalau aku katakan siapa diriku, apa kau juga mau
menceritakan siapa dirimu?" Si nenek muka setan mengangguk.
"Aku berjanji, tapi dengan satu syarat kau tidak
akan mengatakan pada siapapun. Termasuk Setan Ngompol dan bocah bernama Naga
Kuning itu."
"Aku berjanji!" kata Wiro pula.
"Namaku jelek. Wiro. Lebih jelek lagi karena ada
tambahan nama Sableng di belakang nama Wiro itu." Wajah setan si nenek
berubah. Kakinya tersurut sampai beberapa langkah. Matanya membeliak, menatap
tak berkesip.
"Jadi, jadi kau... kau Wiro Sableng?!" Wiro
mengangguk.
"Si geblek yang berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga
Geni 212?" Wiro mengangguk lagi.
"Murid nenek kurang ajar bernama Sinto Gendeng
yang diam di puncak Gunung Gede?" Wiro pencongkan mulut mendengar gurunya
disebut sebagai nenek kurang ajar. Tapi kemudian kepalanya kembali dianggukkan.
"Waktu kecil, bukankah namamu sebenarnya adalah
Wiro Saksana?" Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu nama asliku Nek?"
tanya Wiro.
"Setan... setan!"
"Eh, mengapa kau memaki setan-setan segala
Nek?" tanya Pendekar 212 heran. Si nenek menjawab dengan tawa panjang.
Kepalanya didongakkan ke langit. Sepasang matanya seolah ingin menembus
kepekatan gelapnya malam.
"Aku tahu namamu sejak kau berusia enam
tahun." Rasa heran Wiro semakin bertambah.
"Waktu itu aku... aku berada di puncak Gunung
Gede," kata Wiro pula.
"Apa... apa kau juga ada di sana?" Si nenek
geleng-gelengkan kepala.
"Ada satu kisah menyangkut dirimu pada masa
puluhan tahun silam. Yang kurasa kau sendiri tidak pernah mengetahui. Dan
kurasa Sinto Gendeng juga tidak pernah menceritakan."
"Kisah apa Nek?" tanya Wiro, heran dan ingin
tahu.
"Selagi kau masih digembleng Sinto Gendeng di
puncak Gunung Gede, seorang sahabat pernah datang ke tempat kediamanku. Waktu
itu aku menetap di pantai selatan. Sahabat itu memberitahu bahwa di tempat
kediaman Sinto Gendeng di Gunung Gede ada seorang anak kecil. Anak itu menurut
pengamatannya memiiiki susunan tulang, urat dan otot nyaris sempurna. Anak
seperti itu suiit dicari. Mungkin tidak akan ditemukan satu dafam seratus
tahun. Di masa mendatang dia kelak akan menjadi seorang pendekar besar. Sahabat
itu ingin mengambilmu jadi muridnya. Tapi tentu saja sulit terlaksana karena
Sinto Gendeng sudah mengambil si anak menjadi murid. Sahabatku lalu berniat
menculik anak itu lalu membawanya ke tempatku untuk digembleng bersama-sama.
Anak itu adalah engkau yang waktu itu masih bernama Wiro Saksana."
"Kalau aku boleh tahu, siapakah sahabatmu yang
hendak menculik diriku itu?" Wiro bertanya.
"Namanya Sukat Tandika...."
"Sukat Tandika? Astaga?!" Wiro terkejut
besar.
"Nek, bukankah dia si Tua Gila, tokoh rimba
persilatan dari Andalas?" Si nenek mengangguk.
"Aku tak pernah tahu. Juga tidak menyangka. Eyang
Sinto Gendeng tidak pernah menceritakan, mungkin beliau tidak tahu adanya
rencana penculikan itu. Aku sering bertemu dengan Tua Gila. Malah ketika aku
datang ke pulau Andalas, aku sempat bertemu dan diajarkannya beberapa ilmu
silat. Sebenarnya kalau Tua Gila punya niat baik, mengapa dia tidak bicara
langsung dengan guruku?" (Mengenai riwayat pertemuan Wiro dengan Tua Gila
pertama kali harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Banjir Darah Di
Tambun Tulang.")
"Pada saat kau diambil murid oleh Sinto Gendeng,
antara gurumu dengan Tua Gila masih ada silang sengketa gara-gara cinta di masa
muda. Setahuku Sinto Gendeng sangat mencintai Tua Gila. Tapi lelaki itu
meninggalkannya, terpikat dan kawin dengan seorang janda. Cinta kasih Sinto
Gendeng berubah menjadi sejuta kebencian. Bila ada kesempatan dia ingin
membantai Tua Gila. Untung saja belakangan dimasa tua antara keduanya terdapat
saling pengertian dan melupakan semua hal yang terjadi di masa muda. Sejak
patah hati dengan Tua Gila, kabarnya gurumu gentayangan kemanamana, bercinta
dengan setiap pemuda gagah dan berilmu yang dijumpainya." Lama Wiro
terdiam mendengar kisah yang dituturkan nenek muka setan itu. Setelah gelengkan
kepala dan menggaruk Wiro berucap.
"Sekarang giliranmu Nek. Kau sendiri siapa
adanya?"
"Rasanya aku tidak bisa mempercayai kalau saat
ini benar-benar berhadapan dengan Pendekar 212. Tapi baiklah. Aku harus
memegang janji. Mengenai diriku, aku terlahir dengan nama Ning Intan
Lestari..." Wiro tercengang mengetahui si nenek punya nama demikian bagus.
Tidak sesuai dengan keadaan mukanya yang seperti setan. Dalam hati murid Sinto
Gendeng ini berkata.
"Kau ini rupanya keberatan nama Nek. Nama bagus
selangit tembus, tapi tampang jelek sebumi hangus!" Melihat pemuda di
hadapannya seperti terkesiap, si nenek tersenyum.
"Aku tahu apa yang ada di dalam benakmu. Hatimu
mungkin berkata, bagaimana aku si muka setan ini punya nama sebagus yang
barusan aku katakan. Itulah kehidupan. Terkadang kenyataan yang kita lihat
tidak sesuai dengan keadaan yang kita harapkan. Penglihatan mata tidak selalu
sama dengan suara hati nurani...."
"Nek, kata orang apalah artinya nama. Lalu wajah
yang buruk sepertimu tidak seiamanya menyiratkan keadaan pribadi yang
sesungguhnya. Kau boleh punya muka setan namun hatimu mungkin lebih tulus,
lebih bersih dan lebih baik dari seorang bidadari...." Si nenek tertawa
panjang. Dalam hatinya ada sekelumit rasa bahagia mendengar ucapan Wiro itu
walau perasaan itu terbungkus oleh perasaan lain, yakni perasaan sedih.
"Di usia tua bangka seperti ini, orang-orang
menjuluki aku Gondoruwo Patah Hati"
"Gondoruwo Patah Hati," mengulang Wiro
sambil garuk-garuk kepala.
"Maaf Nek, Gondoruwo rasanya memang cocok dengan
keadaan wajahmu. Tetapi mengapa ada tambahan Patah Hati?"
"Nasibku tidak jauh berbeda dengan gurumu Sinto
Gendeng. Di masa muda aku pernah bercinta dengan seorang pemuda. Kemudian dia
lenyap begitu saja tanpa kabar berita. Kalau Sinto Gendeng masih bisa menjalani
hidup dan bercinta dengan siapa saja yang disukainya, sebaliknya aku
memencilkan diri. Tak ada keinginan untuk mencari pemuda lain, apalagi menjalin
cinta kasih baru. Aku seolah-olah sirna dari rimba persilatan. Hanya ada satu
dua tokoh yang mengetahui keadaanku dan dimana aku berada. Merekalah yang
memberikan gelar Gondoruwo Patah Hati padaku. Dalam masa menyembunyikan diri
itu, aku menemukan seorang anak. Dia kugembleng menjadi seorang pendekar sakti
mandraguna. Dua tahun lalu dia kulepas pergi. Namun apa jadinya dia dikemudian
hari tidak dapat kupastikan. Belakangan aku sering kedatangan mimpi-mimpi buruk
menyangkut diri muridku itu."
"Kalau aku boleh tahu, siapa nama muridmu
itu?" bertanya Wiro.
"Namanya Adisaka. Kau pernah kenal, atau pernah
dengar?" Wiro menggeleng.
"Sekian lama kau memencilkan diri, lalu mengapa
sekarang kau muncul lagi dalam rimba persilatan?" bertanya Wiro.
"Kalau aku boleh bertanya, siapa orang yang
sangat kau cintai itu, lalu meninggalkan dirimu begitu saja?"
"Tak ada salahnya aku ceritakan padamu. Karena
aku punya firasat, kau satu-satunya orang yang bisa menolongku."
"Terima kasih kau punya kepercayaan seperti
itu," kata Wiro. Dia pandangi wajah si nenek, menunggu apa yang dikatakan
Gondoruwo Patah Hati. Tempat itu sesaat berada dalam kesunyian. Tiba-tiba
kesunyian itu dirobek oleh geiegar bentakan, merobek kesunyian, melabrak
kegelapan.
"Nenek muka setan! Kepercayaanmu hanya satu
kesia-siaan! Pemuda itu tidak mampu menolongmu! Karena Kerajaan telah
memutuskan untuk memancung kepalanya di tempat!" Pendekar 212 dan
Gondoruwo Patah Hati samasama terkejut dan palingkan kepala. Mereka baru
menyadari kalau tempat itu telah dikurung oleh banyak orang!
PENDEKAR 212 tidak dapat menyembunyikan rasa
terkejutnya sementara Gondoruwo Patah Hati tetap tenang-tenang saja. Yang
mengurung tempat itu ternyata adalah orangorang Kerajaan dan para tokoh silat
Istana. Tetapi anehnya dalam rombongan tersebut bergabung pula beberapa tokoh yang
tidak dikenal atau belum pernah dilihat oleh Wiro. Di bawah bayang-bayang gelap
pohon besar berdiri Selo Kaliangan, Patih Kerajaan yang kudanya dilarikan Wiro.
Di sebelah kirinya kelihatan si jubah kelabu berenda kuning Hantu Muka Licin
Bukit Tidar. Dia memandang pada Wiro seperti mau menerkam dan mengunyah murid
Sinto Gendeng. Dendam kesumatnya terhadap Pendekar 212 memang tidak terkirakan.
Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya
(Gondoruwo Patah Hati) ketika terjadi perkelahian antara Wiro dengan Hantu Muka
Licin, untuk menyelamatkan diri dari serangan Wiro, Hantu Muka Licin terpaksa
melompat dan bergelantungan di cabang sebuah pohon. Saat itulah sebuah benda
kecil melesat, menyambar putus celana hitam yang dikenakan Hantu Muka Licin.
Begitu tali celana putus dan celana itu merosot jatuh ke tanah, Tak ampun lagi
Hantu Muka Licin tersingkap bugil tubuhnya sebatas pinggang ke bawah! Walau
bukan Wiro yang berlaku jahil memutus tali celana Hantu Muka Licin, tapi Hantu
Muka Licin menganggap Wirolah yang jadi biang kerok membuatnya malu besar
begitu rupa. Di samping kanan Patih Kerajaan berdiri tokoh silat istana bernama
Jalak Kumboro berjuluk Pendekar Keris Kembar.
Tokoh silat Istana berikutnya adalah si muka merah
dikenal dengan julukan Sanca Merah Bengawan Solo. Lalu di situ tampak pula
Tumenggung Cokro Pambudi. Wiro memandang ke belakang. Di sana berdiri tokoh
silat Istana Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Manusia satu ini berdiri
sambil senyumsenyum memandang pada Wiro. Dia tersenyum mungkin masih ingat
kejadian bagaimana Hantu Muka Licin berbugil ria menggelantung di atas cabang
pohon. Di kiri kanan tokoh bisu ini ada beberapa tokoh silat yang belum pernah
dilihat Wiro sebelumnya. Salah satu diantaranya adalah seorang kakek berpakaian
serba hitam, berpipi sangat cekung. Bibirnya tak bisa dirapatkan karena giginya
tonggos menjorok keluar. Di tangan kanan kakek ini memegang sebilah tombak yang
ujungnya digelantungi dua ekor ular hitam bertotol kuning! Jelas dua ekor
binatang itu sangat berbisa.
Di kalangan para tokoh silat Istana kakek ini dikenal
dengan julukan Setan Bertongkat Ular. Sebenarnya dia sendiri bukan tokoh silat
Istana. Kalau dia muncul disitu berarti ada yang mengundang atau meminta
bantuannya. Di belakang para tokoh silat Istana itu, mengurung dalam bentuk
lingkaran puluhan perajurit.
"Hebat, mereka berhasil mengejar dan memergoki
diriku dalam waktu sangat cepat..." kata Wiro dalam hati. Di jurusan lain
tegak satu sosok tinggi besar berjubah putih menjeia tanah. Di atas kepalanya
ada sebuah tudung tinggi berlapis kain hitam hingga kepala dan sebagian
wajahnya tertutup tidak terlihat, tidak bisa dikenali. Sambil mendugaduga siapa
adanya orang ini Wiro melirik ke samping kiri. Darahnya tersirap. Yang tegak
disitu ternyata adalah Luhjahilio, tokoh jahat Negeri Latanahsilam. Rambutnya
yang hitam riap-riapan menutupi sebagian wajahnya yang hancur menyeramkan.
Potongan tangan kanannya masih menempel di atas keningnya.
"Jahanam satu ini ternyata ikut terpesat ke Tanah
Jawa. Dia muncul sendirian, dimana gendaknya bernama Lajahilio." Wiro
sempatsempatnya berkata dalam hati. Wiro melirik kembali pada si tinggi besar
bertudung tinggi dengan lapisan kain hitam.
"Aku rasa-rasa bisa menerka bangsat satu ini.
Jangan-jangan...." Masih ada satu orang lagi yang tidak dikenal Wiro.
Orang ini berdiri di sisi kanan Luhjahilio. Dia adalah seorang kakek berwajah
bersih, mengenakan pakaian ringkas serba biru. Wiro tidak mengenal orang ini.
Dia menganggap kakek berpakaian serba biru ini adalah salah satu tokoh silat
kaki tangan Istana. Sebaliknya dengan si nenek muka setan Gondoruwo Patah Hati.
Kalau sebelumnya dia tenang-tenang saja tapi darahnya jadi tersirap ketika
melihat kakek berpakaian biru itu. Orang ini bukan lain adalah Rana Suwarte,
lelaki yang dimasa mudanya menyukai dirinya. Bahkan belum lama ini muncul
bersama ayah angkatnya Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai meminta agar si
nenek mau menikah dengan kakek bernama Rana Suwarte itu,
"Heran, mengapa dia bisa muncul bersamasama orang
Kerajaan?" pikir Gondoruwo Patah Hati. Si nenek tidak mengetahui, sejak
niat baiknya ditolak, Rana Suwarte telah menanam kebencian teramat besar
terhadap Gondoruwo Patah Hati. Dia sudah punya niat jahat. Kalau dia tidak bisa
mendapatkan Ning Intan Lestari alias Gondoruwo Patah Hati, maka orang lain yang
dicintai Ning Intan Lestari akan dicelakainya hingga tidak dapat pula memiliki
si nenek. (Baca Episode sebelumnya berjudul "Gondoruwo Patah Hati")
Seperti diketahui, orang yang diincar dan hendak dicelakai Rana Suwarte adalah
Naga Kuning. Ketika dia mendengar kabar pasukan Kerajaan hendak menangkap
Pendekar 212 yang diketahuinya adalah sahabat dekat Naga Kuning, maka untuk
menyirap kabar dimana beradanya Naga Kuning dia bergabung dengan pasukan
Kerajaan. Bagaimanapun si nenek terkejut melihat munculnya Rana Suwarte di
tempat itu namun dia segera dapat menguasai diri. Berdiri saling memunggung
dengan Pendekar 212 si nenek berbisik.
"Aku tidak ada permusuhan dengan orang-orang ini.
Lebih baik aku angkat kaki dari sini. Apakah kau sanggup menghadapi mereka
seorang diri?"
"Nek, aku tak mau melibatkan dirimu dalam
urusanku. Orang-orang Kerajaan ini rupanya keras kepala. Mereka pasti datang
dengan segudang fitnah tuduhan. Apalagi sebeiumnya aku telah membunuh dua orang
pentolan mereka. Momok Dempet Tunggul Gono dan Iblis Batu Hitam. Kalau kau mau
pergi cepatlah berlalu. Aku ucapkan selamat jalan padamu. Jika umurku panjang
aku akan mencarimu untuk mendengar kelanjutan kisahmu yang tadi terputus. Kalau
umurku pendek, harap kau mau menunggu diriku di emperan neraka. Terus terang
aku belum tentu bakalan masuk sorga! Ha... ha... ha!" Si nenek Gondoruwo
Patah Hati ikut tertawa mengekeh mendengar ucapan Pendekar 212 itu. Lalu dia
berkata.
"Wiro, tadi aku hanya bergurau. Kau jangan
khawatir. Waiau kita baru saja bertemu tapi kita telah menjalin persahabatan.
Ketika seorang sahabat dalam kesulitan dan bahaya besar, masakan aku tidak tahu
diri meninggalkanmu begitu saja. Aku akan tetap bersamamu di sini."
"Terima kasih Nek. Wajahmu memang seperti setan.
Tapi seperti yang aku bilang hatimu putih bersih, tu!us dan lebih baik dari
seorang bidadari! Walau cuma bidadari kesasar!"
"Sialan kau!" Si nenek memaki tapi dia
keluarkan suara tawa panjang mengikik.
"Anak sableng, kau dengar baik-baik. Dalam
menghadap orang-orang ini, kalau mau sama-sama selamat kau harus ikuti apa yang
aku bilang."
"Cepat bilang Nek. Patih Kerajaan kulihat sudah
memberi isyarat pada beberapa tokoh silat di dekatnya. Agaknya mereka segera
akan bergerak," kata Wiro pula.
"Keluarkan kapak dan batu saktimu! Begitu mereka
menggebrak hantam dua kali dengan lidah api. Arahkan serangan pertama pada
kakek yang memegang tombak ular. Saat ini dia yang paling berbahaya. Serangan
kedua terserah kau mau melabrak siapa saja tapi usahakan lidah apimu melewati
atas bahu kananku!"
"Aku akan lakukan Nek," kata Wiro walau
dalam hati dia bertanya mengapa si nenek meminta dia melakukan hal yang
terakhir diucapkannya. Dengan cepat Wiro mengeluarkan Kapak Maut Naga Geni 212
dan batu hitam.
"Satu lagi, dengar apa yang aku bilang. Kita
tidak perlu berlaku bodoh menghadapi orang-orang gila ini sampai hidup mati di
tempat ini. Kita yang hidup, mereka yang mati! Begitu aku melihat kesempatan
aku akan membawamu keluar dari tempat celaka ini. Tapi kau harus memberi
pelajaran pada salah satu dari mereka. Siapa yang akan kau pilih?"
"Patih Kerajaan. Selo Kaliangan!" jawab
Wiro.
"Tepat!" kata si nenek.
"Apa yang hendak kau lakukan terhadapnya?"
"Akan kubuat dia malu seperti kejadian dengan
Hantu Muka Licin. Akan kutanggalkan celananya!" jawab Wiro. Si nenek
tersenyum.
"Boleh juga! Tapi pekerjaan itu biar aku yang
melakukan. Kau lihat saja apa yang akan aku perbuat. Hik... hik.. hik!" Si
nenek tertawa cekikikan seolah ada yang sangat lucu bakal terjadi. Sebenarnya
sejak tadi Patih Selo Kaliangan dan para tokoh silat Istana merasa sangat
jengkel, merasa dianggap remeh. Wiro dan si nenek mereka lihat saling bisik
lalu tertawa-tawa. Seolah-olah keduanya tidak takutkan bahaya dan menganggap
mereka tidak ada di tempat itu. Patih Selo Kaliangan mengangkat tangan kanan.
Para tokoh silat di kedua sisinya segera bersibak, memberi jalan sambil
sekaligus memperciut lingkar kurungan.
"Pendekar 212!" Sang Patih berseru dengan
suara besar parau membahana.
"Sekali ini kami tidak akan memintamu menyerahkan
diri hiduphidup. Kerajaan telah memutuskan untuk menghabisimu dimana saja kami
menemuimu! Namun sebelum riwayatmu kami tamatkan, kami melihat ada seorang
tokoh bersamamu. Kalau aku tidak salah menduga, orang disampingmu adalah nenek
berjuluk Gondoruwo Patah Hati. Benar?!"
"Tanya saja sendiri langsung pada orangnya!
Mengapa malu-malu kucing. Dia kan bukan seorang gadis cantik! Mengapa bertanya
padaku?!" Wiro menyahuti setengah mengejek.
"Hik... hik... hik!" Gondoruwo Patah Hati
tertawa cekikikan mendengar ucapan Wiro barusan. Merah padam muka Patih
Kerajaan.
"Gondoruwo Patah Hati, kami masih mau menghormati
dirimu. Harap kau segera tinggalkan tempat ini!"
"Aku memilih tetap berada di tempat ini. Agaknya
di sini akan banjir darah. Ini memang yang aku tunggu. Gondoruwo sudah lama
tidak minum darah segar! Hik... hik... hik!"
"Kau rupanya sengaja memilih mati! Jangan
menyesal kalau nasibmu lebih buruk dari pemuda itu!" kata Patih Kerajaan.
"Intan!" tiba-tiba Rana Suwarte berseru.
"Jangan jadi orang toloi! Lekas tinggalkan tempat
ini!" Si nenek menyeringai, memandang pada kakek bermuka jernih itu lalu
menjawab.
"Rana Suwarte!" si nenek berucap. Wiro
kaget. Tidak mengira kalau kakek yang ditegur itu adalah Rana Suwarte yang
sebelumnya ditanyakan si nenek. Dalam hati Wiro menduga, bukan mustahil memang
kakek satu ini adalah kekasih di masa muda Gondoruwo Patah Hati. Sementara itu
dengan tenang si nenek lanjutkan ucapannya.
"Aku tidak tahu sejak kapan kau jadi kaki tangan
Kerajaan. Kau akan lihat! Siapa yang toloi antara kami berdua dengan kalian
semua!" Habis berkata begitu si nenek tusukkan sikut kanannya ke punggung
Wiro. Inilah tanda yang ditunggu murid Sinto Gendeng. Pendekar 212 serta merta
berbalik. Dua tangan yang memegang batu dan kapak bergerak cepat. Begitu dua
benda sakti itu beradu keras, lidah api menyembur dahsyat, berkiblat ke arah
Setan Bertongkat Ular. Tidak mengira akan dijadikan korban serangan mendadak
begitu rupa kejut kakek berpipi cekung ini bukan alang kepalang. Tapi sebagai
seorang tokoh silat luas pengalaman dia cepat menguasai diri.
"Wusss!"
Lidah api menyambar di bawah kakinya, nyaris
menghanguskan ujung kaki celananya. Sambil melompat ke udara si kakek bergigi
tonggos ini berteriak marah. Dia tusukkan tongkatnya ke arah Wiro. Dua ekor
ular hitam bertotol kuning yang sejak tadi meiingkar di ujung tombak keluarkan
suara mendesis lalu laksana anak panah melesat ke arah Pendekar 212. Pada saat
itu pula dibawah pimpinan Patih Selo Kaliangan, para tokoh silat Istana segera
menggebrak menyerbu ke arah dua orang musuh di tengah kalangan pertempuran.
Kebanyakan dari mereka mengandalkan tangan kosong. Hanya Pendekar Keris Kembar
Jalak Kumboro yang menghunus dua bilah kerisnya. Sepasang senjata ini memancarkan
sinar hitam angker pertanda mengandung kekuatan hebat serta racun jahat.
"Serangan kedua!" Gondoruwo Patah Hati
berteriak.
Wiro tahu apa yang harus dilakukannya. Untuk ke dua
kali batu hitam dipukulkan ke mata kapak sakti. Seperti yang diminta si nenek,
Wiro sengaja mengarahkan demikian rupa hingga lidah api menyambar dua jengkal
di atas bahu Gondoruwo Patah Hati. Wiro yang tidak tahu apa maksud si nenek
meminta dia berbuat begitu jadi melengak besar ketika melihat apa yang kemudian
terjadi.
Pada saat lidah api tepat di atas bahunya, tanpa
menoleh Gondoruwo Patah Hati angkat tangan kanannya. Saat itulah Wiro melihat
bagaimana lima jari tangan kanan si nenek sampai ke kuku berubah menjadi sangat
merah seperti bara api. Seolah menyambut sebuah bola yang dilemparkan Gondoruwo
Patah Hati menyambar ujung lidah api. Dia kini seolah memegang pangkal sebuah
cemeti. Didahului pekikan keras si nenek memutar tangannya. Lidah api yang
keluar dari gesekan batu dan kapak, melesat ke udara, mengeluarkan
ledakan-ledakan dahsyat, berputar ganas dalam bentuk lingkaran lalu menyambar
ke arah orangorang yang datang menyerang.
Para penyerang mengeluarkan seruan kaget tertahan.
Pendekar Keris Kembar terpaksa lepaskan salah satu kerisnya yang dihantam api
dan berubah menjadi besi bangkok mengepuikan asap. Ketika diperhatikan
tangannya ternyata merah melepuh. Patih Kerajaan melompat mundur selamatkan
diri. Setan Bertongkat Ular yang paling kaget dan kecut diantara semua
penyerang. Ketika dua ekor ularnya melesat ke arah Wiro, ular pertama terpental
dihantam lidah api yang datang berputar. Si kakek bermulut tonggos menggerung
ketika melihat bagaimana ularnya itu kemudian jatuh menggeletak di tanah,
berubah menjadi daging dan tulang kering hangus!
Belum habis kejut amarahnya, di atas sana si nenek
melayang menyambar ular kedua dengan tangan kiri. Lalu dengan tiga kali
berjungkir balik di udara, ketika sampai di tanah tahu-tahu dia sudah berada di
depan sosok Patih Selo Kaiiangan. Dengan tangan kanannya si nenek menarik
pinggang celana merah sang putih sementara tangan kirinya kemudian memasukkan
ular hitam ke dalam celana. Karuan saja Patih Selo Kaiiangan menjeritjerit dan
lari menghambur pontang panting tidak karuan. Carut marut ikut berhamburan
dalam jeritannya.
"Celaka!" ujar Setan Bertongkat Ular.
Melihat apa yang terjadi dengan Patih Kerajaan kakek
tonggos ini segera berteriak.
"Selamatkan Patih! Ular itu berbisa mematikan!
Selamatkan Patih!" Para tokoh silat Istana yang masih belum hilang kaget
masing-masing kini jadi tersentak kaget mendengar teriakan Setan Bertongkat
Ular dan menyaksikan apa yang terjadi dengan Patih Kerajaan.
Saat itu mereka melihat, dalam takutnya Patih Kerajaan
tidak sadar lagi apa yang dilakukannya. Sang patih membuka celananya. Lalu
dalam keadaan telanjang di sebelah bawah dia lari melompat-Iompat tak perduli
lagi arah yang dituju sementara ular hitam bertotol kuning ternyata masih
melingkar di pinggangnya. Ini yang membuat sang patih terus lari sambil
berteriakteriak. Di sebelah belakang para tokoh silat mengejar, berusaha
menolong. Setan Bertongkat Ular paling depan. Dia sangat khawatir. Kalau sampai
Patih Kerajaan mati dipatuk ular berbisa itu, sedikit banyak dia akan
dimintakan pertanggungan jawab!
Para tokoh silat itu tidak lagi memperdulikan Wiro dan
si nenek muka setan saking takutnya akan malapelaka besar mengancam sang Patih
Kerajaan, Gondoruwo Patah Hati tertawa cekikikan. Hatinya puas menyaksikan
semua itu. Dia memandang pada Wiro.
"Anak muda malam ini aku gembira sekali, Cuma
sayang waktunya singkat. Lain hari aku akan mencarimu lagi untuk meneruskan
berbincang-bincang!"
"Nek, kau mau kemana! Tunggu dulu!" Wiro
memanggil. Si nenek sudah berbalik, berkelebat ke kanan. Saat itu juga delapan
orang prajurit segera menghadang.
"Kalian mencari mati!" teriak Gondoruwo
Patah Hati. Tangan dan kakinya bergerak. Delapan prajurit terpekik, mental dan
berkaparan di tanah. Wiro masih berusaha mengejar. Tapi si nenek sudah lenyap
ditelan kegelapan. Wiro menggaruk kepala.
"Dari pada urusan jadi panjang lebih baik aku
juga minggat saja dari sini!" Lalu murid Sinto Gendeng berkelebat pula
meninggalkan tempat itu. Di satu tempat dia hentikan larinya, tertegun sejenak
sambil usapusap dagunya. Wiro ingat sesuatu dan bicara sendiri dalam hati.
"Ketika nenek itu berbalik hendak berkelebat
pergi, jubahnya sebelah bawah tersingkap sedikit. Aku sempat memperhatikan.
Sepasang betis itu. Bagus dan putih. Nenek seperti dia mana mungkin punya betis
seperti itu. Ah...." Wiro garuk-garuk kepala.
"Dia menanyakan Naga Kuning. Apa hubungan si muka
setan ini dengan bocah konyol sialan itu?" Beberapa hari kemudian tersiar
kabar bahwa Patih Kerajaan berada dalam keadaan sakit keras. Kalaupun dia bisa
disembuhkan maka dia akan cacat seumur hidup. Cacatnya ini ialah berupa derita
lemah syahwat seumur hidup akibat patukan ular berbisa yang bersarang sejengkal
di bawah pusarnya. Setan Bertongkat Ular yang memiliki ular lenyap entah
kemana. Sementara Pendekar 212 Wiro Sableng dan Gondoruwo Patah Hati menjadi
orang buronan yang dicari sampai ke pelosok Kerajaan, ditangkap hidup atau
mati!
GEROBAK yang ditarik dua ekor kuda besar tidak bisa
bergerak cepat di jalan berbatubatu dan banyak lobangnya itu. Empat orang gadis
jelita berada di atas gerobak. Yang bertindak sebagai sais adalah dara
berpakaian ringkas biru berbunga-bunga kuning. Rambutnya yang panjang hitam
berkibar-kibar ditiup angin. Tanpa dandanan pipi dan bibirnya kelihatan merah
segar. Walau letih, senyum simpul selalu menyeruak di wajahnya. Gadis ini
adalah Puti Andini, pemegang sebilah pedang sakti keramat bernama Pedang Naga
Suci 212, merupakan cucu Tua Gila, puteri dari Andam Suri, salah seorang tokoh
silat Pulau Andalas yang pernah membuat heboh rimba persilatan tanah Jawa
beberapa waktu lalu. (Baca rangkaian kisah "Tua Gila Dari Andalas"
terdiri dari 11 Episode)
Selain pedang sakti, Puti Andini juga memiliki senjata
lain yang aneh, yakni tujuh buah payung. Tujuh payung itu berada dalam satu
keranjang besar dan saat itu diletakkan di bagian belakang gerobak. Di sebelah
Puti Andini, agak terkantuk-kantuk duduk si jelita berkulit putih berlesung
pipit Anggini. Di lehernya melingkar sehelai selendang ungu. Pada salah satu
ujung selendang terdapat guratan angka 212 yang pernah dibuat Wiro sebagai
kenangkenangan dan satu pertanda bahwa diantara mereka terdapat jalinan
hubungan yang lebih erat dari hanya persahabatan biasa.
Seperti diketahui Dewa Tuak, guru Anggini begitu ingin
muridnya itu berjodoh dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Tetapi sampai sebegitu
jauh niat baiknya itu tidak kesampaian karena kalau sudah sampai kepada hal
yang satu itu, Wiro berusaha menjauh menjaga jarak. Anggini sendiri yang
tadinya begitu mengasihi Wiro, lamalama menyadari dan pasrah bahwa dia ataupun
gurunya tidak bisa memaksa Wiro untuk memenuhi keinginan itu. Sedang Sinto
Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro selalu ayem-ayem saja mengenai perjodohan
muridnya dengan murid Tua Gila.
Di bagian belakang kereta, dua orang gadis cantik
lainnya berbaring di atas tumpukan jerami kering. Yang satu adalah Ratu Duyung
dan satunya lagi bukan lain Bidadari Angin Timur. Kalau Bidadari Angin Timur
saat itu bisa tertidur pulas, sebaliknya Ratu Duyung tidur-tidur ayam. Mata
memang terpejam tapi pikiran kemana-mana. Empat gadis cantik itu tengah dalam
perjalanan menuju Gunung Gede. Perjalanan jauh itu didorong oleh apa yang telah
mereka alami sebelumnya yang membuat mereka menjadi penasaran besar. Selain itu
keempatnya yang sama-sama mengasihi Pendekar 212 Wiro Sableng ingin mengetahui,
ingin mengungkap rahasia apa sebenarnya yang telah terjadi dengan sang
pendekar.
Apa benar Wiro telah menemui ajal? Seperti diceritakan
sebelumnya (Baca "Tiga Makam Setan.") di makam pertama yang terletak
di pekuburan dekat Candi Kopeng, ketika makam dibongkar, mereka menemukan
sepucuk surat aneh. Dalam surat itu tertera tulisan berbunyi:
"Selamat Datang Di Makam Setan Pertama. Kalian
Ditunggu Di Makam Setan Kedua."Jengkel dan marah serta penasaran besar,
keempat gadis kemudian pergi menyelidik makam ke dua yang terletak di pekuburan
Banyubiru, tak jauh dari telaga Rawapening. Di pekuburan ini mereka memang
menemukan satu makam dengan papan nisan bertuliskan.
"Disini Dimakamkan Wiro Sableng – Pendekar
212."Tetapi ketika rnakam itu dibongkar mereka hanya menemukan sebuah peti
besi karatan. Begitu peti dibuka di dalamnya terdapat selembar kertas yang ada
tulisan berbunyi:
"Selamat Datang Di Makam Setan Kedua. Kalian
Memang Hebat. Kalian Ditunggu Di Makam Setan Ketiga. Di Puncak Gunung
Gede."(Baca Episode sebelumnya, berjudul "Roh Dalam Keraton")
Semakin besar amarah, kejengkelan dan rasa penasaran empat gadis itu, semakin
kuat pula dorongan dalam diri mereka untuk menyelidik tuntas makam ke tiga.
Walau Gunung Gede sangat jauh, namun empat gadis cantik memutuskan untuk
berangkat ke sana.
"Bagaimana kalau sampai di puncak Gunung Gede
kita menemukan Makam Ke Tiga tapi lagi-lagi isinya hanya surat sialan seperti
dalam dua makam sebelumnya?" Ratu Duyung memecahkan kesunyian dalam
perjalanan.
"Berarti sia-sia belaka perjalanan kita sejauh
ini."
"Terus terang," Anggini menyahuti ucapan
Ratu Duyung.
"Dalam hatiku juga ada perasaan seperti yang
barusan kau ucapkan. Namun jika kita tidak menyelidik, kita tidak tahu apa arti
semua kejadian ini. Kita tidak dapat memastikan apakah Wiro benarbenar sudah mati
atau masih hidup. Kalau mati dimana kuburnya, kalau masih hidup dimana
beradanya. Lalu aku berpikir, Gunung Gede adalah tempat kediamannya Sinto
Gendeng, guru Pendekar 212. Siapa berarti mati berbuat kurang ajar di tempat
itu?" Tak ada yang bicara. Setelah lama saling berdiam diri akhirnya Puti
Andini membuka mulut.
"Anggini, jalan ini seperti tidak ada ujungnya.
Menurutmu berapa lama lagi kita akan sampai ke Gunung Gede?" Anggini
memandang ke arah barat, memperhatikan kawasan di sebelah timur baru menjawab.
"Masih cukup jauh. Paling cepat dua hari lagi
baru kita sampai di tujuan. Itupun kalau kita bisa mengganti dua ekor kuda
penarik gerobak dengan kuda-kuda baru yang masih segar."
"Menurutmu apakah Sinto Gendeng ada di tempat
kediamannya saat ini?" bertanya lagi Puti Andini.
"Nenek satu itu sulit dipastikan dimana
beradanya. Kalaupun dia berada di Gunung Gede, pertemuan dengan dirinya kurasa
bukan satu hal menyenangkan. Bicaranya tak karuan, terkadang kasar. Ketawa
cekikikan tak ada ujung pangkalnya. Dan bau pesing tubuhnya itu. Hemm.... Asal
tahan saja...."
"Jangan kau berucap begitu. Siapa ta iu kelak dia
bakal menjadi mertuamu!" kata Puti Andini pula. Sesaat wajah Anggini jadi
kemerah-merahan lalu gadis ini tertawa lepas sekedar untuk menenangkan debaran
dadanya. Di sebelah belakang Bidadari Angin Timur yang rupanya sudah terbangun
dan sempat mendengar ucapan Puti Andini itu berpura batuk-batuk sementara Ratu
Duyung cuma senyumsenyum.
"Aku masih merasa kalau perjalanan kita ini sejak
siang tadi ada yang mengikuti," Anggini mengalihkan pembicaraan.
"Kalau sampai sore memasuki malam kita masih
diikuti, kita harus melakukan sesuatu. Mungkin sekali si penguntit punya maksud
tidak baik dan baru akan dilaksanakan pada malam hari."
"Setiap orang yang mengikuti orang lain secara
sembunyi-sembunyi biasanya memang punya niat buruk," kata Bidadari Angin
Timur. Dia berpaling pada Ratu Duyung.
"Sahabatku Ratu Duyung, kurasa sudah saatnya kau
mempergunakan ilmu kesaktianmu, melihat dari kejauhan." Ratu Duyung yang
tengah enak-enakan berbaring di atas tumpukan jerami kering menggeliat, lalu
mengambil sikap duduk.
Dia mulai mengerahkan ilmu kesaktian yang bernama
Menembus Pandang. Dengan ilmu ini dia bisa melihat sesuatu benda di kejauhan,
sekalipun benda itu terhalang oleh benda lain. Dalam keadaan duduk, Ratu Duyung
pasang telinganya untuk mendengar dan menentukan dimana beradanya orang yang
mengikuti. Setelah dia dapat memperkirakan arah sasaran, sang Ratu arahkan
kepalanya ke tempat itu. Darah dan hawa sakti dialirkan ke bagian mata, lalu
mata dikedipkan dua kali berturut-turut. Anggini, Bidadari Angin Timur dan Puti
Andini memperhatikan, menunggu apa yang bakal dikatakan Ratu Duyung. Beberapa
saat kemudian Ratu Duyung mulai membuka mulut, memberitahu pada tiga gadis
lainnya.
"Yang mengikuti kita seorang penunggang kuda.
Warna kudanya kurang kentara, tapi mungkin sekali coklat. Orangnya masih muda,
raut wajahnya...." Ratu Duyung terdiam. Tiga gadis menunggu. Puti Andini
tidak sabaran.
"Raut wajahnya bagaimana?" Gadis ini
bertanya. Bidadari Angin Timur memperhatikan mimik wajah sang Ratu. Dalam hati
dia membatin.
"Ada sesuatu yang tidak mau dikatakannya. Sengaja
disembunyikan."
"Raut wajahnya tidak begitu jelas. Orang ini
mengenakan baju kuning, bercelana hitam. Dia berada kira-kira dua puluh tombak
di balik pepohonan sebelah kiri kita. Mengikuti perjalanan kita sejajar tapi
agak sedikit ke belakang."
"Kita harus memancingnya keluar," kata
Bidadari Angin Timur pula.
"Aku mau lihat tampang manusia itu! Yang lebih
penting mengetahui apa maksudnya mengikuti kita. Kita semua harus waspada
bersiapsiap. Segala sesuatu tidak terduga bisa saja terjadi."
"Bagaimana kita akan memancing orang itu?"
tanya Anggini. Bidadari Angin Timur memandang ke jalan di depannya sambil
mulutnya berucap.
"Anggini, mulailah berteriak memakiku! Aku akan balas memaki! Puti Andini dan Ratu Duyung berada di pihakku, ikut memaki Anggini. Di pengkoian jalan sana Puti Andini hentikan gerobak. Kita turun berlompatan. Pura-pura berkelahi. Kita bertiga purapura kalah dan bergelatakan pingsan di jalanan. Aku rasa setelah itu si penguntit pasti akan keluar unjukkan diri."
"Anggini, mulailah berteriak memakiku! Aku akan balas memaki! Puti Andini dan Ratu Duyung berada di pihakku, ikut memaki Anggini. Di pengkoian jalan sana Puti Andini hentikan gerobak. Kita turun berlompatan. Pura-pura berkelahi. Kita bertiga purapura kalah dan bergelatakan pingsan di jalanan. Aku rasa setelah itu si penguntit pasti akan keluar unjukkan diri."
"Usulmu boleh juga," kata Puti Andini lalu
dia memberi isyarat pada Anggini.
Murid Dewa Tuak ini mulai beraksi. Dia berdiri di atas
gerobak. Menunjuk ke arah Bidadari Angin Timur dan mulai berteriak memaki-maki
tak karuan. Di bagian belakang gerobak Bidadari Angin Timur kelihatan meradang,
bangkit berdiri, bertolak pinggang lalu balas memaki. Di sebelahnya Ratu Duyung
ikut berteriak sambil acung-acungkan tangan ke arah Anggini. Di kelokan jalan
Puti Andini hentikan gerobak lalu ikut pula memaki Anggini. Seperti yang
direncanakan ke empat orang itu kemudian melompat dari atas gerobak. Lalu
terjadilah perkelahian seru tiga lawan satu.
Anggini bergerak cepat, tubuhnya berkelebat kian
kemari. Terdengar suara bak-buk bak-buk. Lima jurus kemudian Bidadari Angin
Timur keluarkan pekik keras lalu roboh terguling di tanah. Menyusul Puti
Andini, terjengkang di tanah. Setelah itu Ratu Duyung yang seo!ah-olah kena
hantaman tendangan kaki kanan Anggini, menjerit terguling-guling di tanah lalu
terkapar tak berkutik lagi. Anggini tegak berkacak pinggang. Wajahnya tampak
bengis memandangi ke tiga orang gadis yang bertebaran di tengah jalan itu. Matanya
melirik ke kanan, ke arah deretan pohon-pohon di pinggir jalan. Bidadari Angin
Timur buka pula matanya sedikit, mengintai ke arah yang sama.
"Celaka! Orang itu tidak muncul! Jangan-jangan
dia tahu kalau mau dipancing! Apa yang hams aku lakukan?" Hendak bertanya
pada Bidadari Angin Timur tentu saja tidak mungkin. Anggini memutar otaknya.
Tiba-tiba dia jatuhkan diri di tanah, memeriksa satu persatu tiga gadis yang
bergeletakan. Setiap dia habis memeriksa Anggini berteriak keras.
"Sahabat-sahabatku! Aku tidak bermaksud membunuh
kalian semua! Aku tidak bermaksud menurunkan tangan jahat! Aku tak sadar tadi
telah mengeluarkan pukulan dan tendangan beracun! Aku berdosa besar! Tuhan
ampuni aku!" Anggini lalu tekap wajahnya, keluarkan ratap tangis memilukan
tapi sambil memasang telinga dan melirik lewat selasela jari tangan.
Kali ini pancingan berhasil. Dari balik deretan
pohon-pohon di kanan jalan muncul kepala seekor kuda coklat dengan warna putih
di bagian hidungnya. Tapi kuda itu sama sekali tidak ada penunggangnya! Anggini
kerenyitkan kening. Alisnya yang hitam lengkung mencuat ke atas.
"Ada kuda tak ada orangnya. Jangan-jangan Ratu
Duyung salah melihat. Atau orang yang hendak dipancing sudah
mengetahui...." Selagi Anggini membatin seperti itu tiba-tiba di
belakangnya ada suara orang berucap.
"Tendangan beracun! Sungguh luar biasa! Baru hari
ini aku menyaksikan! Tiga gadis cantik menjadi korban. Sungguh
disayangkan." Kaget Anggini bukan kepalang. Bagaimana mungkin dia tidak
mampu mendengar atau mengetahui kalau ada orang mendatanginya dari belakang.
"Ilmu kepandaianku yang sudah tidak berguna atau
ilmu orang yang jauh lebih tinggi!" pikir sang dara lalu dia cepat
menoleh.
Kejut si gadis mendadak sontak berobah menjadi
ketercengangan bercampur kagum. Di hadapan Anggini berdiri seorang pemuda
berpakaian kuning celana hitam. Warna pakaian ini sesuai dengan yang dilihat
Ratu Duyung lewat ilmu "Menembus Pandang" dan diceritakan pada
kawankawannya. Pemuda ini bertubuh tinggi tegap. Ketika memandang wajahnya, inilah
yang membuat Anggini menjadi kagum. Ternyata pemuda ini berparas cakap. Ratu
Duyung, Bidadari Angin Timur dan Puti Andini yang sejak tadi berpura-pura
menggeletak mati, diam-diam membuka mata masing-masing.
Seperti Anggini, tiga gadis cantik ini sama-sama
terkesima melihat kegagahan dan ketampanan si pemuda serta potongan tubuhnya
yang tinggi tegap. Anggini dan tiga temannya sama sekati tidak menduga kalau
orang yang selama ini mengikuti mereka ternyata adalah seorang pemuda begitu
gagah. Bidadari Angin Timur kini mengerti mengapa sewaktu mengerahkan ilmu
"Menembus Pandang" Ratu Duyung tidak berterus terang mengatakan raut
wajah orang yang mengikuti rombongan para gadis cantik itu. Pertanda sang Ratu
yang melihat pertama kali dan pertama kali pula terguncang hatinya. Melihat
wajah setampan itu mustahil pemuda seperti ini punya niat jahat terhadap
mereka. Rasa marah yang sebelumnya ada dalam diri empat gadis itu menjadi
sirna. Rasanya tidak ada guna mereka meneruskan berpura-pura. Bidadari Angin
Timur bergerak bangkit. Ratu Duyung melompat. Puti Andini berguling lalu
meloncat tegak. Anggini berdiri tertegun. Pemuda berpakaian kuning terkejut.
Matanya membesar memandangi ke empat gadis itu.
"Tidak kusangka," katanya.
"Jadi kalian memperdayaiku! Aneh! Mengapa?"
Puti Andini maju selangkah.
"Tadinya kami mengira kau mengikuti kami secara
diam-diam dengan maksud jahat...."
"Hemmm.... Itu tadinya, sekarang bagaimana?
Apakah kalian semua jadi berubah pikiran?" tanya si pemuda sambil senyum
gagah tersimpul di bibirnya. Empat gadis terdiam. Si pemuda tertawa lebar.
"Sebenarnya aku memang mengikuti perjalanan
kalian sejak tengah hari tadi...."
"Kalau begitu..." ujar Bidadari Angin Timur.
"Tapi aku tidak membekal niat jahat. Malah
berjaga-jaga sepanjang jalan. Jika saatnya sudah tiba aku akan muncul, menemui
kalian untuk memberitahu agar berhati-hati."
"Memberitahu agar berhati-hati? Memangnya ada
apa?" tanya Puti Andini.
"Ada serombongan penjahat menguntit kalian
berempat. Mereka adalah sempalan rampok hutan Roban yang malang melintang mulai
dari perbatasan sampai ke pendalaman sini. Saat ini mereka masih mengikuti
kalian. Sebentar lagi mereka pasti akan muncul...."
"Cuma perampok siapa takut!" kata Bidadari
Angin Timur.
"Aku memang melihat...." si pemuda tampan
berkata.
"Melihat apa?" bertanya Ratu Duyung.
"Dibalik kecantikan kalian, pasti tersembunyi
satu kekuatan hebat, kesaktian tinggi. Aku mengagumi keberanian kalian. Hanya
saja jika kalian meneruskan perjalanan berlakulah hati-hati. Rombongan perampok
itu jumlahnya cukup banyak. Mereka kejam-kejam dan.... Tentu saja memiliki
kepandaian tinggi. Aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama. Sebenarnya
tujuanku adalah ke selatan...." Pemuda gagah itu memutar tubuh, segera
hendak melangkah ke arah kuda coklat.
"Tunggu!" Puti Andini berseru.
"Kau belum menerangkan siapa dirimu. Siapa
namamu." Si pemuda tersenyum.
"Apakah perlu aku menerangkan diri dan
namaku?"
"Tentu saja perlu. Karena bukan mustahil kau
tahu-tahu malah pimpinan perampok yang kau katakan itu." Yang berkata
adalah Bidadari Angin Timur. Kembali si pemuda tersenyum. Namun sepasang
matanya menatap tajam ke arah Bidadari Angin Timur. Gadis berambut pirang
dengan panjang sepinggang ini balas memotong namun kemudian alihkan
pandangannya ke jurusan lain seolah tidak kuasa hatinya bertahan memandang
terus.
"Di tempat sunyi dan terpencil seperti ini, sudah
pada tempatnya kalian curiga pada siapa saja. Aku senang karena kalian ternyata
bukan saja menunjukkan sikap berhati-hati, tetapi juga cerdik," si pemuda
memuji sambil layangkan senyum lalu meneruskan.
"Namaku Damar Wulung. Aku berasal dari timur. Aku
dalam perjalanan menuju pantai selatan. Di satu tempat aku memergoki
serombongan perampok. Rupanya salah seorang mata-mata mereka telah melihat rombongan
kalian. Mata-mata ini memberitahu pada pimpinan rampok. Lalu bersama anak
buahnya pimpinan rampok itu mengejar kalian...."
"Kalau memang ada serombongan oi-ang jahat hendak
menjarah kami...." Ucapan Ratu Duyung terputus karena dipotong oleh pemuda
bernama Damar Wulung.
"Tunggu, harap kalian menyadari hal ini. Mereka
bukan cuma ingin menjarah harta benda berharga milik kalian, tapi mereka juga
punya maksud keji dan mesum. Kurasa aku tidak perlu menceritakan
sejelas-jelasnya...."
"Kami tidak takut!" jawab Ratu Duyung.
"Ucapanku tadi belum selesai. Kalau para perampok
itu sudah mengetahui perjalanan rombongan kami dan mengikuti, lalu mengapa
sampai saat ini mereka tidak muncul? Padahal kawasan ini sepi sekali."
"Pertanyaanmu itu merupakan juga pertanyaanku.
Itu sebabnya sejak siang tadi aku sengaja mengikuti kalian dalam jarak lebih
dekat. Sebelum pergi, bolehkan aku mengetahui nama kalian satu persatu? Siapa
tahu kelak dikemudian hari kita bertemu lagi dan aku tidak keliru menyebut
nama."
"Aku Puti Andini," cucu Tua Gila ini yang
pertama memberitahu. Bidadari Angin Timur delikkan mata. Dia tidak suka melihat
dan mendengar Puti Andini memberitahu nama. Namun disebelahnya terdengar suara.
"Aku Anggini."
"Aku Ratu Duyung."
"Nama kalian bertiga sungguh bagus. Jangan
menyangka aku keliwat memuji atau bersikap ceriwis kalau tadi aku katakan nama
kalian sangat cocok dengan wajah kalian yang cantik jelita." Damar Wulung
memandang pada Bidadari Angin Timur.
"Lalu sahabat yang berambut pirang, siapakah namanya?"
Bidadari Angin Timur diam, tidak menjawab. Tiba-tiba ada suara berucap lantang.
"Dia calon kekasihku! Biar aku yang akan
menanyakan nama si jelita berambut pirang itu."
SESAAT kemudian melesat seorang tinggi besar, kulit
hitam, dada telanjang penuh bulu, tampang garang. Kepala ditutup dengan kain
hitam belang putih. Di lehernya tergantung kalung akar bahar. Sepanjang lengan
kiri kanan penuh dengan gelang akar bahar, mulai dari pergelangan sampai bagian
bawah siku. Hampir bersamaan dengan munculnya si garang dada berbulu ini, dari
berbagai jurusan berlompatan delapan orang berseragam hitam. Seperti orang
pertama, delapan orang ini memiliki tampangtampang seram sembrawutan serta
kotor menjijikan. Di pinggang masing-masing terselip sebilah golok besar. Pemuda
bernama Damar Wulung bertindak cepat. Dia melompat ke depan, langsung membuat
kudakuda siap untuk melindungi empat gadis cantik yang kins berada di sebelah
belakangnya. Orang bertelanjang dada menyeringai. Rahangnya digembungkan lalu
dia berucap.
"Kawan-kawan, jauh-jauh kita mengikuti tahu-tahu
ada yang mau jadi malaikat mau melindungi empat gadis incaran kita!"
"Habisi saja!" Salah seorang dari yang
delapan berteriak. Orang tadi menyeringai. Dua lengannya disilangkan.
Gelang-gelang bahar pada dua tangan itu merosot ke dekat siku. Lalu dia
gosokkan dua lengannya satu sama lain. Terdengar suara keras seperti dua potong
besi saling digesek. Hebat juga pertunjukan orang ini. Rupanya dia punya ilmu
andalan pada dua tangannya itu.
"Anak muda, menyingkirlah. Minggat dari sini!
Atau terpaksa aku yang menyingkirkan. Lalu membuat nyawamu minggat ke dalam
rimba belantara sebelah sana, menjadi setan penasaran!"
"Jangan berani macam-macam terhadap komplotan
pimpinan Burangrang alias Sepasang Gada Besil" kembali salah seorang dari
delapan lelaki garang berpakaian serba hitam berteriak. Damar Wulung berdiri
tenang, malah tersenyum.
"Sepasang Gada Besi! Aku sudah lama
mendengarjulukan itu! Kepala rampok pelarian dari hutan Roban!"
"Kurang ajar! Kau berani menghina pemimpin
kami!" Teriakan itu disertai dengan satu lompatan serta berkelebatnya
sebilah golok, memapas ke arah batang leher Damar Wulung. Tenang saja pemuda
yang diserang rundukkan kepala sambil melompat ke samping tiga langkah. Golok
berkilat lewat di samping kepalanya.
"Aku tidak begitu suka menurunkan tangan kasar
sekalipun terhadap orang-orang jahat seperti kalian. Tapi kalau kalian sampai
memaksa, ini contohnya!" Sosok Damar Wulung berkelebat lalu buukkk!
Penjahat yang tadi hendak membacok si pemuda menjerit keras. Tubuhnya mencelat
hampir dua tombak, jatuh bergedebuk di tanah dengan mata mendelik, mulut
menganga dan mengucurkan darah!
"Kau!" teriak Burangrang, kepala penjahat
berjuluk Sepasang Gada Besi.
"Yang kita...."
"Diam! Jangan banyak mulut! Lekas pergi dari
sini! Bawa semua anak buahmu!" bentak Damar Wulung. Sepasang mata
Burangrang alias Sepasang Gada Besi membeliak besar. Empat gadis memperhatikan.
Mata yang membeliak itu bukan menyatakan kemarahan tapi lebih banyak menyatakan
perasaan heran. Begitu juga tujuh orang anak buah Sepasang Gada Besi. Mereka
memandang terbelalak ke arah Damar Wulung.
"Anak muda, kalau anak buahku sampai jadi korban
ini satu hal yang aku tidak suka! Empat gadis itu bagian kami. Sebelumnya
bukankah...." Ucapan Sepasang Gada Besi terputus dan tertindih teriakan
dahsyat yang keluar dari mulut Damar Wulung. Pemuda ini melompat ke hadapan
kepala penjahat itu langsung menghantam dengan pukulan berantai.
"Kurang ajar! Kecantikan empat gadis itu rupanya
membuatmu berubah pikiran..." kata kepala rampok penuh berang.
"Duukkk... duukkkk... duukkkk!"
Tiga pukulan yang dilancarkan Damar Wulung berhasil
ditangkis Burangrang dengan dua lengannya yang sekeras batangan besi. Walau dia
tidak sampai cidera namun tubuhnya terpental jauh dan bergulingan di tanah.
Sambil melompat bangkit kepala penjahat ini berteriak.
"Anak-anak! Bunuh pemuda penipu itu!"
"Srettt!"
Tujuh golok besar dihunus berbarengan. Lalu berkelebat
ganas dalam gelapnya malam, membabat dan membacok ke arah pemuda bernama Damar
Wulung, mulai dari kepala sampai ke pinggang! Damar Wulung keluarkan suara
mendengus. Sosoknya melesat ke atas, berputar laksana gasing. Tujuh golok maut
hanya menyapu angin. Para pemiliknya kemudian berseru kaget ketika si pemuda
pergunakan badan golok sebagai injakan kaki, melompat ke udara, jungkir balik
ke bawah lalu bukk... bukk... bukkk! Tiga anak buah Burangrang Sepasang Gada
Besi mencelat, bergeletak di tanah dengan kepala hancur dimakan tendangan.
Burangrang si kepala penjahat menggerung keras. Dua bilah golok milik anak
buahnya yang berjatuhan di tanah disambarnya. Sambil berlari ke arah Damar
Wulung dia lemparkan dua golok itu. Damar Wulung berkelit, baru saja si pemuda
berhasil mengelak selamatkan diri dari sambaran dua golok terbang, Sepasang
Gada Besi sudah berada di hadapannya, langsung menggebuk ke arah kepala dan
dada. Kali ini dia kerahkan seluruh kekuatan aji kesaktiannya. Damar Wulung
gerakkan dua tangan, menangkis.
"Bukk! Bukkk!"
Empat lengan saling bentrokan.
"Kraakk! Kraakkk!"
Sepasang Gada Besi menjerit keras. Tubuhnya terlempar
jauh. Dua lengannya yang selama ini dibanggakan sebagai seatos besi patah dua.
Susah payah dia berusaha bangkit, tapi terduduk sesaat di tanah. Tubuhnya
menggigil menahan sakit. Matanya mendelik seperti mau melompat dari rongganya.
Karena lawan tadi mempergunakan kekuatan tenaga dalam sangat besar, walau hanya
merasa sakit pada dua tangannya namun Damar Wulung sempat terpental, jatuh
berlutut di tanah. Selagi dia mencoba bangun, empat anak buah Sepasang Gading
Besi sudah menyerbunya dengan golok masing-masing. Dari kiri berkelebat selarik
benda berwarna ungu. Ini adalah selendang milik Anggini.
"Plaakk! Plaakk!"
Ujung selendang menghantam wajah dua anggota penjahat.
Yang satu terguling dengan hidung remuk, satunya lagi terjengkang dengan bibir
pecah. Pada saat Anggini menghantam dua anggota penjahat dengan selendangnya,
dari jurusan lain Puti Andini tidak tinggal diam. Gadis ini menyambar salah
satu dari tujuh payung yang ada di dalam gerobak. Sesaat kemudian satu sinar
hijau bergulung di udara. Debu beterbangan, daun-daun dan semak belukar
bergoyangan. Belum tahu benda apa yang menyerang mereka, dua anak buah Sepasang
Gada Besi mendadak dapatkan tubuh mereka laksana digulung lalu diangkat ke atas
dan sesaat kemudian dibantingkan ke tanah. Lalu terdengar suara breett...
breettt!
Dua orang penjahat itu terduduk pucat ketika melihat
pakaian mereka robek besar di bagian dada, perut dan lengan. Dan ada darah
mengucur dari balik robekan-robekan itu! Puti Andini angkat tangan kanannya,
lengan diputar, lima jari digerakkan seperti menarik ke belakang. Payung hijau
yang masih berputar di udara melesat gesit, berbalik ke arah si gadis. Dengan
tangan kirinya cucu Tua Gila ini menyambar payung hijau yang tadi
dilemparkannya untuk menyerang dua orang penjahat. Damar Wulung cepat berdiri.
Di hadapan empat gadis dia membungkuk seraya berkata.
"Terima kasih, kalian telah menyelamatkan jiwaku.
Ini satu hutang besar yang tidak tahu entah kapan dapat kubayar!" Si
pemuda melirik ke arah empat penjahat yang terluka lalu berkata.
"Manusia-manusia seperti mereka, sulit
diperbaiki. Kalau tidak dihabisi bisabisa menimbulkan malapetaka lebih besar
dikemudian hari." Habis berkata begitu Damar Wulung melompat ke arah empat
penjahat. Tangan dan kakinya bekerja cepat sekali. Hanya satu kejapan saja ke
empat penjahat itu sudah bergeletakan di tanah dengan kepala hancur. Empat
gadis bergidik menyaksikan kejadian itu. Mereka terpaksa berpaling ke jurusan
lain. Di tempat lain, terbungkuk-bungkuk menahan sakit Burangrang berusaha
berdiri.
"Pemuda jahanam.... Penipu kurang ajar! Aku
bersumpah mencari dan membunuhmu!" Dalam keadaan dua lengan patah
tergontai-gontai kepala penjahat itu lari tinggalkan tempat tersebut. Tapi
Damar Wulung tidak memberi kesempatan. Dia membungkuk mengambil sebilah golok
yang tergeletak di tanah. Sekali senjata itu dilemparkan, melayang di udara
lalu menancap di punggung kiri Sepasang Gada Besi, terus menembus jantung.
Kepala penjahat ini langsung roboh dan menemui ajalnya di tempat itu juga.
"Dia sudah tidak berdaya, seharusnya tak usah
dibunuh..." berkata Ratu Duyung. Oamar Wulung berpaling, menatap wajah
sang Ratu lalu berkata.
"Sahabatku bermata biru, seperti aku bilang tadi.
Manusia jahat seperti mereka sulit diperbaiki. Apalagi yang satu itu adalah
biang menu pimpinannya. Dari pada tambah menyusahkan di kemudian hari, tidak
ada salahnya diselesaikan sekarang saja...." Damar Wulung tersenyum. Lalu
kembali dia membungkuk dan berkata.
"Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Kalian
telah menyelamatkan diriku dari serangan maut empat golok tadi...."
"Kau sendiri telah berusaha menyelamatkan kami
dari komplotan orang-orang jahat itu. Sebenarnya kami yang lebih pantas
mengucapkan terima kasih," kata Puti Andini sambil tersenyum sementara
sepasang matanya memandangi wajah si pemuda dengan bersinar-sinar. Diam-diam
Bidadari Angin Timur memperhatikan sikap dan air muka Puti Andini. Dalam hati
dia berkata.
"Aku mempunyai kesan, agaknya gadis satu ini punya
perasaan tertentu terhadap pemuda itu. Aku tidak menyalahkan. Sejak dia
mengetahui Panji pemuda yang dicintainya adalah saudara seayah, hatinya pasti
hancur. Siapa tahu kepatahan hatinya bisa terobat dengan kehadiran pemuda ini.
Tapi aku melihat beberapa keanehan. Aku perlu membicarakannya nanti dengan
teman-teman...."
"Kami akan melanjutkan perjalanan. Budi baik
pertolonganmu tidak akan kami lupakan." Yang berkata adalah Anggini. Gadis
ini melingkarkan selendang ungunya ke leher lalu naik ke atas gerobak. Ratu
Duyung menyusul, diikuti oleh Bidadari Angin Timur. Tinggal Puti Andini
sendirian. Untuk sesaat gadis ini masih berdiri di hadapan si pemuda. Bidadari
Angin Timur mendehem keraskeras. Sesaat wajah Puti Andini menjadi kemerahan.
Damar Wulung tersenyum.
"Teman-temanmu sudah menunggu," katanya.
Ketika Puti Andini naik ke atas gerobak, si pemuda menolongnya dengan sikap
penuh hormat, membuat sang dara jadi berbunga-bunga.
"Para sahabatku," Damar Wulung berkata
sambil berdiri di samping gerobak, di sisi kanan Puti Andini.
"Kalian sudah menyaksikan sendiri apa yang
terjadi. Kejahatan ada dimana-mana dan datangnya tidak terduga. Perjalanan jauh
bukan satu hal mudah. Apalagi bagi kalian dara-dara berparas rupawan. Aku punya
keinginan baik. Kaiau tidak keberatan aku bersedia mengawal kalian sampai ke
tujuan...." Puti Andini hendak menjawab. Tapi dia melihat pandangan mata
Bidadari Angin Timur yang seperti memberi isyarat. Puti Andini terpaksa batal
membuka mulut.
"Perjalanan kami tidak seberapa jauh lagi. Kami
tidak ingin merepotkanmu. Sekali lagi terima kasih...." kata Bidadari
Angin Timur. Dia memberi isyarat pada Puti Andini yang bertindak sebagai sais.
"Sahabat, kalau aku boleh tahu sebenarnya kalian
ini tengah dalam perjalanan kemana?"
"Kami tengah menuju ke Gunung Cede," Puti
Andini yang menjawab. Bidadari Angin Timur memegang bahu Puti Andini.
"Hari sudah rembang petang. Jangan sampai kita
nanti bermalam di tempat yang kurang aman...." Puti Andini sentakkan tali
kekang. Dua kuda gerakkan kaki. Gerobak mulai berjalan. Damar Wulung lambaikan
tangan. Dia bam melangkah mendekati kuda coklatnya setelah rombongan empat
gadis itu lenyap di kejauhan. Di atas gerobak untuk beberapa lamanya tak ada
yang bicara. Akhirnya Bidadari Angin Timur memecah kesunyian.
"Sebenarnya ada baiknya kalau sahabat kita Puti
Andini tadi tidak memberitahu kemana tujuan kita pada pemuda bernama Damar
Wulung itu."
"Apa salahnya? Memangnya kenapa?" tanya Puti
Andini merasa kurang senang mendengar ucapan Bidadari Angin Timur.
"Kurasa teman kita ini tertarik pada si pemuda.
Melihat sikap si pemuda aku menaruh dugaan kalau dia juga terpikat pada Puti
Andini." Yang berucap adalah Ratu Duyung. Wajah Puti Andini bersemu merah.
Kali ini dia diam saja tak menjawab ucapan orang.
"Kita tidak kenal dan tidak tahu siapa sebenarnya
pemuda itu..." berkata Bidadari Angin Timur.
"Orang telah berbuat baik. Dia menolong kita dari
tangan sembilan penjahat. Apakah hal itu tidak bisa dijadikan alasan kita
bersikap baik terhadap pemuda tadi?" Anggini keluarkan suara. Dia ingat,
sewaktu terjadi perkelahian hanya dia dan Puti Andini yang turun tangan
sementara Bidadari Angjn Timur dan Ratu Duyung diam saja. Puti Andini melirik
ke arah Bidadari Angin Timur. Ingin tahu apa yang hendak dikatakan gadis itu setelah
mendengar ucapan Anggini.
"Anggini," kata Bidadari Angin Timur.
"Apa yang kau ucapkan betul adanya. Tetapi kita
harus ingat. Kebaikan tidak beda dengan dua sisi dari satu uang logam...."
"Aku kurang mengerti. Apa maksudmu...."
"Maksudku begini. Sisi pertama, kebaikan adalah
kebaikan sejati. Sisi kedua, kebaikan yang terselubung untuk menyembunyikan
satu niat yang tidak baik."
"Lalu menurutmu pemuda tadi berada pada sisi yang
mana?" tanya Puti Adini tak tahan lagi untuk tidak bicara.
"Aku tidak tahu, tidak satupun diantara kita yang
tahu. Hidup ini penuh dengan hal tidak terduga. Itu sebabnya kita perlu
berhati-hati. Segala sesuatunya tidak boleh diungkapkan pada orang yang baru
kita kenal. Perjalanan yang kita lakukan bukan perjalanan sembarangan. Kita
tengah mencari Pendekar 212. Sebelumnya kita telah menemukan keanehankeanehan
yang menimbulkan malapetaka. Bukan mustahil pemuda tadi adalah si pembuat surat
yang kita temukan di makam pertama dan kedua...."
"Sahabatku, aku rasa kau terlalu membesarbesarkan
urusan. Tidak baik berprasangka buruk terhadap orang lain," kata Puti
Andini agak sengit.
"Berprasangka buruk demi kebaikan apa
salahnya?" tukas Bidadari Angin Timur.
"Aku tidak menyalahkan kalau mungkin kau punya
perasaan tertentu terhadap pemuda gagah tadi. Tapi ada beberapa kejanggalan
yang aku lihat sejak pemuda itu muncul pertama kali." Tiga gadis saling
pandang. Bidadari Angin Timur maklum arti pandangan itu. Mereka sulit
mempercayai ucapannya. Bidadari Angin Timur tidak perduli.
"Ketika pertama kali dia muncul, ketika kita
tanyai dia mengaku memang telah mengikuti kita secara diam-diam sejak tengah
hari. Dia sengaja tidak menampakkan diri karena katanya ada serombongan
penjahat mengincar kita. Kalau memang itu benar, mengapa dia tidak langsung
turun tangan? Sengaja menunggu para penjahat muncul di depan kita baru
melakukan sesuatu?"
"Mungkin dia sengaja hendak memperlihatkan
kepandaiannya di depan kita. Itu sebabnya dia menunggu sampai sembilan penjahat
tadi muncul melaksanakan niat kejinya," berkata Anggini.
"Bisa saja begitu," sahut Bidadari Angin
Timur.
"Namun masih ada hal lain yang menurutku bisa
lebih meyakinkan dugaanku bahwa pemuda itu sebenarnya berkomplot dengan
Sepasang Gada Besi...."
"Sulit aku mempercayai," Puti Andini kembali
memberikan tanggapan.
"Entah mengapa sejak pertama melihat pemuda itu
sahabat kita Bidadari Angin Timur bersikap ketus terhadapnya. Kalau Damar
Wulung adalah juga komplotan para penjahat itu, mengapa dia membunuhi mereka
termasuk pimpinan mereka?" Bidadari Angin Timur tersenyum lalu menjawab,
"Bisa saja. Mungkin karena ada yang hendak
ditutupi. Mungkin ada sesuatu yang bertolak belakang dengan rencana semula.
Tidakkah kalian memperhatikan bagaimana kagetnya pimpinan penjahat dan
teman-temannya ketika Damar Wulung membunuh anggota penjahat yang
pertama?" Kepala penjahat itu bahkan sempat berteriak.
"Kau...!" Lalu dia berteriak lagi "Yang
kita.... Kita berarti dia dan para anak buahnya dan termasuk Damar
Wulung". Tapi ucapan kepala penjahat itu terputus oleh bentakan Damar
Wulung.
"Aku juga mendengar Sepasang Gada Besi berkata
Empat gadis itu adalah bagian kami. Sebelumnya bukankah.... Apa arti ucapan
itu. Sebelumnya bukankah.... Mungkin saja aku keliru dan membesar-besarkan
urusan seperti kata Puti Andini. Tapi bagiku ucapan kepala penjahat itu berarti
sebelumnya terjadi sesuatu antara dia dan Damar Wulung. Sesuatunya apa memang
tidak bisa diduga. Tapi kesanku, antara Damar Wulung dengan para penjahat itu
sebelumnya pernah saling bertemu. Yang lebih jelas lagi ketika Sepasang Gada
Besi berteriak memaki Kurang ajar! Kecantikan empat gadis itu rupanya membuatmu
berubah pikiran. Tidak sampai disitu saja teman-teman. Apa kalian tidak
mendengar kemudian kepala penjahat itu berteriak marah. Anak-anak! Bunuh pemuda
penipu itu! Siapa yang menipu, siapa yang ditipu? Sebelumnya ada pertemuan,
sebelumnya ada perjanjian. Tapi Damar Wulung menyalahi perjanjian. Perjanjian
apa?" Bidadari Angin Timur angkat bahunya sendiri.
Ratu Duyung dan Anggini tidak berkata apa-apa. Mungkin
apa yang dikatakan Bidadari Angin Timur tadi mulai termakan di dalam hati dan
benak mereka. Lain halnya dengan Puti Andini yang entah mengapa menjadi kesal
terhadap Bidadari Angin Timur. Dalam hati Puti Andini berkata.
"Mungkin Bidadari Angin Timur merasa kurang
senang terhadap si pemuda, karena merasa dirinya tidak diperhatikan. Padahal
dia merasa dirinya paling cantik diantara para gadis, memiliki kelebihan yaitu
rambut pirang panjang, ditambah iekuk tubuh yang bagus. Itu sebabnya dia bicara
ketus dan selalu berprasangka buruk terhadap Damar Wulung. Hemmm.... Katanya
mencinta setengah mati pada Pendekar 212. Tapi buktinya kini hatinya
tergoda...." Diam-diam Bidadari Angin Timur memperhatikan raut wajah Puti
Andini sambil menduga-duga apa yang ada dalam pikiran gadis dari Pulau Andalas
yartg berjuluk Dewi Payung Tujuh itu. Akhirnya Puti Andini membuka mulut.
"Kalau ada kesempatan bertemu lagi dengan Damar
Wulung, akan aku cecar dia dengan pertanyaan. Apa benar memang dia telah
berkomplot dengan Sepasang Gada Besi. Apa benar dia punya niat keji terhadap
kita!" Habis berkata begitu Puti Andini mencambuk punggung dua ekor kuda.
Binatang-binatang ini berlari lebih kencang. Di antara gemeletak roda-roda
gerobak Bidadari Angin Timur menyahuti ucapan Puti Andini.
"Mudah-mudahan saja kau bisa bertemu lagi dengan
pemuda itu."
BANGUNAN tua bekas kuil di jalan yang mendaki itu
masih utuh keadaannya sehingga empat gadis cantik memutuskan untuk bermalam di
tempat itu. Ketika Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini telah tertidur
lelap karena keletihan, Puti Andini masih tergolek menelentang di dalam
kegelapan memandangi atap kuil. Entah mengapa sampai saat itu dia sulit
memicingkan mata. Bayangan wajah Damar Wulung tak putusputusnya hadir di
pelupuk matanya. Jika dicobanya memejamkan mata raut wajah pemuda itu malah
semakin jelas terlihat. Di kejauhan terdengar suara jangkrik dan binatang malam
yang mendadak putus ketika lapatlapat terdengar suara raungan anjing. Dalam
keadaan seperti itu Puti Andini tiba-tiba mencium bau sesuatu.
"Aneh, bau apa ini?" pikir sang dara.
Semakin santar bau yang dihirup semakin berat terasa
kepalanya sedang tubuhnya menjadi lemah. Sepasang matanya mendadak dilanda
kantuk berat. Puti Andini kerahkan tenaga. Dua siku ditekankan ke lantai kuil.
Perlahan-lahan dia mengangkat dada dan kepalanya sedikit. Dia melihat asap aneh
seperti tebaran kabut bergerak dari halaman terus memasuki kuil. Otak Puti
Andini masih bisa bekerja.
"Yang aku lihat bukan kabut. Kalaupun asap adanya
bukanlah asap biasa. Kepalaku tambah berat, tubuhku semakin letih, rasa kantuk
tak tertahankan. Aku harus melakukan sesuatu, kalau tidak... kurasa aku bisa
jatuh pingsan...." Cucu Tua Gila ini cepat kerahkan tenaga dalam dari
pusar ke arah dada, tenggorokan, jalan pernafasan, bagian hidung dan dua
matanya.
Lalu dia menotok dirinya sendiri pada beberapa bagian
tubuh, menjaga agar apa yang telah tercium oleh hidungnya tidak merambat masuk
ke tempat berbahaya di dalam peredaran darah. Ketika dia tengah berusaha melepas
nafas panjang, tiba-tiba di halaman kuil dia melihat satu sosok bergerak
mefangkah. Dia tidak dapat melihat jelas raut wajah orang karena selain gelap,
asap aneh menghalangi pemandangan. Puti Andini rebahkan kembali tubuhnya,
berpura-pura tidur. Dadanya bergemuruh menanti apa yang akan terjadi. Tangan
digerakkan ke pinggang dimana dia menyimpan Pedang Naga Suci 212, satu senjata
sakti mandraguna yang didapatnya di Telaga Gajahmungkur, pemberian orang sakti
setengah roh setengah manusia bernama Kiai GedeTapa Pamungkas. (Mengenai Pedang
Naga Suci 212 baca rangkaian serial Wiro Sableng berjudul "Tua Gila Dari
Andalas" terdiri dari 11 Episode)
Tetapi alangkah kagetnya gadis ini ketika dia
merasakan tangan kanannya berat, sulit digerakkan. Dicobanya menggerakkan
tangan kiri..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di
sini )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar