WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
DEBUR OMBAK memecah di pantai dan memukul lamping batu-batu karang terdengar abadi di udara pagi yang segar cerah. Kira-kira lima ratus tombak dari pantai tampaklah berdiri sebuah bangunan besar dikelilingi tembok tinggi sepuluh tombak. Baik-bangunan maupun temboknya seluruhnya berwarna merah.
Di daerah pantai seperti itu biasanya hampir tak
pernah ditumbuhi pohon-pohon lain selain pohon kelapa. Namun adalah satu
kenyataan aneh karena di Iuar tembok yang mengelilingi bangunan besar tadi
tumbuh berkeliling dua puluh satu pohon beringir raksasa. Bila angin bertiup
dari laut, daun-daun pohon beringin bergemerisik keras, akarakar gantungnya
bergoyang-goyang deras. Semua ini menimbulkan suasana yang menyeramkan. Di
samping itu, setiap angin bertiup maka menebarlah bau busuk dan anyir dari
jurusan bangunan berwarna merah itu.
Bila seseorang mendekati tembok dan bangunan di tepi
pantai sunyi itu, pastilah dia akan terkejut dan berdiri bulu tengkuknya. Akan
goyah lututnya lalu akan lekas-lekas mengambil langkah seribu. Betapakan tidak!
Warna merah pada atap, tembok dan setiap sudut bangunan besar bukanlah warna
cat atau kapur, tetapi darah! Lapisan darah inilah yang menjadi sumber bau
busuk dan amis menjijikkan serta mengerikan, menebar di sekitar situ sampai
puluhan bahkan ratusan tombak jauhnya!
Matahari pagi mulai naik. Air laut kelihatan
berkilau-kilau. Darah merah di tembok dan di bangunan besar di tepi pantai
berkilat-kiiat sedang bau busuk amis semaki menjadi-jadi. Kira-kira sepenanakan
nasi berlalu, dari arah timur, berpapasan dengan tiupan angin laut,
terdengarlah suara derap kaki-kaki kuda. Tak selang berapa lama di sebuah
liku-liku jalan kecil yang terletak di antara bukit-bukit karang tinggi dan
runcing tampaklah dua penunggang kuda memacu binatang tunggangan masing masing
ke jurusan tembok bangunan merah.Baik bulu kuda maupun pakaian kedua
penunggangnya, keseluruhannya berwarna merah basah agak bermninyak-minyak.
Sengaja dibasahi ... dengan darah.
Mereka mengenakan topi berkuncir seperti tarbus, yang
juga dibacahi dengan darah. Dan di bawah topitopi itu paras masing-masing
teramat mengerikan untuk dipandang karena telah dipupuri dengan darah yang
telah membeku!
Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu membawa
sesosok tubuh berpakaian hitam yang dimelintangkan di punqqung kuda dalam
keadaan pingsan dan siapa pula orang yang menggeletak tak berdaya berpakaian
hitam ini!
Kuda-kuda merah lewat di antara dua pohon beringin
raksasa dan akhirnya sampai di hadapan sebuah pintu besar di tembok bangunan.
Pada bagian atas pintu merah ini terdapat tiga deretan huruf-huruf yang terbuat
dari tulang-tulang manusia yang telah dicat merah dan berbunyi. "Pintu
Gerbang Darah"
Salah seorang dari penunggang kuda yang berhenti di
hadapan pintu gerbang mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu dari
mulutnya terdengar situ pekik aneh yang disusul dengan suara lantang,
"Atas nama Raja Darah, bukalah pintu gerbang!"
Untuk beberapa lamanya suara pekik serta seruan
marwsia itu masih mengiang-ngiang di udara pantai yang mengandung garam tanda bahwa
orang itu telah mengeluarkan suara dengan disertai tenaga dalam yang tinggi.
Sesaat kemudian dari belakang "Tembok Darah"
demikian nama tembok merah yang mengelilingi bangunan besar itu terdengar suara
pekik balasan dan disusul oleh satu pertanyaan yang membentak keras,
"Siapa yang datang!"
"Hulubalang Keempat dan Kelima!"
"Kalian habis dari mana?"
"Menjalankan tugas Raja!"
Tak lama kemudian terdengar suara berkereketan. Pintu
Gerbang Darah terbuka. Bersamaan dengan itu dari bagian bawah pintu menjorok
keluar sebuah jambatan kayu besi yang juga penuh dengan darah dan bertuliskan
"Jembatan Darah."
Ternyata antara Pintu Gerbang Darah dan bangunan besar
di seberangnya dipisahkan oleh sebuah parit selebar lima belas tombak dan
dalamnya lebih dari sepuluh tombak. Parit ini dibuat sedemikian rupa
mengelilingi bangunan besar, dialiri dengan air yang telah menjadi merah karena
bercampur darah dan di dalamnya berenanglah ratusan ular berbisa dari berbagai
jenis yang panjangnya mulai dari satu jengkal sampai lima meter! Semua orang di
situ mengenal parit itu dengan sebutan "Parit Kematian."
Kedua orang yang mengaku Hulubalang tadi melewati
Jembatan Darah dengan cepat dan sampai di tangga bangunan besar. Di belakang
mereka Jembatan Darah masuk kembali ke tempatnya sedang Pintu Gerbang Darah
menutup dengan sendirinya.
Dengan memanggul tubuh manusia berpakaian hitam itu,
Hulubalang Keempat diikuti Hulubalang Kelima menaiki anak tangga bangunan besar
yang pada sebelah atasnya terdapat tulisan, "ISTANA DARAH."
Huruf-huruf tulisan inipun dibuat dari tulang belulang manusia yang diberi
warna merah dengan darah!
Setelah melewati beberapa ruangan, kedua Hulubalang
sampai di satu ruangan besar yang pada bagian tengahnya terdapat sebuah kolam
yang airnya berwarna merah dan busuk. Di tengah-tengah kolam berdirilah sebuah
patung raksesi dalam keadaan telanjang bulat dan dari bagian di antara kedua
pangkal pahanya senantiasa memancur cairan warna merah.
Di depan sana terdapat sebuah gordeng besar yang basah
oleh darah. Tetesan-tetesan darah jelas kelihatan berjatuhan ke lantai ruangan.
Ruangan itu bukan saja busuk luar biasa hawanya tetapi juga pengap membuat
seseorang yang tak biasa akan sesak bernafas. Namun anehnya kedua Hulubalang
Darah itu tenang-tenang saja seolah-olah udara macam begitu tidak mengganggu
jalan pernafasan mereka barang sedikitpun. Di hadapan "Tirai Darah"
mereka berdiri dengan sikap keren, lalu membuka topi masing-masing dan menjura.
"Paduka Yang Mulia Raja Darah," kata
Hulubalang Keempat. "Kami berdua Hulubalang Keempat dan Kelima, datang
menghadap guna melaporkan hasil tugas yang telah dibebankan kepada kami!"
Sunyi sesaat.
Lalu dari ruangan di belakang Tirai Darah terdengar
satu suara laki-laki yang parau sember dan perlahan namun hebatnya suara yang
parau serta perlahan ini sanggup membuat dinding-dinding ruangan berwarna merah
jadi bergetar. Tirai Darah bergoyang-goyang sedang cairan merah di dalam Kolam
Darah tampak bergelombang-gelombang. Nyatalah bahwa siapapun adanya manusia di
belakang Tirai Darah itu memiliki tenaga dalam yang luar biasa hebatnya!
"Beri tahu hasil tugas kalian!" tiba-tiba
terdengar satu suara.
Mendengar ini Hulubalang Darah Keempat membuka mulut
memberi jawaban.
"Kami berdua telah berhasil menangkap hidup-hidup
tokoh silat gotongan hitam daerah timur yang bergelar Sepuluh Jari Maut!
Sekarang dia berada dalam keadaan pingsan dan ditotok!"
"Bagus!" memuji orang di balik Tirai Darah
lalu terdengar suara kekehannya. "Jebloskan dia dalam tahanan. Gantung
kaki ke atas kepala ke bawah dan nyalakan api di bawah batok kepalanya! Biar
dia tahu rasa!" Ucapan itu ditutup dengan suara tertawa mengekeh seperti
tadi lalu menyusul caci maki kutuk serapah aneh. "Keparat... sialan!
Laknat .... haram jadah! Terkutuk ... ! Mampuslah semua! Semua...!"
Ucapan kotor itu masih terus terdengar sampai
kira-kira sepeminuman teh. Bila kutuk serapah itu berhenti maka Hulubalang
Darah Kelima cepat-cepat membuka mulut.
"Perintah Paduka Yang Mulia segera kami
laksanakan!"
Setelah menjura hormat, kedua Hulubalang tadi beserta
tawanannya segera meninggalkan tempat tersebut!
***
HULUBALANG Darah Keempat dan Kelima memasuki sebuah lorong menurun. Di kiri kanan lorong ini banyak sekali cabang cabang lorong yang kesemuanya diterangi dehgan lampu minyak. Dimana-mana kelihatan warna merah darah dan di sini udara jauh lebih pengap dan lebih busuk dari ruangan ruangan lain dalam Istana Darah.
HULUBALANG Darah Keempat dan Kelima memasuki sebuah lorong menurun. Di kiri kanan lorong ini banyak sekali cabang cabang lorong yang kesemuanya diterangi dehgan lampu minyak. Dimana-mana kelihatan warna merah darah dan di sini udara jauh lebih pengap dan lebih busuk dari ruangan ruangan lain dalam Istana Darah.
Mereka sampai di hadapan sebuah pintu merah terbuat
dari besi dan dijaga oleh dua orang Hulubalang Darah yang memiliki tampang
seram bengis. Betapapun bengis gelaknya kedua pengawal pintu besi itu, namun
melihat siapa yang datang keduanya segera memberi hormat.
"Atas nama Raja Darah harap kalian buka pintu
Penjara Darah!" kata Hutubalang Kelima.
Kedua Hulubalang pengawal meneliti orang berbaju hitam
yang dipangqil Hulubalang Keempat. Salah salah seorang dari mereka bertanya.
"Siapa dia?"
"Sepuluh Jari Maut," jawab Hulubalang
Keempat dan pengawal yang bertanya ladi lalu memperhatikan sepuluh jari orang
yang dipanggul. Kesepuluh jari itu berkuku panjang dan berwarna hitam legam.
Sementara itu pengawal yang satu lagi dari dalam sabuknya mengeluarkan seuntai
anak anak kunci. Dengan salah satu anak kunci dibukanya pintu besi lalu masuk
lebih dulu sedang Hulubalang Keempat dan Kelima menyusul mengikutinya.
"Dia adalah tahanan yang keempat sampai."
kata pengawal penjara sambil berjalan. Ruangan yang mereka lewati merupakan
sebuah gang selebar tiga tombak dari batu karang atos yang dicat dengan darah.
Pada dinding kiri kanan terdapat deretan pintu-pintu besi merah.
Deretan-deretan pintu sebelah kiri diberi berangka ganjil sedang deretan
sebelah kanan berangka genap. Inilah ruangan Penjara Darah yang terletak di
bawah tanah dan memiliki enam puluh buah kamar tahanan.
Di depan pintu yang bertuliskan angka 24 pengawal itu
berhenti dan mengeluarkan untaian anak kunci lalu membuka pintu besi. Begitu
pintu terbuka dari dalam ruangan menyambarlah hawa dingin lembab yaag busuk
luar biasa. Lantai dan dinding serta langit-langit ruangan tahanan merah oleh
darah, sebagian masih merupakan cairan sebagian lagi telah kering membeku.
"Nyalakan lampu!" perintah Hulubalang Darah
Kelima.
Pengawal segera menyalakan lampu minyak dan kamar
tahanan itu kini menjadi cukup terang. Pada dinding sebelah kiri terdapat
sebuah rak batu. Di atas rak ini terletak berbagai macam benda penyiksa. Pada
langit-langit ruangan tampak sebuah kerekan lengkap dengan tali kawat yang
besarnya dua kali ibu jari. Dengan tali kawat ini sepasang kaki tawanan diikat
erat-erat lalu tubuhnya dikerek hingga kini jadi tergantung kaki ke atas kepala
ke bawah.
Dari rak batu Hulubalang Kelima mengambil sebuah benda
berbentuk pendupaan besi yang berisi potongan-potongan benda hitam sebentuk
batu bara. Ketika disulut dengan api benda hitam ini langsung terbakar menyala.
"Kita tunggu sampai dia siuman," berkata
Hulubalang Darah Keempat.
Tak berapa lama kemudian tawanan yang bergelar Sepuluh
Jari Maut itu kelihatan membuka sepasang matanya perlahan-lahan. Mata itu
terbuka semakin lebar sewaktu keterkejutan menguasai dirinya. Sepuluh Jari Maut
melihat dunia ini terbalik. Kepalanya seperti mau karena jalan darahnya
menyungsang sedang di sekelilingnya tampak tiga orang berpakaian serba merah
bertampang bengis. Rongga hidungnya sementara itu disambar oleh bau busuk luar
biasa.
"Di mana aku ...?" desis Sepuluh Jari Maut.
Dicobanya menggerakkan anggota-anggota tubuhnya tapi tak bisa. Sekujuar
tubuhnya kaku tegang, sedikitpun tak dapat digerarkkan. Sadarlah Sepuluh Jari
Maut bahwa dirinya berada di bawah pengaruh totokan. Dicobanya mengalirkan
tenaga dalam untuk memusnahkan totokan tersebut namun sia-sisa. Totokan yang
menguasai dirinya bukan totokan sembarangan. Sepuluh Jari Maut memandang ke
atas dilihatnya sebuah roda kerekan besi yang tergantung di langitlangit
ruangan, diganduli kawat besar. Ujung kawat itulah yang telah mengikat kedua
kakinya dan sakitnya bukan main. Dia memandang kembali pada tiga manusia
berpakaian merah basah dan bau itu. Akhirnya dia ingat. Sebelumnya dia telah
bertempur dengan dua di antara tiga manusia tersebut. Dalam jurus kedua puluh
tiga dia terpaksa harus menerima satu jotosan keras dari lawan yang tepat
mengenai pelipisnya. Selagi dia berdiri nanar dengan pandanyan berbinar-binar,
musuhnya yang lain telah menotoknya hingga dia tidak berdaya. Lalu kepalanya
dipukul hingga akhirnya dalam keadaan tertotok begitu rupa dia jatuh pirgsan.
Nyatalah bahwa kedua musuh tak dikenalnya itu telah membawanya ke tempat
tersebut dan menawannya.
Dendam dan marah memuncak dalam diri Sepuluh Jari
Maut. Rahang-rahangnya menonjol bergemeletukan.
"Tempat celaka apa ini namanya....?!" Sentak
Sepuluh Jeri Maut.
Hulubalang Darah Kelima dan Keempat datang mendekat.
Di tampang masing-masing menyungging seringai bengis.
"Celaka bagimu, bukan bagi kami!" ujar
Hulubalang Darah Kelima.
"Jahanam! Kalian mau bikin apa terhadapku? Aku
tidak punya permusuhan apa-apa dengan kalian!"
Plaak!
Satu hantaman tamparan yang keras mendarat di pipi
Sepuluh Jari Maut. Untuk beberapa lamanya dia terbuai-buai dan berputar-putar
sedang pemandangannya mulai gelap.
"Tak tahu diri. Sudah hampir mampus masih berani
bicara memaki!" sentak Hulubalang Darah Keempat.
"Puaah!" Sepuluh Jari Maut meludahi muka
Hulubalang Darah Keempat. "Beraninya terhadap musuh yang tidak
berdaya!"
"Setan alas!" teriak Hulubalang Darah
Keempat. Tinju kiri kanannya menghujani muka tokah silat berbaju hitam itu.
Darah mengucur dari hidung, mulut dan matanya. "Seret pendupaan itu
kemari!"
Hulubalang pengawal menyeret pendupaan yang dikobari
api lalu melekkannya tepat di bawah kepala Sepuluh Jari Maut.
"Tadi kau bertanya di mana kau berada," ujar
Hulubalang Darah Kelima, "Ketahuilah bahwa saat ini kau telah dijebloskan
ke dalam neraka dunia bernama Penjara Darah!"
Sepuluh Jari Maut kertakkan rahang. Mulutnya
dikatupkan rapat-rapat menahan panasnya kobaran api yang menjilat-jilat di
bawah kepalanya. Hanya seketika saja dia dapat menahan rasa sakit. Sesaat
kemudian dari mulutnya mulai keluar raungan kesakitan yang menggidikkan. Di
lain pihak tiga orang Hulubalang yang ada di situ tertawa gelak-gelak.
"Manusia-manusia bejat!" teriak Sepuluh Jari
Maut. "Jika aku mati di tangan kalian, kelak aku akan menjelma menjadi
setan dan mencekik kalian semua!"
"Kalau begitu biar kupercepat niatmu untuk jadi
setan itu!" kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu kawat kerekan diulurkannya
ke bawah hingga kepala tawanan itu semakin dekat dengan kobaran api dalam
pendupaan besi. Rambutnya yang menjulai mulai terbakar dan menebar bau sangit
di ruangan itu. Dari mulut Sepuluh Jari Maut tiada hentinya terdengar jeritan
yang mengerikan hingga suaranya menjadi parau. Saat itu dirasakannya kulit
kepala dan tulang tengkoraknya seperti meleleh! Kemudian nafas laki-laki ini
mulai megap-megap. Darah yang keluar dari hidung, mulut, mata dan telinganya
menetes-netes di atas api dalam pendupaan besi, menimbulkan suara
"cees" yang tiada hentinya.
"Sudah tiba seatnya memanggil tukang-tukang darah
itu," kata Hulubalang Darah Keempat pada kawannya Hulubalang Darah Kelima.
Hulubalang Darah Kelima mengangguk lalu melangkah ke pintu.
Pada sanding pintu sebelah atas terdapat sebuah tombol merah. Tombol ini selalu
terdapat dalam setiap kamar tahanan yang sekaligus merangkap ruang penyiksaan.
Tak lama setelah Hulubalang Darah Kelima menekan
tombol itu maka masuklah dua laki-laki yang membawa ember-ember besar,
masing-masing mengenakan jubah merah. Salah seorang dari mereka, yang barusan
mengeluarkan sebuah pisau kecil tajam berpaling pada Hulubalang Darah Keempat
dan Kelima.
"Laksanakan tugas kalian cepat!" Kata
Hulubalang Darah Keempat. Lalu bersama Hulubalang Darah Kelima dia meninggalkan
ruangan tersebut.
Yang tinggal di dalam ruangan tahanan itu kini adalah
Hulubalang pengawal dan kedua laki-laki berjubah merah. Ember diletakkan di
lantai. Orang berjubah di sisi kiri keluarkan segulung pipa karat warna merah.
Dia menggoyangkan kepalanya pada kawannya yang memegang pisau. Si pemegang
pisau ini segera mendekati Sepuluh Jari Maut, lalu craass ...! Dengan pisau
kecil itu diputusnya urat nadi di leher Sepuluh Jari Maut. Darah menyembur.
Pipa karet cepat dihubungkan dengan nadi yang putus. Darah dari tubuh Sepuluh
Jari Maut mengalir melewati pipa karet terus masuk ke ember sedang Sepuluh Jari
Maut sendiri saat itu megap-megap dan akhirnya meregang nyawa dengan cara
mengenaskan.
LAKSANA anak-anak panah yang lepas dari busurnya, dua ekor kuda coklat itu berlari kencang membawa penunggangnya masing-masing. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, berpakaian biru sedang kawannya seorang dara berkulit hitam manis dan mengenakan pakaian ringkas kuning muda.
"Bisakah kita sampai sebelum malam ke tempat guru?" bertanya sang dara tanpa memalingkan kepalanya.
"Kurasa bisa. Tapi agaknya kita bakal mendapat
kesiangan di tengah jalan, adikku," menjawab si pemuda.
"Halangan apa maksudmu?"
"Lihatlah ke langit ... "
Gadis itu mendongak ke atas. Seat itu baru disadarinya
bahwa iangit di atas sana telah gelap oleh gumpalan-gumpaian awan hitam.
Kemendungan meliputi hampir seluruh tempat.
"Kalau hanya hujan itu tidak menjadi halangan
bukan?" ujar sang dara.
"Memang bukan halangan. Tapi jalan yang bakal
kita tempuh, yang mendaki dan berbatu licin berlumut, serta diapit oleh
jurang-jurang terjal ... Itulah halangan yang kumaksudkan."
"Mudah-mudahan saja hujan tidak turun dalam waktu
cepat," kata si gadis lalu menyentakkan tali kekang kudanya. Binatang itu
mendongakc ke depan dan mempercepat larinya. Pohon-pohon yang dilalui laksana
terbang ke belakang.
Kira-kira sepenanakan nasi berlalu ternyata hujan
belum juga turun walau angin bertiup keras menderuderu. Sewaktu si gadis
mendongak lagi ke atas dilihatnya gumpalan-gumpalan awan hitam mulai pupus
sekelompok demi sekelompok. Udara yang tadi mendung kini berangsur cerah.
"Nah, apa kataku! Kita beruntung. Hujan tak jadi
turun," kata gadis itu pula.
Si pemuda hanya tersenyum mendengar ucapan adik
seperguruannya itu, lalu berkata, "Kalau begitu kita memang bisa sampai
sebelum malam turun. Berarti kau bakal bertemu dengan orang yang kau kasihi
lebih cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Sang dara cemberut. Kedua pipinya kelihatan menjadi
merah. Pemuda yang berkuda disampingnya tersenyum. Namun laksana direnggutkan
setan demikianlah pupusnya senyuman si pemuda sewaktu di hadapan mereka
tiba-tiba berkelebat dua bayangan merah dan dua sosok tubuh manusia aneh sesaat
kemudian sudah berdiri menghadang di tengah jalan.
Kedua saudara seperguruan itu sama-sama terkejut bukan
main dan serta merta menghentikan kuda masing-masing. Bau busuk menyambar dari
tubuh para penghadang yang mengenakan pakaian merah basah sedang wajah
masing-masing ditutupi oleh cairan yang setengah membeku. Salah seorang
penghadang bertolak pinggang dan maju mendekati.
"Supaya tidak banyak susah, lekas kalian serahkan
diri dan jangan melawan!" katanya.
"Kalian siapa dan punya maksud apa?"
bertanya pemuda baju biru dengan nada tinggi dan sikap gagah.
"Kami adalah Hulubalany-Hulubalang Istana
Darah!" jaweb orang yang bertolak pinggang.
"Istana Darah?!" mengulang si pemuda dengan
terkejut.
Kedua Hulubalang Darah tertawa mengekeh. "Kalau
sudah tahu kenapa tidak lekas turut perintah?"
"Turut perintahmu? Siapa yang sudi. Lekas
minggir. Kami mau meneruskan perjalanan!" membentak gadis berbaju kuning.
"Ohoo ... galaknya!" jawab Hulubalang Darah
yang menghadang dengan bertolak pinggang.
"Kami tidak punya waktu banyak untuk bicara
segala pepesan kosong. Beri jalan. Kalau tidak kalian akan menyesal!" Kini
pemuda baju biru berikan perlingatan.
"Pemuda sombong tekebur! Kau tak akan kuberi
hidup lebih lama!" Hulubalang Darah yang tegak di sebelah kanan menerjang
ke depan dengan gerakan cepat sekali.
Tak ayal si pemuda segera cabut pedang di pinggangnya.
Sinar putih mencuat memapas serangan Hulubalang Darah. Tapi percuma. Di lain
kejap terdengar jerit pemuda baju biru itu. Tubuhnya mencelat mental dari atas
punggung kuda yang ditungganginya, sedang pedangnya ikut terlepas mental.
"Manusia rendah! Matilah!"
Satu bentakan datang dari samping yang disusul dangan
sembaran pedang ke arah batang leher Hulubalang Darah. Yang diserang cukup dibikin
kaget namun tidak menjadi gugup. Di Istana Darah dia adalah Hulubaiang Darah
Ketujuh yang mempunyai kepandaian tidak rendah. Sekali berkelit dia berhasil
mengelakkan sambaran pedang, kemudian dengan satu gerakan kilat dia berhasil
memukul mental pedang di tangan lawan. Si gadis mengeluh kesakitan sambil
pegangi lengannya yang menjadi merah bengkak. Hulubalang Darah Ketujuh
menyeringai mengejek.
"Gadis manis sepertimu ini tidak seharusnya
berlaku begitu galak terhadapku. Nah sekarang kalian mau menyerah baik-baik
atau bagaimana?"
"Baik, aku akan menyerah," jawab si gadis,
"tapi..." digerakkannya tangannya.
"Tapi apa?" tanya Hulubalang Darah Ketujuh.
"Makan dulu jarumku ini!" seru sang dara
baju kuning dan sesaat kemudian begitu dia gerakkan tangan kanan puluhan jarum
berwarna kuning melesat tanpa suara ke arah dua belas jalan darah di tubuh
Hulubalang Darah Ketujuh!
"Gadis binal!" hardik Hulubalang Darah
Ketujuh marah. Dikebutkannya lengan pakaiannya. Puluhan jarum yang menyerang
serja merta mental dilanda angin dahsyat yang keluar dari ujung lengan pakaian
itu!
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, pemuda
baju biru berseru. "Mia! Larilah! Lari lekas! Biar aku yang menghadapi
begundal-begundal jahat ini." Dari pertempuran yang baru berjalan beberapa
gebrakan itu si pemuda sudah menyadari bahwa walau bagaimanapun tidak mungkin
bagi mereka untuk menghadapi kedua lawan yang memiliki kepandaian begitu
tinggi. Karenanya demi keselamatan adik seperguruannya dia bersedia korbankan
nyawa.
"Tidak kangmas! Mati bersama di tempat ini adalah
lebih baik daripada lari!" jawab Miani yang membuat kakak seperguruannya
menjadi kaget. Gadis ini rupanya juga sudah menyadari nasib apa yang bakal
dihadangnya namun sedikitpun tidak merasa gentar. Dengan sepasang tangan kosong
terpentang Miani maju ke hadapan Hulubalang Darah Ketujuh,
Yang ditantang ganda tertawa dan berpaling pada
temannya. "Hulubalang Sebelas, kau bereskan pemuda itu. Aku akan tangkap
hidup-hidup perawan galak ini dan membawanya ke Istana!"
Hulubalang Darah Kesebelas maju ke hadapan pemuda baju
biru. Pemuda ini berada dalam keadaan terluka parah di sebelah dalam akibat
jotosan Hulubalang Ketujuh tadi. Namun demikian dengan sisa kekuatan yang ada
dan penuh keberanian si pemuda melangkah ke hadapan Hulubalang Kesebelas.
Tangan kirinya tiba-tiba melepaskan dua puluh jarum biru sedang tangan kanan
diayunkan ke batok kepala lawan. Serangan ini disertai dengan satu loncatan
cepat sehingga Hulubalang Kesebelas tidak berani bertindak sembrono.
Dengan berkelit ke samping dan seraya melepaskan satu
pukulan tangan kosong ke udara, seranganserangan jarum biru berhasil dilewatkan
oleh Hulubalang Darah Kesebelas. Untuk menghadapi serangan lawan yang kedua
yaitu jotosan keras pada batok kepalanya, Hulubalang Darah Kesebelas memukulkan
tangannya ke atas dengan mengandalkan setengah bagian tenaga dalamnya.
Dalam keadaan terluka begitu rupa bentrokan lengan
adalah sangat berbahaya bagi pemuda baju biru. Walaupun tenaga dalamnya lebih
tinggi sekalipun belum tentu keselamatan dirinya akan terjamin. Karenanya
begitu lawan memukulkan lengannya ke atas, pemuda baju biru menjejak tanah dan
melompat satu tombak. Bersamaan dengan itu kaki kanannya menderu ke dada lawan!
Hulubalang Darah Kesebelas tidak menyangka kalau bakal
mendapat serangan hebat begitu rupa. Saat itu dia tengah memusatkan perhatian
dan sebagian tenaga dalamnya untuk melakukan bentrokan lengan. Tubuhnya telah
mendongak ke atas dan dalam kedudukan seperti itu cukup sulit untuk
menyelamatkan dadanya dari tendangan si pemuda. Namun adalah percuma dia
menjabat kedudukan Hulubalang di Istana Darah kalau serangan begitu saja dia
tidak sanggup menghadapinya.
Dengan berteriak keras dahsyat Hulubalang Darah
Kesebelas berkelebat. Tubuhnya hanya merupakan bayangan merah dan sebelum
pemuda baju biru dapat memastikan di sebelah mana lawannya berada, tahutahu
satu pukulan menghantam dadanya, tepat di bekas jotosan Hulubalang Ketujuh
sebelumnya. Tak ampun lagi pemuda itu muntah darah dan tersungkur ke tanah!
"Kangmas Widura!" pekik Miani.
"Mia! Lari! Selamatkan dirimu!" seru pemuda
baju biru yang bernama Widura sementara nafasnya mulai megap-megap.
Bukannya lari sebaliknya Miani malah menubruk kakak
seperguruannya. Namun sebelum dia sempat berbuat suatu apa, satu totokan telah
bersarang di punggungnya membuat gadis ini melosoh tak berkutik lagi. Hanya
mulutnya saja yang masih bisa mengeluarkan suara memaki dan mengutuki kedua
manusia berbaju merah itu.
Hulubalang Darah Ketujuh membungkuk merangkul tubuh
Miani lalu memanggulnya di bahu kiri. Dia berpaling pada kawannya dan
menggoyangkan kepala. "Lekas selesaikan pekerjaanmu."
Dari balik pakaiannya Hulubalang Darah Kesebeias
mengeluarkan sebuah kantong karet yang pada salah satu ujungnya terdapat pipa
sepanjang tiga jengkal. Setelah mengeluarkan pula sebilah pisau kecil yang amat
tajam dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari maka diapun melangkah mendekati
tubuh Widura yang saat itu tidak berkutik dan menggeletak di tanah tengah
meregang nyawa.
Hulubalang Darah Kesebelas membungkuk. Tangannya yang
memegang pisau bergerak ke pangkal leher Widura.
"Manusia biadab! Laknat terkutuk! Apa yang kau
lakukan itu?!" teriak Miani sewaktu menyaksikan bagaimana Hulubalang Darah
Kesebelas memutus urat nadi di leher Widura dengan pisau kecil lalu menghubungkan
ujung pipa karet dengan urat nadi yang menyemburkan darah. Sesaat kemudian
kantong karet itu kelihatan mulai menggembung tanda darah korban telah mengalir
masuk. Hulubalang Darah Ketujuh menepuk-nepuk pinggul Miani sambil tertawa
gelak-gelak.
"Gadis molek. Kau tenang sajalah. Bagusnya
berhenti berteriak agar suaramu yang merdu tidak menjadi parau!"
"Kalian manusia-manusia terkutuk! Lebih kejam dan
lebih buas dari binatang!" teriak Miani lalu berulang kali diludahinya
muka Hulubalang Darah Ketujuh.
"Sialan! Kalau kau bukan gadis manis sudah
tadi-tadi kuremas hancur mulutmu!" hardik Hulubalang Darah Ketujuh marah.
Ditdriknya pakaian kuning si gadis dan disekanya mukanya yang penuh ludah.
"Seharusnya kau merasa gembira dan bangga karena
darah kawanmu itu mendapat kehormatan untuk dipakai sebagai cat istana
Darah!"
Tiga perempat kantong karet telah penuh dengan darah
Widura. Ketika tak ada lagi darah yang mengalir masuk ke dalam kantong itu
Hulubalang Darah Kesebelas mencabut pipa lalu membuhulnya. Dia berdiri dan
memanggul kantong berisi darah itu.
"Atas semua hasil ini kita pasti mendapat pahala
besar dari Raja," kata Hulubalang Darah Kesebelas dengan tertawa lebar.
"Yang jelas," menyahuti Hulubalang Darah
Ketujuh. "Gadis manis ini akan dihadiahkan padaku. Dia menelentang di
tempat tidurku sebelum keputusan Raja datang untuk mencabut nyawanya!"
Merinding bulu roma Miani mendengar ucapan ;tu. Dia
berteriak keras. "Lepaskan aku! Jangan bawa ke Istana Darah! Kalian
jahanam! Lepaskan aku!"
Hulubalang Darah Ketujuh cuma tersenyum. Diciumnya
tengkuk gadis itu penuh nafsu lalu bersama kawannya meninggalkan tempat itu
dengan cepat.
***
PAGI ITU udara sejuk nyaman dan cerah. Sekelompok awan berarak dihembus angin melewati puncak gunung Raung. Dari kawah gunung berapi itu mengepul asap putih kelabu yang kemudian menjadi satu dengan awan yang bergerak. Di salah satu lereng gunung itu terdapatlah sebuah pertapaan. Pertapaan ini merupakan sebuah goa yang bagian dalamnya dipakai sebagai tempat kediaman. Saat itu di mulut goa, di atas sebuah batu besar berwarna hitam legam dan berbentuk setengah lingkaran, duduklah seorang Brahmana berselempang kain putih. Kedua tangannya diletakkan di atas paha sedang sepasang matanya terpejam.
***
PAGI ITU udara sejuk nyaman dan cerah. Sekelompok awan berarak dihembus angin melewati puncak gunung Raung. Dari kawah gunung berapi itu mengepul asap putih kelabu yang kemudian menjadi satu dengan awan yang bergerak. Di salah satu lereng gunung itu terdapatlah sebuah pertapaan. Pertapaan ini merupakan sebuah goa yang bagian dalamnya dipakai sebagai tempat kediaman. Saat itu di mulut goa, di atas sebuah batu besar berwarna hitam legam dan berbentuk setengah lingkaran, duduklah seorang Brahmana berselempang kain putih. Kedua tangannya diletakkan di atas paha sedang sepasang matanya terpejam.
Nyatalah Brahmana ini tengah mengheningkan ciptarasa
atau tengah bersemedi. Rambutnya yang putih menyeka bahu melambai-lambai ditiup
angin pagi. Semakin naik matahari, semakin khusus Brahmana ini bersemedi.
Di lain bagian dari lereng gunung, di bawah sebuah air
terjun kecil kelihatan seorang pemuda bertubuh tinggi langsing dan hanya
mengenakan sehelai cawat tengah berkelebat kian kemari. Di tangan kanannya ada
sepotong bambu hijau yang digerakkan demikian rupa ke berbagai jurusan hingga
menimbulkan suasana menderu-deru. Demikian cepatnya gerakan itu hingga bentuk
bambu itu hanya merupakan sambaran sinar hijau belaka.
Sambil melompat gesit di atas batu-batu air yang licin
berlumut pemuda itu bergerak mendekati air terjun. Bambu hijau di tangan
kanannya disabatkan sejarak setengah tombak dari air terjun dan brass! Air
terjun muncrat jauh lalu baru mengalir lagi seperti sebelumnya! Beberapa kaii
hal ini dilakukan si pemuda dan hatinya baru merasa puas.
Kemudian dia berdiri di atas ujung sebuah batu licin
hanya mengandalkan sebelah kaki kiri yang dijingkatkan. Bambu hijau disabatkan
pulang balik beberapa kali memapas air terjun. Ketika ditelitinya bambu itu,
tak setetespun air melekat di situ. Si pemuda tersenyum gembira. Bukan saja
bambu tidak basah tetapi daya dorong tenaga raksasa air terjun tak sanggup
menggoyahkan kakinya yang berpijak di batu licin!
"Kepandaianku telah maju pesat!" kata pemuda
ini dalam hati.
Dia hendak mencoba kembali. Namun saat itu tiba-tiba
di telinganya mengiang nasehat gurunya.
"Ketinggian ilmu itu tidak ada batasnya. Karenanya
seseorang tak boleh berlaku lekas puas, apalagi sombong." Pemuda bercawat
itu kemudian melompat-lompat lagi di atas bebatuan dan tangannya tiada henti
memainkan bambu hijau itu dalam gerakan-gerakan ilmu pedang yang mengagumkan.
Kira-kira sepeminuman teh berlatih dia hentikan semua gerakannya dan duduk
berjuntai di cabang sebuah pohon. Dia berlaku demikian bukan karena letih tapi
karena saat itu satu pemikiran muncul di kepalanya.
"Heran, seharusnya mereka sudah tiba di pertapaan
selambat-lambatnya siang kemarin. Kenapa sampai pagi ini masih belum
muncul?"
Selagi dia berpikir-pikir seperti itu tiba-tiba dari
kejauhan terdengar suara memanggil laksana ditiupkan oleh angin dan bergema di
sekitar tempat itu, apapun adanya yang bicara nyatalah dia memiliki sejenis
ilmu mengirimkan suara dari jarak jauh yang hebat sekali.
"Panji kemarilah!"
Seraya melompat enteng dari cabang pohon pemuda
bercawat itu membuka mulutnya dan berseru menjawab. "Saya datang
Eyang!"
Laksana seekor burung terbang Panji Kenanga berlari
melompati lereng berbatu-batu dan akhirnya sampai di satu jalan kecil yang
menuju ke pertapaan.
Begitu sampai di hadapan Brahmana tua si pemuda
menjura hormat lalu duduk bersila dan bertanya.
"Ada apa Eyang memanggil saya?"
"Kau habis berlatih ... ?"
"Betul sekali Eyang."
"Bagaimana, apakahada kemajuan kau rasakan?"
"Berkat petunjuk Eyang mudah-mudahan ada,"
jawab Panji Kenanga. La!u dia berdiam diri menunggu penjelasan dari gurunya
mengapa dia dipanggil.
"Aku barusan selesai bersemedi, muridku,"
kata Brahmana tua tersebut. "Dalam semediku aku mendapat firasat bahwa
sesuatu telah terjadi atas diri Widura dan Miani. Kalau tidak mustahil sampai
saat ini mereka masih belum sampai di sini."
itu memang ada terpikir oleh saya, Eyang," jawab
Panji Kenanga. "Karenanya mohon petunjuk Eyang lebih lanjut."
"Mereka berdua masih hijau dalam rimba
persilatan, Untuk sekedar mencari pengalaman mereka ku lepas selama satu bulan.
Dan nyatanya kini telah lebih waktu tersebut dan mereka belum juga kembali.
Cobalah kau turun gunung dan menyelidiki keadaan sekitarnya. Kuharap saja tidak
terjadi apa-apa dengan mereka."
"Perintah Eyang akan saya laksanakan," kata
Panji Kenanga. "Izinkan saya bersalin pakaian dulu."
Pemuda ini hendak berdiri tapi tak jadi karena gurunya
dilihatnya menggerakkan tangan memberi isyarat.
"Satu hal penting kau ketahui, Panji," kata
sang Brahmana. "Dalam dunia persilatan kini tengah mengamuk satu angkara
murka. Angkara murka itu didalangi oleh manusia-rnanusia berkepandaian tinggi
yang menyebut dirinya Hulubalang Istana Darah. Mereka berjumlah banyak namun
tidak diketahui siapa yang memimpin mereka."
"Kejahatan apakah yang telah mereka lakukan
Eyang?"
"Menculik dan membunuh setiap manusia
berilmu."
"Alasan mereka berbuat begitu?" tanya Panji
Kenanga lebih jauh.
"Sebegitu jauh belum diketahui. Namun dari apa
yang kudengar setiap korban yang mereka bunuh tidak berdarah lagi dalam
tubuhnya. Aku kawatir kalau-kalau kedua saudaramu telah menjadi korban
manusiamanusia penghisap darah itu."
"Saya akan selidiki Eyang dan tak kembali sebelum
menemukan keduanya. Mudah-mudahan tidak terjadi suatu apa dengan mereka."
Sang guru mengangguk.
Panji Kenanga berdiri dan meninggalkan tempat itu. Tak
lama kemudian dia muncul kembali sudah berpakaian rapi.
"Bawalah Angin Salju dan juga kau boleh bawa
tenjata ini," kata si Brahmana seraya mengeluarkan sebilah pedang
bergagang gading.
Terkejutlah Panji Kenanga don buru-buru berlutut,
"Eyang, apakah Eyang mempercayakan saya membawa pedang Gajah Biru
ini?" tanya Panji Kenanga sewaktu melihat gurunya mengangsurkan pedang
mustika itu.
"Kalau tidak percaya masakan kuserahkan,"
jawab sang guru kepada muridnya. "Pergunakan sebaikbaiknya, terutama dalam
keadaan dirimu diancam bahaya."
"Terima kasih atas kepercayaanmu Eyang."
Dengan membungkukkan tubuh Panji kenanga menerima
senjata tersebut lalu memasukkannya ke balik punggung pakaiannya.
"Sekarang saya minta diri, Eyang dan mohon doa
restumu," kata Panji Kenanga. Dia menjura sampai tiga kali lalu
membalikkan tubuh. Seat itu dihadapannya telah berdiri seekor kuda putih tinggi
den tegap. Karena larinya yang cepat laksana angin den bulunya yang mulus putih
laksana salju, oleh Brahmana binatang ini diberi nama Angin Salju. Panji
Kenanga melompat ke punggung Angin Salju. Sebelum berlalu binatang yang jinak
dan cerdik ini enggoyangkan kepalanya beberapa kali pada sang Brahmana, lalu
meringkik tiga kali seolah-olah mengucapkan selamat tinggal mohoi diri.
***Hujan lebat mendera bumi sewaktu Panji Kenanga
bersama angin Salju berada setengah hari perjalanan dari kaki gunung Raung.
"Kita harus mencari tempat berteduh
sobatku." kata si pemuda pada kuda tunggangannya.
Angin Salju bukanlah seekor kuda biasa. Binatang ini
tajam penca inderanya dan cerdik serta memahami apa-apa kata dan maksud majikannya.
Dengan cepat dia memutar tubuh dan laksana anak panah melesat menuju
segerombolan pohon-pohon yang berdaun sangat lebat. Demikian lebatnya dedaunan
pohon-pohon ini hingga tak setetespun air hujan dapat menembus tanah di
bawahnya.
"Matamu tajam den cepat mencari tempat berteduh
yang baik," kata Panji Kenanga saraya mengelus tengkuk Angin Salju.
Binatang itu menggerak-gerakkan kedua daun telinganya
tanda gembira atas pujian itu. Sementara itu hujan turun semakin lebat. Di
antara deru air hujan yang laksana dicurahkan dari langit, tiba-tiba Panji
Kenanga mendengar suara berdering-dering tiada hentinya. Dia memandang
berkeliling. Tak seorang pun manusia yang kelihatan. Tak sesuatu benda hiduppun
yang tampak. Tapi anehnya suara berdering-dering itu terdengar semakin keras.
"Apakah ada iblis atau setan yang menghuni tempat
ini dan hendak menakut-nakutiku?" pikir Panji Kenanya dalam hati. Lalu
turun dari kudanya.
Sebagai orang yang menguasai ilmu silat tingkat tinggi
serta kesaktian dengan sendirinya Panji Kenanga memiliki pendengaran tajam.
Namun sekali ini dia terpaksa berjalan hilir mudik seketika, baru dapat
mengetahui sumber datangnya suara berdering-dering itu. Dan sewaktu sampai di
tempat tersebut melengaklah Panji Kenanga.
Di bawah sebatang pohon berdaun lebat, duduk bersandar seorang lelaki berkepala botak bercelana tipis dan kurus hingga tulang-tulangnya kelihatan jelas bertonjolan. Setiap saat orang berkepala botak ini menggerak-gerakkan kedua tangannya melemparkan sepuluh mata uang emas ke udara, lalu menyambutnya kembali, melemparkannya lagi dan menyambutnya kembali, demikian terus menerus tiada henti. Untuk sesaat lamanya Panji Kenanga menjadi takjub. Sepuluh mata uang emas bukan satu jumlah yang sedikit. Hanya hartawan kaya raya yang punya uang sebegitu. Kemudian sepuluh mata itu dilemparkan ke udara dan bertebar demikian rupa bukan suatu hal yang mudah untuk ditangkap kembali kesepuluhsepuluhnya dengan kedua tangan tanpa ada satupun yang jatuh. Dan hal ini dilakukan berulang-ulang oleh si botak itu dengan sikap acuh tak acuh!
Di bawah sebatang pohon berdaun lebat, duduk bersandar seorang lelaki berkepala botak bercelana tipis dan kurus hingga tulang-tulangnya kelihatan jelas bertonjolan. Setiap saat orang berkepala botak ini menggerak-gerakkan kedua tangannya melemparkan sepuluh mata uang emas ke udara, lalu menyambutnya kembali, melemparkannya lagi dan menyambutnya kembali, demikian terus menerus tiada henti. Untuk sesaat lamanya Panji Kenanga menjadi takjub. Sepuluh mata uang emas bukan satu jumlah yang sedikit. Hanya hartawan kaya raya yang punya uang sebegitu. Kemudian sepuluh mata itu dilemparkan ke udara dan bertebar demikian rupa bukan suatu hal yang mudah untuk ditangkap kembali kesepuluhsepuluhnya dengan kedua tangan tanpa ada satupun yang jatuh. Dan hal ini dilakukan berulang-ulang oleh si botak itu dengan sikap acuh tak acuh!
"Siapakah si botak ini?" pikir Panji
Kenanga. Pemuda ini melangkah lebih dekat. Astaga! Terkejutlah Panji Kenanga.
Betapakan tidak. Ternyata si botak bercelana komprang ini buta kedua matanya!
Bagaimana dia memiliki kepandaian melempar dan menyambut sepuluh mata uang
seperti itu? Benar-benar aneh. Panji Kenanga melangkah lebih dekat
***
"BAPAK, siapakah kau?" tanya Panji Kenanga menegur.
***
"BAPAK, siapakah kau?" tanya Panji Kenanga menegur.
Si botak tak menjawab. Menggerakkan kepalanyapun
tidak. Malah terus asyik melempar-lemparkan sepuluh mata uang emas itu ke
udara. Panji Kenanga mengulang kembali pertanyaannya. Si botak tetap tak
menjawab. Terus saja asyik bermain-main dengan mata uang emasnya. Memikir
mungkin manusia tak dikenal ini tuli maka dia kemudian menegur lebih keras.
Aneh. Si botak tiba-tiba tertawa mengekeh:
"Hup!" seru si botak tiba-tiba. Sepuluh uang
emas dilemparkannya tinggi-tinggi ke udara. Seperti daundaun kering yang
dihembus angin uang-uang emas itu melayang turun perlahan-lahan, kemudian satu
demi satu jatuh menempel di atas kepala botak si orang aneh, tersusun rapi.
Hampir saja Panji Kenanga berseru kagum melihat hal ini. Seorang yang tidak
memiliki tenaga dalam tinggi luar biasa pasti tak bakal sanggup melakukan hal
itu. Bahkan dia meragu apakah gurunya bisa berbuat begitu. Si botak yang kini
"bertopikan" uang emas kembali tertawa mengekeh. Tawanya tiba-tiba
lenyap. Sebagai gantinya dari mulutnya kini terdengar suara nyanyian aneh:
Sejak lahir menderita buta
Sekeliling serba gelap gulitaBanyak berjalan banyak
didengarDatang bertanya seorang sahabatSungguh sayang belum bisa kujawabDan
sehabis menyanyi ini, orang itu kembali tertawa mengekeh sedang sepuluh keping
uang emas masih terus menempel di kepalanya yang botak!
"Kalau kau tak mau menerangkan nama tak menjadi
apa. Aku tak bakal mengganggu lebih lama," kata Panji Kenanga. Lalu pemuda
ini memutar tubuh meskipun hatinya penuh diliputi rasa ingin tahu siapa
gerangan adanya si botak aneh bermata buta ini.
"Hai! Tunggu dulu!" si botak tiba-tiba
berseru. "Sebelum pergi kau dengarlah satu lagi nyanyianku."
Panji Kenanga hentikan langkah.
Si buta goyangkan kepala botaknya. Sepuluh keping uang
emas yang ada di atas kepalanya melayang ke atas, disambutnya lalu
dilemparkannya kembali seperti tadi sehingga mengeluarkan suara berdering. Dan
suara berdering ini dengan teratur menimpali suara nyanyian yang dibawakannya.
Seorang muda datang menunggang Angin Salju
Bertanya tapi tak terjawabEntah ke mana gerangan
menujuTapi apakah sudi mendengar nasihat?Berjalan terus ke utaraAkan ditemui
kejahatan berdarahPembalasan memang sudah wajarTapi terlalu banyak musuh harus
dihajarKalau ditemui keadaan yang mengharukanJangan sampai nafsu dendam
memperdayakanPembalasan harus memakai akal pikiranAgar selamat nyawa di
badan.Sepuluh keping uang emas dilemparkan tinggi-tinggi ke udara lalu seperti
tadi melayang turun perlahanlahan laksana ditarik oleh suatu kekuatan gaib yang
tak kelihatan, mata-mata uang tersebut mendarat satu demi satu di kepala botak
si orang tua. Di lain pihak Panji Kenanga heran dan kaget bukan main. Bagaimana
manusia botak buta tak dikenal ini tahu kalau dia menunggang Angin Salju. Apa
arti kalau ditemui keadaan yang mengharukan? Mengapa dia disuruh berjalan ke
arah utara? Setelah meragu sejenak Panji akhirnya bertanya. "Bapak yang
pandai, bagaimana kau tahu nama kudaku dan sesungguhnya apa maksudmu dengan
nyanyian tadi?"
Si botak mata buta menguap lebar-lebar. Disandarkannya
pungung dan kepalanya ke batang pohan di belakangnya lalu tidur dengan
mendengkur. Bagaimanapun Panji Kenanga berseru keras memanggil, tetap saja dia
terus ngorok.
Panji Kenanga geleng-gelengkan kepala. "Manusia
aneh," katanya dalam hati.
Karena saat itu hujan telah berhenti, setelah
memikirkan makna nyanyian si botak tadi maka akhirnya Panji Kenanga naik ke
punggung kudanya, langsung menuju ke utara. Setelah merancah jalan yang becek
akibat air hujan, Panji Kenanga menemui sebuah lereng pendek berbatu-batu. Di
seberang lereng tersebut, diantara pepohonan yang bertumbuhan di sana sini
dilihatnya sebuah jalan kecil berliku-liku. Apa yang menarik perhatian pemuda
ini adalah kekeringan yang menyelimuti daerah di seberang lereng berbatu-batu
itu. Rupanya hujan tidak turun di daerah itu.
Panji Kenanga menyentakkan tali kekang. Angin Salju
kembali menggerakkan keempat kakinya. Tak lama kemudian kedua makhluk itu telah
menempuh jalan kecil vang sebelumnya terlihat dari atas lereng. Ada kira kira
setengah peminuman teh melintasi jalan itu tiba-tiba Angin Salju tanpa
diperintahkan menghentikan larinya, mengangkat kedua kaki depannya
tinggi-tinggi lalu meringkik dahsyat!
"Kalau bukannya ada bahaya atau sesuatu yang luar
biasa di depan sana, tentu binatang ini tak akan meringkik begini rupa,"
membatin Panji Kenanga, Dia melompat dari punggung Angin Salju. Diusapnya tengkuk
binatang ini beberapa kali seraya berkata, "Tenang sobatku, tenang
..." Si pemuda kemudian melangkah mengikuti Angin Salju yang telah lebih
dulu bergerak ke depan.
Belum lagi dua puluh langkah berjalan, Panji Kenanga
mulai melihat bekas-bekas perkelahian di jalan sempit itu. Semak belukar banyak
yang rambas sedang di tanah ada noda-noda hitam membeku. Pemuda ini melangkah
terus. Tepat pada langkah yang keempat puluh, kedua kakinya laksana di pantek
ke tanah. Mukanya berubah. Untuk seketika dia tidak dapat bergerak seperti
patung.
"Widura!" serunya sesaat kemudian lalu
menghambur ke muka.
Di tepi jalan tergelimpang sesosok tubuh berpakaian
biru. Muka dan bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian kelihatan pucat
sekali laksana kain kafan. Di sampingnya, diatas tanah tampak noda-noda hitam.
Ini adalah darah yang telah membeku. Dan sosok tubuh itu adalah Widura yang
telah jadi mayat. Panji Kenanga berlutut di samping jenazah adik
seperguruannya. Tubuhnya bergetar. Rahangnya terkatup rapat-rapat menahan
geram. Dia duduk di tanah memangku kepala Widura yang pucat tiada berdarah.
Saat itulah dilihatnya urat nadi yang putus di bagian leher! Ini adaiah aneh.
Luka yang terlihat di leher itu jelas bukan luka bukan luka akibat perkelahian.
Lalu paras dan sekujur tubuh yang pucat pasi seperti tidak berdarah itu, apakah
yang menyebabkannya?
Panji Kenanga lantas ingat pada keterangan gurunya.
Yaitu bahwa dunia persilatan tengah dilanda malapetaka yang disebabkan oleh
orang dari Istana Darah. Bukan mustahil manusia-manusia terkutuk itulah yang
telah membunuh Widura. Tetapi tubuh yang seolah-olah kempes tanpa berdarah?
Apakah mungkin disedot? Geraham Panji Kenanga bergemeletakan. Dia teringat
Miani. Bagaimana dan di mana gadis itu sekarang?
Panji Kenanya memandang berkeliling dengan hati perih.
Hatinya bergetar ketika pandangannya membentur gurat garet di tanah yang
merupakan tulisan yang hampir pupus oleh udara. Tulisan itu tidak begitu jelas
namun sedikit demi sedikit, dengan susah payah berhasil juga disambung-sambung
oleh si pemuda dan ternyata berbunyi.
Kalau terjadi apa-apa dengan diriku,
yang menyebabkannya adalah manusiamanusiaterkutuk dari
Istana Darah.Mereka juga bertanggung jawabatas keselamatan jiwa dan kehormatan
Miani.WiduraPanji Kenanga kerenyitkan kening. Dia berpikir. Bagaimana Widura
bisa meninggalkan pesan begitu? Dan kapan dibuatnya? Atau mungkin dia sudah
menduga ada bahaya terlebih dahulu hingga siang-siang telah membuat tulisan
begitu rupa? Tentu saja semua pertanyaan itu tak bisa dijawab oleh Panji
Kenanga. Dia hanya bisa menduga-duga. Sebenarnya bagaimana dan kapankah Widura
membuat tulisan di tanah yang berupa pesan itu?
Pada waktu dia pertama kali dihajar oleh Hulubalang
Darah Ketujuh sehingga mental dari atas kuda dan terguling di tanah, Widura
yang berotak cerdik segera memaklumi bahwa lawan-lawannya bukanlah orang
sembarangan. Apalagi sesudah diketahuinya bahwa manusia berpakaian serba merah
itu adalah Hulubalanghulubalang Istana Darah yang rata-rata berkepandaian
sangat tinggi dan bukan tandingannya. Yakin kalau dirinya tak bisa lolos dari
bahaya maut sedang untuk menyerah atau lari dia tak mau melakukannya, di
samping itu menyadari pula bahwa kedua hulubalang Darah itu pasti akan
menangkap Miani hidup-hidup, maka selagi tertelungkup di tanah dengan cepat
diguratnya tulisan yang merupakan pesan itu dengan ujung jarinya yang dialiri
tenaga dalam.
Apa yang dikerjakan oleh Widura sama sekali tidak
terlihat oleh Hulubalang Darah Ketujuh karena saat itu Hulubalang Darah Ketujuh
tengah sibuk menghadapi serangan pedang Miani.
"Tepat seperti apa yang diduga oleh guru,"
kata Panji Kenanga dalam hati. "Walau bagaimanapun aku tak akan berpangku
tangan. Sekalipun menyabung nyawa ke lautan api, hutang nyawa ini harus
kubalaskan. Apalagi Miani pasti berada di tangan keparat-keparat durjana
itu!"
Panji Kenanga berdiri. Didukungnya jenazah adik seperguruannya
dan diletakkannya di bawah satu pohon yang rindang. Di bagian lain dari pohon
dengan sebisa-bisanya dia mulai menggali sebuah lobang. Lalu jenazah Widura
dikuburkannya ke dalam lobang itu. Setelah ditimbun dengan tanah, makam itu
ditutupnya dengan batu-batu agar tidak dikorek oleh binatang buas.
Setelah merenung sejenak di hadapan makam adik
seperguruannya itu, Panji Kenanga lalu melangkah ke tempat Angin Salju tegak
menunggu. Saat itu juga dia memutuskan untuk mencari di mana letak Istana
Darah. Namun mendadak dia ingat kembali pada si botak bermata buta yang
sebelumnya telah ditemuinya. "Manusia itu aneh," kata Panji dalam
hati. "Dia sama sekali tidak mau mernberi tahu siapa dirinya. Bukan
mustahil dia adalah salah seorang bergundal Istana Darah. Aku harus meyakinkan
dulu siapa dia sebenarnya." Berpikir sampai di situ Panji lantas memutar
kudanya.
Ketika dia kembali ke tempat dimana sebelumnya dia
bertemu dengan orang aneh berkepala botak itu, didapatinya manusia ini masih
duduk di bawah pohon dan tidur mendengkur. Kepingan sepuluh uang emas masih
bertempelan rapi di kepalanya.
"Bapak banguniah!" kata Panji dengan suara
keras. Dia berseru sampai beberapa kali tapi orang itu masih saja terus tidur
lelap. Panji jadi penasaran. Tapi apa yang harus dilakukannya? Jika nyata-nyata
dia tahu si botak ini benar-benar kaki tangan Istana Darah tentu dia tak perlu
repot-repot pakai membangunkan segala, langsung menghajarnya. Namun karena dia
belum punya bukti-bukti maka dia tak mau kesalahan turun tangan. Akhirnya
dengan mengkal Panji Kenanga duduk di bawah sebatang pohon yang
berhadap-hadapan dengan si botak. Ketika matahari sudah jauh condong ke barat
si botak masih juga belum bangun. Bahkan ketika matahari masuk ke ufuk
tenggelamnya di sebelah barat dan hari mulai gelap, si botak masih saja terus
ngorok.
"Tak mungkin kutunggu lebih lama!" kata
Panji Kenanga. "Dia harus dibangunkan dengan tangan atau dengan
kaki!"
Si Pemuda melangkah mendekati si botak yang mendengkur
di bawah pohon. Tangannya diulurkan untuk menepuk bahu orang itu. Namun sebelum
tangannya menyentuh tubuh si botak satu bentakan menggeledek di seantero tempat
itu.
"Ini dia bangsatnya yang kucari-cari!"
Bentakan itu disusul dengan berkelebatnya satu
bayangan tubuh manusia. Panji Kenanga kaget bukan main dan cepat berpaling.
***
DI HADAPAN Panji Kenanga saat itu berdiri seorang lelaki berbadan gemuk seperti bola. Rambut dan wajahnya dicat dengan cairan berwarna biru. Kedua tangannya sebatas sikut juga berwaena biru. Manusia ini memandang buas pada si botak yang saat itu masih asyik tertidur pulas. Lalu dia memalingkan kepala pada Panji Kenanga. Dari mulutnya terdengar suara macam harimau menggereng.
***
DI HADAPAN Panji Kenanga saat itu berdiri seorang lelaki berbadan gemuk seperti bola. Rambut dan wajahnya dicat dengan cairan berwarna biru. Kedua tangannya sebatas sikut juga berwaena biru. Manusia ini memandang buas pada si botak yang saat itu masih asyik tertidur pulas. Lalu dia memalingkan kepala pada Panji Kenanga. Dari mulutnya terdengar suara macam harimau menggereng.
"Kau tentu kambratnya Si Botak Mata Buta
ini!" damprat orang bermuka biru seraya melangkah mendekati Panji Kenanga
dengan kedua tangan terpentang.
"Aku tidak ada sangkut paut apa-apa dengan dia.
Kenalpun tidak. Kau sendiri siapa?" bertanya Panji Kenanga.
Si gendut tidak perdulikan pertanyaan Panji malah
menjawa. "Puah, kebenaran ucapanmu akan kuselidiki kemudian. Jika ternyata
kau masih punya hubungan dengan bangsat gundul itu, kelak kau juga bakal
menerima bagian. Sekarang minggirlah!"
Panji Kenanga melihat orang berbadan gemuk bermuka
biru itu mengangkat kedua tangannya setinggi kepala. Sesaat kemudian lengannya
yang berwarna biru itu tampak mengeluarkan sinar biru gelap menggidikkan.
"Minggir!" teriak si muka biru keras
menggeledek dan marah karena si pemuda masih menghalang di depannya.
"Eh, kau mau bikin apa?" bertanya Panji.
"Tidak usah tanya! Lihat saja nasib yang bakal diterima si Botak. Dan kelak kau pun menerima bagianmu!"
"Tidak usah tanya! Lihat saja nasib yang bakal diterima si Botak. Dan kelak kau pun menerima bagianmu!"
Panji Kenanga tidak mau bergeser dari tempatnya malah
berkacak pinggang. "Menyerang lawan yang sedang tidur adalah tindakan
pengecut!" katanya. "Kalau mau buat perhitungan bangunkan dia lebih
dulu!"
"Anak setan! Kalau begitu biarlah kau mampus
bersama-sama dia kejap ini juga!"
Selesai berkata begitu si muka biru memukulkan kedua
tangannya. Satu ke arah kepala si botak yang masih tidur lelap, satunya lagi ke
arah Panji Kenanga.
Dua sinar biru menderu dahsyat. Mengeluarkan hawa
teramat panas. Meskipun saat itu Panji Kenanga masih merasa si Botak Mata Buta
adalah kaki tangan Istana Darah, namun melihat orang diserang dengan cara
pengecut begitu rupa adalah bertentangan dengan jiwa kesatrianya. Pemuda ini
berseru nyaring lalu berkelebat cepat ke arah pohon di mana Si Botak Mata Buta
berada. Maksudnya hendak menyelamatkan orang ini. Namun dia hanya menemui
tempat kosong karena lebih cepat dari gerakannya, hampir tidak kelihatan, si botak
itu telah berkelebat lenyap dari pohon dimana dia tidur!
Sinar pukulan melesat di atas punggung Panji Kenanga.
Pemuda ini jatuhkan diri lalu bergulingan di tanah. Di belakangnya terdengar
suara braak! Pohan besar tempat si botak tadi tidur patah dan tumbang dengan
mengeluarkan suara gaduh akibat dihantam pukulan si gendut bermuka biru.
Hebatnya lagi baik batang pohon yang masih menancap di tanah maupun yang
terlepas tumbang keseluruhannya kini kelihatan berwarna biru!
Nyatalah manusia bermuka biru itu betul-betul
menginginkan kematian Panji Kenanga dan Si Botak Mata Buta. Karena begitu
menyerang pertama kali dia sudah lancarkan pukulan maut yang mengandung racun
mematikan!
Ketika Panji Kenanga berdiri kembali, pemuda ini
melihat Si Botak Mata Buta telah berada di bawah pohon yang lain, duduk
bersandar dan mengorok persis seperti sebelumnya. Bahkan sepuluh uang emaspun
masih tetap ada di kepalanya yang botak! Di lain pihak si gendut muka biru
menjadi gemas bukan main melihat kedua orang itu berhasil mengelakkan pukulan
saktinya yang bernama "kelabang biru". Lebih-lebih Si Botak Mata Buta
dianggapnya sengaja telah mempermainkannya.
"Kupecahkan kepala kalian!" teriak si muka
biru garang lalu kembali menyerbu dengan dua kepalan diayunkan. Yang satu
menyerang Si Botak Mats Buta, yang lainnya menghantam ke arah dada Panji
Kenanga.
Murid Brahmana dari gunung Raung itu menggeser kakinya
kesamping, menepis lengan lawan dengan lengan kirinya. Sewaktu masing-masing
lengan saling beradu, Panji Kenanga mengigit bibir karena merasakan lengannya
pedas bukan main. Di lain pihak si muka biru tak kurang kagetnya karena
ternyata tenaga dorong lengan lawan sanggup menepis demikian rupa hingga bukan
saja serangannya terhadap si pemuda gagal, tapi serangan yang ditujukan pada Si
Botak Mats Buta pun meleset akibat tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang hampir
sejauh dua langkah!
Semua itu membuat amarah si gendut ini semakin
memuncak. Tiga perempat tenaga dalamnya kini disalurkan ke tangan kanan. Lengan
kanannya kembali memancarkan sinar biru. Kali ini lebih biru dan gelap dari
yang tadi. Panji Kenanga maklum kalau lawan kini siap-siap akan melancarkan
pukulan saktinya disertai tenaga dalam yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Maka diapun tidak menunggu lebih lama dan segera menyalurkan tiga perempat
tenaga dalamnya ke tangan kanan. Begitu lawan melancarkan pukulan
"kelabang biru" yang mengandung racun mematikan itu, Panji Kenanga
segera menyambut dengan satu pukulan yang tak kalah hebatnya, yang menebar
selarik sinar putih ke abu-abuan.
Dua pukulan sakti saling bentrokan. Karena
masing-masing dialiri tenaga dalam yang tinggi maka pertemua dua tenaga
tersebut menimbulkan suara seperti letusan. Pohon-pohon bergoyang, tanah
bergetar. Sepasang kaki si muka biru melesak sampai tiga senti ke tanah sedang
kedua kaki Panji Kenanga masuk ke dalam tanah hampir setengah jengkal!
Dari sini nyatalah meski masing-masing pihak sama-sama mengandalkan tenaga dalam sebanyak tiga perempat bagian namun tingkat atau mutu kekuatan tenaga dalam yang dimiliki si muka biru lebih sempurna dari yang dikuasai Panji Kenanga. Hai ini adalah wajar karena Panji Kenanga masih terlalu muda, kurang pengalaman dan masih banyak harus berlatih sementara lawannya sudah belasan tahun malang melintang di dunia persilatan dan terus menerus melatih diri.
Dari sini nyatalah meski masing-masing pihak sama-sama mengandalkan tenaga dalam sebanyak tiga perempat bagian namun tingkat atau mutu kekuatan tenaga dalam yang dimiliki si muka biru lebih sempurna dari yang dikuasai Panji Kenanga. Hai ini adalah wajar karena Panji Kenanga masih terlalu muda, kurang pengalaman dan masih banyak harus berlatih sementara lawannya sudah belasan tahun malang melintang di dunia persilatan dan terus menerus melatih diri.
Panji Kenanga yang memaklumi sepenuhnya hal itu
bukannya menjadi takut malah sebaliknya sudah siap-siap untuk maju kembali
dengan segala keberanian yang ada meskipun saat itu dadanya terasa
berdeenyut-denyut.
Si gendut muka biru diam-diam dalam hatinya
terheran-heran. Pukulan sakti yang tadi dilepaskan pemuda itu beberapa tahun
lewat pernah disaksikannya namun dia tak ingat lagi siapa yang memiliki ilmu
pukulan tersebut. Disamping itu dia jugs tidak menyangka kalau tingkat tenaga
dalam lawan akan sanggup mengimbangi tenaga dalamnya yang sudah tinggi itu.
Manusia ini tak sempat untuk berpikir panjangpanjang
karena saat itu si pemuda dilihatnya sudah menerjang ke hadapannya. Maka
terjadilah perkelahian tangan kosong yang seru. Si muka biru senantiasa
berusaha mengadakan bentrokan lengan. Sebaliknya Panji Kenanga yangg maklum
kehebatan sepasang lengan lawan dengan cerdik selalu menghindarkan terjadinya
bentrokan. Dia bergerak gesit kian kemari melancarkan serangan-serangan kilat yang
selalu berubah-ubah sehingga membuat si muka biru kebingungan.
Memang dalam hal meringankan tubuh dan kegesitan, si
muka biru yang gemuk seperti bola itu agak sulit menandingi lawannya yang masih
muda. Selama bertahun-tahun Panji Kenanga telah dididik dan melatih diri
melompat-lompat di ujung batu-batu sungai yang runcing dan licin berlumut. Dan
kini di tanah datar dengan sendirinya bukan satu hal yang sukar baginya untuk
bergerak lebih cepat dan gesit. Sambil terus bertempur si muka biru senantiasa
memperhatikan gerakan-gerakan ilmu silat lawannya. Lambat laun dia mulai dapat
menduga-duga. Untuk meyakinkan dugaannya ini maka diapun membentak.
"Anak setan! Ada sangkut paut apa kau dengan si
tua bangka Lokapala dari gunung Raung?!"
Panji Kenanga kaget. Namun cepat-cepat menyahuti,
"Selesaikan dulu pertempuran ini, baru nanti bertanya jawab sambil
minum-minum kopi!"
"Setan alas!" maki si muka biru geram
sekali. Dia berteriak nyaring dan tubuhnya berkelebat lebih cepat tapi jaraknya
sengaja diperjauh dari lawan hingga dia dapat melancarkan pukulan-pukulan
"kelabang biru" dengan leluasa.
Menghadapi ilmu pukulan lawan yang ampuh ini membuat
serangan Panji Kenanga mengendur dan beberapa jurus kemudian pemuda ini
terpaksa berada di bawah angin. Si muka biru melipat gandakan kecepatan
gerakannya, begitu juga tenaga dalamnya sehingga Panji Kenanga semakin
terdesak. Meskipun Panji telah mengeluarkan pula pukulan-pukulan saktinya
seperti yang bernama "mega putih"
namun tidak ada gunanya. Dirinya tambah lama tambah
kepepet. Dan pemuda ini mulai berpikir-pikir untuk mengeluarkan pedang Gajah
Biru yang diberikan gurunya. Tapi karena lawan ma'sih bertempur dengan tangan
kosong, hatinya merasa bimbang untuk mengeluarkan senjata tersebut. Dalam pada
itu keadaannya semakin kritis juga.
"Muka biru! Keluarkan senjatamu!" seru Panji
Kenanga memancing agar lawan mengeluarkan senjata dan dengan demikian dia tidak
akan merasa sungkan untuk mencabut pedangnya. Si muka biro tertawa mengejek.
"Untuk melenyapkan bocah setan macammu ini kenapa
pakai senjata segala? Lihat ini jurus kematianmu!"
Ucapan itu ditutup oleh si muka biru dengan satu
kelebatan tubuh yang luar biasa cepatnya. Tubuhnya lenyap dan tahu-tahu sudah
berada di atas lawannya sambil mengayunkan tiriju yung laksana palu godam ke
kepala Panji Kenanga, Pemuda ini menunduk seraya menghantamkan pukulan
"mega putih" ke perut lawan. Tapi dia terpedaya.
Begitu Panji Kenanga bergerak memukul, si muka biru
bergeser cepat ke samping. Pukulan "mega putih" mengenai tempat
kosong. Di kejap yang sama si muka biru menyorongkan satu tendangan kilat ke
bawah ketiak kanan Panji Kenanga.
Dalam keadaan tubuh masih terdorong ke muka karena
dalam kuda-kuda memukul, Panji Kenanga sulit sekali untuk mengelakkan serangan
berbahaya itu. Masih diusahakannya untuk mencegah hantaman kaki lawan dengan
coba menekuk sikut memukul tulang kering si muka biru. Tetapi itupun terlambat
karena saat itu ujung kaki kanan lawan sudah menyelinap di bawah lengannya!
"Celaka!" keluh Panji Kenanga dalam hati.
***
DI SAAT itu, tiba-tiba terdengar suara bergelak. Satu gelombang angin yang amat deras menderu, membuat kedua orang yang tengah berkelahi terpelanting sejauh setengah tombak!
"Tapak Biru! Kau memang terlalu banyak mencari
urusan dengan orang lain!"
Panji Kenanga dan si muka biru yang ternyata bernama
Tapak Biru sama-sama memalingkan kepala ke arah datangnya suara. Yang bicara
ternyata adalah Si Botak Mata Buta yang saat itu telah bangun dari tidurnya
tapi masih duduk di bawah pohon sambil mengucak-ucak sepasang matanya yang
tidak melihat.
"Botak buta sialan! Memang kalau tidak kubunuh
kau sekarang tidak tenteram rasa hatiku! Ini mampuslah!" Tapak Biru lalu
memukulkan tangan kirinya ke arah pohon. Untuk kesekian kalinya pukulan
kelabang biru berkelebat di situ.
"Mentang-mentang memiliki pukulan baru yang
diandalkan sikapmu sombong selangit," ejek Si Botak Mata Buta.
"Cuhh!" dia meludah ke tanah dan mengangkat tangan kirinya. Satu
gelombang dingin bersiuran keluar dari telapak tangan orang ini dan sekaligus
memusnahkan serangan yang amat diandalkan Tapak Biru! Tapak Biru sampai
menyurut beberapa langkah melihat bagaimana ilmu pukulannya dibikin musnah
semudah itu.
"Sialan! Tidak kusangka bangsat buta ini sudah
maju kesaktiannya begitu jauh!" maki Tapak Biru dalam hati. Lalu dia
berteriak, "Botak! Berdirilah. Mari kita bertempur sampai seribu
jurus!"
"Baik orang gendut," jawab Si Botak Mata
Buto seraya berdiri dengan sikap acuh tak acuh dan sambil tepuk-tepuk pantat
celana komprangnya.
Justru di saat itu Tapak Biru sudah menerjang
menyerangnya dengan satu tendangan kilat. Si Botak tertawa. "Kelicikanmu
masih seperti dulu saja, gendut!" Lalu dia cepat-cepat menyingkir dan
akibatnya tendangan Tapak Biru mengenai batang pohon di sampingnya hingga patah
dan tumbang dan menjadi biru akibat racun kelabang biru.
Penasaran Tapak Biru membalikkan tubuhnya dan kembali
lepaskan pukulan kelabang biru ke depan. Di belakangnya terdengar gelak tertawa
mengejek.
"Kau toh tidak buta sepertiku, Tapak Biru. Kenapa
menyerang tempat kosong?"
Secepat kilat Tapak Biru memutar tubuh dan sekali lagi
lepaskan pukulan saktinya. Namun lagi-lagi dia mendengar suara tawa dari arah
belakang. Si Botak Mata Buta ternyata telah mempermainkannya. Sebenarnya si
buta ini tidak berada di belakangnya. Namun karena dia memiliki semacam ilmu
memindahkan suara maka suaranya terdengar seperti datang dari belakang, padahal
dia berada di tempat lain tak jauh dari situ!
Menyaksikan bagaimana si buta mempermainkan Tapak Biru
mau tak mau Panji Kenanga merasa kagum sekali.
"Botak mata buta mengapa kau hanya berani
berkelahi dengan cara pengecut begitu?!" damprat Tapak Biru marah sekali.
Rahanqnya bertonjolan dan dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebuah benda
bulat sepanjang dua jengkal. Ternyata adalah sebuah seruling yang terbuat dari
perak. Sementara itu keadaan di tempat itu telah berubaah menjadi gelap.
Apalagi di situ penuh ditumbuhi pohon-pohon berdaun rapat sekali.
"Cara berkelahi bagaimana yang kau inginkan Tapak
Biru?" bertanya si buta.
"Mari kita berhadap-hadapan mengadu kekuatan
batin!"
"Oh, begitu? Mengadu kekuatan batin berarti tidak
mempergunakan senjata bukan heh?!"
Terkejutlah Tapak Biru sedang Panji Kenanga melengak
terpaku di tempatnya. Keduanya tak habis pikir. Bagaimana orang buta ini
mengetahui kalau lawannya mengeluarkan dan memegang senjata? Meskipun buta
namun saat itu tidaklah terlalu sulit bagi Si Botak Mata Buta untuk mengetahui
bahwa Tapak Biru telah mengeluarkan senjata. Sinar terakhir matahari yang
merambas dari barat telah menimpa seruling yang terbuat dari perak. Sinarnya
memantul dan memijar ke muka si botak. Sekalipun buta tapi pijaran sinar itu
masih dapat dirasakan oleh urat-urat syarap di belakang matanya. Cuma tentu
saja dia tidak jelas senjata apa yang ada di tangan lawan saat itu.
Tanpa perdulikan ejekan lawan Tapak Biru mementang
kedua kakinya, mengalirkari tenaga dalam ke perut dan mendekatkan ujung
seruling ke bibirnya. Terdengar suara seruling mengalun. Mula-mula perlahan
lalu makin keras dan makin merdu. Si botak bergerak-gerak sepasang matanya yang
buta. Baik dia maupun Panji Kenanga sama-sama tercekat dengan alunan suara
seruling itu. Namun tanpa disadari oleh Panji Kenanga, lambat laun kepalanya
menjadi pusing dan berat sedang pemandangannya mulai berbinar-binar. Lututnya goyah
dan tubuhnya perlahan-lahan jatuh duduk di tanah!
Sebaliknya Si Botak Mata Buta masih juga berdiri tak
bergerak di tempatnya. Keningnya mengerenyit. Ada kelainan dirasakannya pada
denyutan nadinya serta aliran darahnya. Namun di mulutnya tersungging satu
senyuman. Setelah menutup jalan pendengarannya diapun membuka mulut,
"Tapak Biru, sejak kapan kau memiliki suling itu?
Pasti itu senjata curian heh? Bagusnya kau mengamen masuk kampung keluar
kampung, pasti kau bakal mengantongi banyak uang!"
Tapak Biru tidak perdulikan ejekan lawannya. Tiupan
serulingnya semakin keras dan tambah merdu.
"Ah, nyanyianmu dari itu ke itu juga Tapak Biru.
Bosan telingaku mendengarnya!" kata Si Botak Mata Buta. Lalu diputarnya
tangannya di udara tujuh kali berturut-turut. Pada akhir putaran tangan yang
ketujuh maka terdengarlah suara menderu seperti suara angin punting beliung.
Mula-mula perlahan, makin lamamakin keras hingga menelan suara tiupan seruling
Tapak Biru.
Betapapun Tapak Biru memperkeras tiupan serulingnya
tetap saja tak terdengar dalam bisingnya suara angin yang diciptakan Si Botak
Mata Buta. Malah kini kelihatan si muka biru tubuhnya bergetar dan pakaian
serta rambutnya melambai-lambai sedang Panji Kenanga yang tadi terduduk di
tanah, begitu suara seruling lenyap baru dia kembali sadar diri dan cepat
bangkit. Namun begitu berdiri angin punting beliung itu membuatnya
terhuyung-huyung.
Pemuda ini mengerahkan tenaga dalamnya. Tetap saja
tubuhnya bergetar dan lututnya sampat goyah. Cepat-cepat dia mendekati sebuah
pohon dan bersandar di situ. Putus asa dan jengkel Tapak Biru hentikan tiupan
seruling peraknya.
"Bangsat botak ini terlalu lihay bagiku. Di lain
hari saja kelak aku bakal menyelesaikan urusan dengan dia," gerutu Tapak
Biru dalam hati.
"Hai gendut pendek! Kenapa kau berhenti main
suling?" tanya Si Botak Mata Buta.
"Sayang aku tak punya waktu banyak untuk
melayanimu," sahut Tapak Biru berdalih. "Hari ini masih kuberi
kesempatan padamu untuk bernafas beberapa lama lagi. Kelak walau bagaimana
nyawa anjingmu akan kutagih untuk melunasi hutang jiwa kematian adikku!"
Si botak tertawa gelak-gelak. Patut diketahui sampai
saat itu sepuluh keping uang emas masih menempel di atas batok kepalanya yang
plontos.
"Kau memang pandai bersilat lidah. Tak apalah.
Kau boleh pergi. Tapi berikan dulu, suling curianmu itu padaku!"
"Jangan temahak jadi manusia!" damprat Tapak
Biru. "Suling ini akan kuberikan padamu jika kau sudah kubunuh. Sebagai
temanmu dalam liang kubur!"
Si botak usap-usap dagunya dan berkata, "Kalau
begitu kau boleh pilih Tapak Biru. Tinggalkan suling itu atau tinggalkan
nyawamu!"
"Botak, jangan melantur! Hari sudah mau malam.
Tak banyak waktu untuk mendengarkan celotehanmu!"
"Selesai berkata begitu Tapak Biru cepat-cepat
memutar tubuh hendak berlalu. Di belakangnya terdengar si botak berseru.
"Suling atau nyawamu, gendut!"
Di kejap itu juga si botak sudah berada di hadapan
Tapak Biru, menghadang larinya. Tapak Biru berkelebat ke jurusan lain. Namun
lebih cepat dari itu si botak sudah menghadang pula di depannya. Sekali lagi
dia melesat ke samping, sekali lagi pula si botak muncul menghadang di
hadapannya. Dihalangi begitu rupa Tapak Biru jadi marah sekali tapi juga
bingung melihat kehebatan lawan. Dia menerjang dengan menghujamkan suling perak
ke arah kening lawan. Yang diserang begitu merasakan datangnya angin serangan
ke arah kepalanya, cepat menunduk lalu menggerakkan kedua tangannya serentak.
Yang kiri memukul dada Tapak Biru sedang yang kanan menyantakkan seruling
perak.
Tapak Biru terpekik kesakitan. Disamping itu dia juas
terkejut karena suling perak di tangan kanannya tiada lagi sedang di depannya
Si Botak Mata Buta tertawa gelak-gelak.
"Masih inginkan suling ini! Ambillah!" kata
si botak seraya bolang-balingkan suling perak yang kini berada dalam
genggamannya.
Tapak Biru mendengus dan membantingkan kaki ke tanah
lalu meninggalkan tempat itu diantar suara tertawa mengekeh si botak. Selagi
Panji Kenanga menyaksikan hal itu dengan menahan tawa tiba-tiba si botak
berkelebat dan tahu-tahu Panji Kenanga merasakan satu pukulan keras menghantam
belakang kepalanya. Tak ampun lagi murid Brahmana Lokapala dari gunung Raung
ini roboh dan pingsan!
***
KETIKA Panji Kenanga sadarkan diri didapatinya hari telah malam. Keadaan sekitarnya gelap gulita. Tiupan angin dingin sekali menusuk tulang-tulangnya. Di kejauhan sesekali terdenger suara burung hantu mambuat auasana serasa mengerikan. Perlahan-lahan pemuda ini berdiri. Dirabanya bagian belakang kepalanya yang terasa mendenyut sakit. Dia terkejut sewaktu satu bayangan putih besar bergerak di sampingnya. Ketika dia berpaling tarnyata adalah kuda kesayangannya Angin Salju. Panji tersenyum dan menarik nafas lega. Dijentikkannya tangannya memberi tanda. Binatang itu datang mendekat.
***
KETIKA Panji Kenanga sadarkan diri didapatinya hari telah malam. Keadaan sekitarnya gelap gulita. Tiupan angin dingin sekali menusuk tulang-tulangnya. Di kejauhan sesekali terdenger suara burung hantu mambuat auasana serasa mengerikan. Perlahan-lahan pemuda ini berdiri. Dirabanya bagian belakang kepalanya yang terasa mendenyut sakit. Dia terkejut sewaktu satu bayangan putih besar bergerak di sampingnya. Ketika dia berpaling tarnyata adalah kuda kesayangannya Angin Salju. Panji tersenyum dan menarik nafas lega. Dijentikkannya tangannya memberi tanda. Binatang itu datang mendekat.
Panji Kenanga langsung naik ke punggung Angin Salju.
Sambil mengusap leher kuda ini dia berkata, "Bawa aku keluar dari tempat
celaka ini, sobat."
Seakan mengerti akan maksud tuannya Angin Salju
melompat dan lari meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian binatang ini sudah
menempuh sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah bukit. Dalam kencangnya lari
Angin Salju, Panji Kananga merasakan sesuatu menggandul di leher serta
memukul-mukul dadanya. Sebenamya hal itu terasa sejak tadi namun karena pemuda
ini hanya memikirkan peristiwa yang barusan dialami maka hal itu tak
terperhatikan olehnya.
Panji Kenanga menunduk memperhatikan dadanya. Terkejutlah pemuda ini. Tangan kanannya menyentak tali kekang kuda hingga Angin Salju dengan serta merta hentikan larinya. Pada sehelai benang yang terkalung dilehernya menggandul sebuah benda putih panjang yang bukan lain adalah seruling perak yang telah dirampas Si Botak Mata Buta dari tangan Tapak Biru.
Panji Kenanga menunduk memperhatikan dadanya. Terkejutlah pemuda ini. Tangan kanannya menyentak tali kekang kuda hingga Angin Salju dengan serta merta hentikan larinya. Pada sehelai benang yang terkalung dilehernya menggandul sebuah benda putih panjang yang bukan lain adalah seruling perak yang telah dirampas Si Botak Mata Buta dari tangan Tapak Biru.
"Bagaimana benda ini bisa tergantung pada
leherku?" tanya Panji Kenanga pada diri sendiri.
Digerakkannya tangannya. Sekali renggut putuslah
benang penggantung seruling. Panji menimang-nimang benda itu beberapa lama dan
berpikir-pikir. Tak dapat disangsikan lagi tentu Si Botak Mate Buta yang punya
kerja. Mula-mula orang aneh itu memukul kepalanya hingga pingsan. Dalam keadaan
pingaan lalu dia menggantungkan seruling perak di lehernya.
"Tapi mengapa hal itu dilakukannya?" muncul
lagi pertanyaan baru dalam hati si pemuda. Dan pertanyaan ini tak kunjung dapat
dijawabnya.
Panji memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan
berkelap-kelip. Bulan sabit muncul di balik sekelompok awan. Si pemuda meneliti
suling perak di tangan kanannya itu. Pada waktu itulah dilihatnya segulung
kertas pada ujung sebelah bawah. Segera gulungan kertas ini dicabutnya. Ketika
dibuka di dalamnya ternyata ada beberapa baris tulisan yang berbunyi.:
Pembalasan harus dilakukan
Tapi akal pikiran harus diutamakanKutitipkan Suling
Perak padamuBertemu pemiliknya harap serahkan.Walaupun di bawah tulisan itu
tidak tertera tanda atau nama pembuat surat namun Panji Kenanga sudah bisa
menduga bahwa surat itu dibuat oleh orang botak yang lihay itu. Dua kali orang
itu memberi nasihat agar mempergunakan akal pikiran bila dia hendak melakukan
pembalasan. Pertama dalam nyanyian pada pertemuan waktu hujan lebat dan kedua dalam
surat tersebut "Kalau begitu besar kemungkinan dugaanku meleset,"
kata Panji dalam hati. "Agaknya dia bukan kaki tangan atau bergundal
Istana Darah." Kembali Panji menimang-nimang suiing perak itu. Siapakah
gerangan pemilik sebenarnya benda itu? Mengapa justru Si Botak Mata Buta
menitinpkannya padanya? Akhirnya Panji menyelipkan suling tersebut di balik
pinggang pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan lagi kemana
Angin Salju membawanya. Tak selang berapa lama di kejauhant kelihatan kelap-kelip
nyala api.
"Sobatku, larilah ke arah nyala api itu. Di sana pasti ada sebuah desa atau kampung. Kita bisa istirahat di sana malam ini," bisik Panji Kenanga.
"Sobatku, larilah ke arah nyala api itu. Di sana pasti ada sebuah desa atau kampung. Kita bisa istirahat di sana malam ini," bisik Panji Kenanga.
Angin Salju mengeluarkan suara reperti melenguh tanda
dia mengerti betul apa yang dimaksudkan tuannya. Dan binatang ini lebih
mempercepat larinya.
***Kampung Warnasari sebenarnya tak tepat lagi disebut
sebagai kampung karena jumlah rumah yang ada di situ banyak sekali. Di samping
itu terdapat pula tiga buah jalan besar serta jalan-jalan kecil. Lebih tepat
kiranya bilamana Warnasari dikatakan sebagai sebuah kota kecil. Malam itu
Warnasari diliputi kesunyian. Namun kesunyian sekali ini jauh berbeda denqan
kesunyian seperti biasanya. Kesunyian kali ini adalah kesunyian yang dipaksakan
oleh keadaan. Dan keadaan itu dibuat oleh sekelompok orang-orang yang saat itu
berada di kedai paling besar di Warnasari.
Dalam kedai itu suasana biasanya ramai. Suara
orang-orang yang asyik mengobrol sesekali dipecahkan oleh gelak tawa berderai.
Tiga orang laki-laki berpakaian serba hitam dan bertampang bengis duduk di
tengah kedai. Mereka inilah yang membuat suasana tidak seperti biasanya lagi.
Tak ada yang berani bicara keras apalagi tertawa.
Di atas meja di hadapan mereka terhidang segala macam
makanan yang enak-enak serta minuman yang lezat-lezat. Demikian banyaknya
makanan dan minuman itu hingga dua buah meja terpaksa digabung menjadi satu.
Pemilik kedai seorang laki-laki tua bemama Ki Sepuh
Bawean, berdiri di sudut kedai dengan muka seputih kertas, lutut gemetar. Tiga
orang pelayan berdiri disampingnya. Seperti pemilik kedai para pelayan inipun
berada dalam ketakutan yang amat sangat. Sebelumnya kedai itu dipenuhi oleh
selusin tamu. Namun begitu tiga manusia ini masuk, para tamu yang ada di situ
cepat-cepat membayar makanan dan minuman masing-masing lalu keluar dari kedai.
Bahkan ada di antara mereka yang belum sempat mencicipi makanan ataupun minuman
namun karena kawatir cepat-cepat saja berlalu.
Tiga tamu berpakaian serba hitam melahap makanan di
atas meja laksana singa-singa buas yang telah berhari-hari tidak makan. Di
pintu belakang kedai tiga orang berseragam hitam lagi tampak berdiri sedang di
pintu depan lima orang dengan pakaian yang sama tampak berjaga-jaga sambil
bertolak pinggang dan menghisap rokok.
"Hai Bawean!" sentak salah seorang dari tiga
laki-laki yang tengah makan dalam kedai. "Bawa ke sini satu kendi tuak
baru untukku!"
Dengan tergopoh-gopoh pemilik kedai meninggalkan
tempatnya kemudian muncul kembali membawa sebuah kendi berisi tuak. Minuman ini
di letakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja lalu kembali ke tempatnya
semula di sudut kedai menunggu perintah selanjutnya.
"Lama juga anak-anak pergi memanggil kepala
kampung itu," kata salah seorang yang duduk melahap makanan. Namanya
Ronggokarapan. Dia adalah kepala dari semua orang yang berpakaian serba hitam
itu. Pimpinan gerombolan rampok yang paling ditakuti di daarah sekitar hulu
Kali Bedadung. Dua orang yang ikut makan bersamanya adalah orang-orang
kepercayaannya alias tangan kanannya yang masing-masing bernama Randuwongso dan
Taliwongso. Keduanya kakak beradik.
Dulunya Randuwongso dan Taliwongso merupakan pimpinan
rampok yang malang melintang sepanjang Kali Bedadung. Dalam masa yang sama di
daratan Ronggokarapan bersama beberapa anak buahnya melakukan kejahatan yang
serupa. Pada suatu kali terjadilah pertemuan yang tidak disangka-sangka antara
duao kelompok penjahat itu. Pertempuran tak dapat dihindarkan. Namun
Ronggokarapan memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua bersaudara
itu. Taliwongso dan Randuwongso berhasil dikalahkannya dan sejak itu
Ronggokarapan menjadi pimpinan dari gabungan dua kelompok penjahat itu.
Meskipun dua bersaudara Wongso itu pada dasarnya menanam dendam kesumat
terhadap Ronggokarapan namun mereka menyadari adalah mencari mati jika mereka
berani melakukan sesuatu selagi ilmu kepandaian mereka jauh di bawah
Ronggokarapan.
Di kejauhan terdengar derap kaki kuda.
"Itu pasti anak-anak," kata Randuwongso.
Ronggokarapan menyeringai.
"Kali ini kepala kampung itu harus dihajar
habis-habisan. Biar dia tahu rasa!" kata pamimpin rampok itu lalu
memandang ke pintu. Saat itu di luar kedai suara rentak kaki kuda terdengar
semakin dekat. Lima anak buah rampok yang tegak di ambang pintu memandang ke
ujung jalan.
Tak selang berapa lama dari tikungan di ujung jalan
muncullah seekor kuda putih berikut penunggangnya. Mendekati kedai itu si
penunggang memperlambat lari kudanya. Di depan kedai dilihatnya hampir seluruh
kuda tertambat sedang di ambang pintu lima orang berpakaian serba hitam dan
rata-rata bertampang buas tegak berjejer membuat hatinya kurang enak dan
curiga.
Si penunggang kuda yang bukan lain adalah Panji
Kenanga berpikir sejenak. Lalu menghentikan Angin Salju di depan kedai dan
melompat turun. Perutnya sangat lapar dan memang dia musti berhenti di situ
karena malam buta begini di mana pula akan mencari kedai lain yang masih buka.
Dia tengah melangkah ke pintu kedai ketika salah seorang dari lima manusia yang
tegak menghadang di pintu masuk menegurnya. "Orang muda, putar langkahmu.
Tak satu orangpun boleh masuk ke dalam!"
Panji Kenanga berpaling don memandang muka orang itu.
"Memangnya ads apa?" tanya si pemuda.
"Tak usah banyak bacot!" sentak kawan rampok
yang satu lagi. "Masih untung kau disuruh pergi baikbaik. Kalau cuma roh
busukmu yang disuruh minggat sedang tubuh anjingmu tinggal di sini, baru kau
tahu rasa!"
"Oh, kalau begitu itu lain ceritanya sobat,"
Mata Panji Kenanga seraya tersenyum. Dia sudah maklum kini dengan
manusia-manusia macam apa sebenarnya dia sedang berhadapan. Acuh tak acuh dia
meneruskan langkahnya menuju pintu kedai.
"Kurang ajar! Dikiranya kita ini siapa!"
Rampok yang membentak melompat ke hadapan Panji
Kenanga seraya bacokkan goloknya ke kepala pemuda ini. Si pemuda cepat
manyingkir. Golok yang menderu menembus udara kosong terus menghantam dinding
kedai!
***
"HAI! Ada apa ribut-ribut di luar sana?!" terdengar bentakan Ronggokarapan dari dalam kedai. Kedua pembantunya segera berdiri dan melangkah ke pintu.
"Ada apa disini?!" tanya Randuwongso.
"Pemuda kurang ajar ini hendak memaksa masuk ke
dalam kedai!" jawab salah seorang perampok.
"Bah, kukira ada apa. Hanya seekor monyet kesasar
kalian ribut-ribut macam orang keblinger!" kata Taliwongso lalu kembali
masuk ke dalam. Sementara itu sambil bertolak pinggang Randuwongso menatap si
pemuda asing dan bertanya dengan kasar.
"Pemuda hina dina, kau siapa?!"
"Namaku Panji Kenanga. Aku tidak mengerti mengapa
aku tidak boleh masuk ke dalam kedai. Toh kedai ini bukan punya nenek
moyangnya!"
"Hem..." Randuwdngso tersenyum buruk lalu
berkata, "Kau tidak mengerti. Jadi mau kubikin mengerti?"
Dia berpaling pada lima orang anak buahnya yang ada di
halaman kedai. "Hajar monyet alas ini sampai dia mengerti!"
Serempak dengan itu kelima orang perampok tersebut
menerjang menyerang Panji Kenanga. Namun gerakan mereka terhenti karena saat
itu dari dalam kedai terdengar seruan Ronggokarapan.
"Randu! Biarkan monyet alas kesasar itu masuk!
Aku mau lihat tampangnya!"
Melihat orang-orang disitu tak jadi turunkan tangan
jahat mengeroyoknya karena ada yang berteriak dari dalam. Panji Kenanga segera
dapat menduga. Siapapun adanya orang yang barusan berseru dia pastilah pemimpin
dari keseluruhan manusia-manusia jahat yang ada di tempat itu.
Panji Kenanga tersenyum pada orang-orang yang ada di
sekelilingnya dan berkata, "Nah, apa kataku. Kedai ini bukan milik nenek
moyang kalian, kan? Buktinya pemimpin kalian sendiri yang mengundangku
masuk!" Habis berkata begitu dengan lenggang kangkung Panji Kenanga
melangkah masuk ke dalam kedai. Satu hal yang tak terduga terjadi sewaktu
pemuda ini baru saja masuk dua langkah ke dalam kedai. Sebuah benda melayang
pesat ke arah kepalanya!
Saking cepatnya benda itu melesat Panji Kenanga tak
sempat mengenali benda apa adanya namun dengan cekatan dia menundukkan kepala
dan berhasil mengelakkan hantaman benda tersebut. Seseat kemudian di
belakangnya terdengar suara benda tadi pecah berantakan. Pemuda ini melirik.
Ternyata sebuah gelas besar yang telah dilemparkan ke kepalanya. Yang melempar
adalah lelaki yang duduk mengangkat kaki di belakang meja makan di tengah
kedai, bermata merah buas, bercambang bawuk dan berbibir tebal. Dialah
Ronggokarapan.
"Bagus, sanggup juga kau mengelak ya?" kata
si kepala rampok sambil menyeringai. "Sekarang coba elakkan yang
ini!" Kedua tangannya yang bertelapak tebal dan berjari-jari besar
digebrakkan ke atas meja. Hebatnya, lima buah piring berisi makanan dan tiga
buah gelas di atas meja itu laksana anak panah lepas dari busurnya, melesat ke
arah delapan bagian tubuh Panji Kenanga!
Kaget murid Brahmana Lokapala itu bukan main. Tidak
disangkanya pemimpin rampok tergebut memiliki kepandaian begitu hebat. Dengan
gesit Panji Kenanga cabut suling perak dari balik pinggangnya. Lalu terdengar
suara trang-trang-trang sampai delapan kali berturut-turut. Lima buah piring
dan tiga gelas berhamburan pecah ke lantai.
Kini Ronggokarapan yang ganti terkejut.
"Sobat mata merah! Ini kukembalikan
seranganmu!" seru Panji Kenanga tiba-tiba. Si pemuda hantamkan kaki
kanannya ke lantai kedai. Puluhan pecahan piring dan gelas yang ada di lantai,
laksana daun kering dihembus angin, menderu menyambar ke arah pemimpin rampok
Kali Bedadung itu!
Saking kagetnya melihat kejadian yang sebelumnya tak
pernah disaksikannya itu Ronggokarapan sampai keluarkan seruan tertahan. Namun
dia tahu kalau bahaya mengancam. Kedua tangannya turun dengan cepat ke bawah
dan di lain kejap dia telah mengangkat meja makan besar itu ke atas untuk
melindungi tubuhnya. Puluhan beling pecahan gelas dan piring menancap pada
papan meja. Belasan lainnya bertebaran lewat di sampingnya. Dapat dibayangkan
bagaimana kalau puluhan pecahan kaca itu menancap di kepala dan tubuh
Ronggokarapan!
"Orang muda, terima kasih atas serangan
balasanmu!" kata si kepala rampok keren. "Kau menang. Dan terimalah
hadiah kemenanganmu ini!" terdengar suara Ronggokarapan tertawa dari balik
meja. Di lain ketika tiba-tiba meja yang besar yang terbuat dari kayu jati dan
beratnya tidak kurang dari tujuh puluh kati itu dilemparkannya ke arah Panji Kenanga.
Meja itu menderu dahsyat laksana dihantam topan. Panji Kenanga tampak tak
bergerak di tempatnya. Tiga jengkal lagi meja besar itu akan melabraknya,
pemuda ini angkat kedua tangannya menangkap dua dari empat kaki meja. Lalu
dengan gerakan seperti seorang main akrobat meja yang berat itu diletakkannya
baik-baik ke lantai tanpa menimbulkan suara sedikitpun!
Semua mata memandang hampir tak berkedip pada pemuda
itu. Keadaan dalam kedai jadi sunyi senyap. Di ujung kiri pemilik kedai berdiri
dengan tubuh menggigil. Apa yang disaksikannya tadi sungguh membuatnya kagum
luar biasa tetapi sekaligus juga membuatnya ketakutan. Kalau dua orang berilmu
tinggi baku hantam dalam kedainya, pastilah segala perabotan yang ada di situ
akan porak poranda. Bahkan bukan mustahil kedainya akan amblas roboh!
Di luar, terdengar derap kaki kuda. Tak lama kemudian
tiga orang berpakaian hitam masuk ke dalam kedai menggiring seorang lelaki tua
berambut putih, berpipi cekung dan melangkah terbungkuk-bungkuk. Ronggokarapan
tidak acuhkan orang-orang yang masuk ini. Dia memandang tak berkedip pada Panji
Kenanga. Otaknya jalan.
"Ilmunya tinggi," membatin Ronggokarapan.
"Kalau tenaganya dapat kupergunakan, seumur hidup aku bakal enak
ongkang-ongkang kaki ..."
Kepala rampok itu tersenyum. "Sobat muda!"
katanya seraya lembaikan tangan kiri. "Antara kita tak ada saling sengketa
apa-apa. Lupakan cara berkenalanku yang agak kasar tadi!" Dia lalu
berpaling pada pemilik kedai dan memerintah, "Bawean, siapkan makanan dan
minuman yang paling lezat dan hidangkan pada pemuda ini. Cepat!"
Tanpa banyak bicara, dengan ketakutan Ki Sepuh Bawean
segera lakukan apa yang diperintahkan Rondokarpan.
"Sobatku, kau duduklah tenang-tenang di kursi
sana, nanti kita bicara lagi," kata si kepala rampok.
Sementara itu Randuwongso datang melapor.
"Pemimpin, anak-anak sudah membawa kepala kampung kemari."
Ronggokarapan berpaling. Dia memandang pada lelaki tua
berambut putih yang berdiri dengan muka pucat pasi don gemetaran di hadapannya.
"Lawang Kuning!" kata Ronggokarapan menyebut
nama Kepala kampung Warnasari itu. "Ingat apa yang kuperintahkan tempo
hari?!"
Kepala kampung itu mengangguk berulang-ulang.
"Jawab! Dengan mulut!" hardik Taliwongso dan tangannya bergerak
menjambak rambut orang tua itu hingga dia merintih kesakitan.
"Ak . . . aku ingat Ronggo," Lawang Kuning
akhirnya membuka mulut sambil mengerenyit kesakitan karena rambutnya masih
dijambak keras oleh Taliwongso.
"Bagus. Kalau ingat mengapa tidak kau
laksanakan!"
"Sulit Ronggo. Sulit! Orang kampung mana ada yang
punya uang dan perhiasan. Kami di sini miskin semua..."
"Sulit atau tidak aku tidak perduli! Miskin atau
kaya aku tidak mau tahu!" damprat Ronggokarapan.
Randuwongso ikut menghardik. "Dulu kowe bilang
bersedia melaksanakan. Mengumpulkan semua harta benda perhiasan orang-orang di
sini. Sekarang banyak dalihmu tua bangka!"
Penduduk di sini rata-rata punya sawah ladang.
Ternak!" yang bicara kini adalah Taliwongso. "Rumah mereka
bagus-bagus. Mustahil tidak punya uang dan perhiasan."
Ronggokarapan geleng-geleng kepala dan tepuk-tepuk
pipi kempot Lawang Kuning. "Kalau tidak ingat persahabatan kita dulu, aku
sudah pisahkan kepala dan badanmu, Lawang..."
"Justru kalau masih menganggap aku sahabat
nengapa kau lakukan tindakan jahat terhadapku? Dan terhadap penduduk Warnasari
yang tidak berdosa, tak punya apa-apa!" Lawang Kuning memberanikan diri
menyahuti.
Kepala rampok itu tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba suara
tawanya berhenti. Dan plak! Satu tamparan mendarat di muka kepala kampung tua
itu. Lawang Kuning jatuh terjelapak di lantai. Pemandangannya berkunang-kunang.
Pipinya sakit bukan main. Dia merasakan darah mengalir di sela bibirnya yang
pecah.
"Hajar dia sampai konyol!" perintah
Ronggokarapan pada anak-anak buahnya. Lalu dia duduk ke sebuah kursi.
Yang pertama sekali turun tangan adalah Randuwongso.
Kaki kanannya menendang punggung kepala kampung yang masih terduduk nanar di
lantai.
Bukk!
Tendangan mendarat di punggung Lawang Kuning. Orang
tua ini menjerit mengenaskan. Tubuhnya mencelat menghantam dinding kedai sebelah
kamar lalu tergelimpang ke lantai. Dari mulutnya terdengar suara erangan. Lalu
diam. Entah pingsan entah mati.
Sesosok tubuh melompat ke hadapan Randuwongso.
"Bangsat! Kau mau apa?!" sentak Randuwongso
ketika melihat ternyata Panji Kenanga yang rnenghadangnya.
"Mau mematahkan kakimu yang tadi dipakai
menendang!" jawab Panji Kenanqa geram.
"Sobat, jangan jadi orang tolol," berseru
Ronggokarapan. "Aku sudah punya rencana bagus untukmu. Biarkan saja tua
bangka itu konyol. Tidak sekarang lusapun dia akan mampus juga!"
Panji Kenanga menyeringai. "Kalaupun orang tua
ini mati, maka harus ada yang mengantarkannya ke akheratl" Lalu secepat
kilat Panji Kenanga kirim kan satu jotosan ke dada Randuwongso. Yang diserang
terkejut tak menyangka. Masih untung dia tidak ayal dan sempat mengelak.
Perkelahian tak dapat dihindarkan lagi di dalam kedal itu.
Semula Ronggokarapan hendak membentak menyuruh
hentikan perkelahian itu. Namun selintas pikiran muncul dalam benaknya. Dengan
adanya perkelahian itu dia akan dapat melihat sampai di mana kehebatan pemuda
asing yang menurut rencananya hendak dijadikan tangan kanannya itu. Baru
berkelahi lima jurus Randuwongso sudah terdesak. Ini membuat perampok tersebut
penasaran sekali. Selama ini belum ada orang lain yang dengan tangan kosong
sanggup mendesaknya begitu rupa kecuali pemimpinnya.
Didahului satu bentakan garang Randuwongso berkelebat
gesit mengirimkan serangan-serangan berantai selama tiga jurus berturut-turut.
Tampaknya Randuwongso menjadi nekat. Panji Kenanga berlaku hati-hati. Dengan
mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi
pemuda ini berkelebat kian kemari sehingga tak satupun serangan lawan mengenai
tubuhnya. Di lain pihak setiap ada kesempatan Panji Kenanga tidak lupa untuk
melancarkan serangan ba!asan yang cukup membuat Randu menjadi repot.
Setelah berlalu beberapa jurus Panji mulai melihat
kelemahan-kelemahan ilmu silat lawan. Pada satu kesempatan yang paling baik
murid Brahmana Lokapala itu keluarkan jurus yang disebut "sekuntum bunga menebar
harum." Kedua tangannya membuat gerakan berputar, terpentang ke samping
laksana kitiran. Randuwongso merundukkan kepala melihat serangan aneh itu lalu
susupkan satu jotosan ke bagian bawah tubuh lawan yang lowong.
Namun rampok ini kalah cepat. Tepi telapak tangan kiri
Panji Kenanga mendarat lebih dulu di kuduknya, membuat Randuwongso tersaruk ke
muka hampir jatuh terjerembab di lantai kedai! Randuwongso menggeram sakit.
Tengkuknya kelihatan gembung merah. Ketika dia berdiri kembali tampak miring. Sepasang
bola matanya seperti bernyala-nyala. Kedua tinjunya terkepal.
"Bangsat! Kalau aku tidak dapat memuntir betang
lehermu, biar aku berhenti jadi orang!"
Randuwongso sudah siap untuk menerjang Panji Kenanga.
Namun saat itu dari arah pintu terdengar suara tawa bergelak. Suara tawa ini
membuat semua orang seperti disirap, tertegun di tempat masing-masing.
"Yang sudah mampus kalau bisa ingin hidup kembali! Kenapa yang masih hidup kepingin berhenti jadi orang?! Kalau tidak sinting pasti sedeng!"
***
KETIKA semua orang memandang ke pintu, mereka melihat seorang pemuda berambut gondrong memasuki kedai dengan langkah seenaknya dan sambil cengar-cengir. Hebatnya lagi, di bahu kirinya dia memanggul sesosok tubuh perempuan muda berpakaian merah yang robek-robek di beberapa tempat hingga menyembulkan kulitnya yang putih mulus.
"Yang sudah mampus kalau bisa ingin hidup kembali! Kenapa yang masih hidup kepingin berhenti jadi orang?! Kalau tidak sinting pasti sedeng!"
***
KETIKA semua orang memandang ke pintu, mereka melihat seorang pemuda berambut gondrong memasuki kedai dengan langkah seenaknya dan sambil cengar-cengir. Hebatnya lagi, di bahu kirinya dia memanggul sesosok tubuh perempuan muda berpakaian merah yang robek-robek di beberapa tempat hingga menyembulkan kulitnya yang putih mulus.
Si pemuda melangkah ke sebuah meja di sudut ruangan.
Diturunkannya tubuh perempuan yang dipanggulnya lalu didudukkannya di atas
kursi. Semua orang jadi terkesiap ketika menyaksikan wajah perempuan muda itu.
Cantik sekali! Tapi sepasang matanya terpejam, bibirnya berwarna biru. Sedang
tidur, pingsan atau tertotokkah dia, demikian setiap orang menduga-duga.
Pemuda itu memandang berkeliling. Meskipun ketika akan
masuk tadi dia mengumbar tawa dan ucapan lantang namun setelah sampai di dalam
dia seperti acuh tak acuh saja dengan segala apa yang terjadi di situ. Dia
memandang berkeliling sekali lagi lalu menghentikan pandangannya pada orang tua
bermuka pucat di seberang sana.
"Bapak, kau pemilik kedai ini?" tanya si
pemuda.
Ki Sepuh Bawean mengangguk. Agak takut-takut.
"Aku perlu kain untuk menutup tubuh gadis ini. Di
samping itu perutku juga keroncongan ..."
Ki Sepuh Bawean memandang pemuda itu seketika. Dalam
hatinya dia berpikir apakah manusia yang satu ini orang benar atau bangsa
sedang brengsek pula yang bakal menambah huru-hara di kedainya. Kemudian dia
memandang pula pada gadis berbaju merah yang duduk terpejam. Pakaiannya kotor
dan robek-robek. Salah satu robekannya demikian besar hingga pangkal payu
daranya yang sebelah kiri kelihatan tarsembul dengan jelas.
"Pak tua, lekaslah. Aku tak punya waktu banyak
makan angin di kedaimu ini. Pertolonganmu pasti tak akan kulupakan."
Ki Sepuh Bawean hendak beranjak dari tempatnya. Namun
Ronggokarsrpan memberi isyarat dengan larnbaian tangan agar pemilik kedai itu
tetap di tempat semula.
Sambil rnenimang-nimang sebuah paha ayam goreng
Ronggokarapan bertanya, "Orang asing, kau siapa?"
"Maaf aku datang ke mari bukan untuk
berbincang-bincang," jawab si pamuda lalu duduk di samping gadis baju
merah yang pingsan. Tentu taja semua orang jadi terkesiap mendengar jawaban
pemuda tak dikenal itu. Ronggokarapan sendiri kelihatan marah tampangnya dan
duduk ternganga.
"Tambah lagi satu orang edan di kedai ini!"
Taliwongso membuka mulut.
Si pemuda tak ambil perduli ucapan itu. Dia berpaling
pada pemilik kedai, dan berkata lagi, "Pak, tolong berikan apa yang
kuminta."
Ki Sepuh Bawean jadi serba salah dan tak tahu apa yang
akan dilakukan. Jika dia memenuhi permintaan pemuda itu maka dia bakal mendapat
hajaran dari Ronggokarapan dan anak anak huahnya. Sebaliknya jika dia tidak
menolong, hati kecilnya merasa kasihan terhadap tamu muda tersebut yang
kelihatannya memang letih, apalagi menyaksikan keadaan garlis yang duduk di kursi.
Akhirnya pemilik kedai itu cuma bisa angkat bahu.
Pemuda rambut gondrong itu berdiri.
"Aku tak salahkan engkau kalau takut pada manusia
itu," katanya sambil menunding dengan ibu jari tangan kiri ke arah
Ronggokarapan. "Jangankan engkau, gorilapun pasti akan kabur
melihatnya!"
Selama hidupnya baru kali itu Ronggokarapan dihina
orang demikian rupa, apalagi di depan orang banyak dan di muka hidung anak
buahnya rendiri!
Tangan kanannya menggebrak meja hingga kayu meja
pecah-pecah. Dia berdiri dengan tangan kiri diletakkan di pinggang.
"Monyet gondrong! Berani menghina Ronggokarapan
berarti berani menghadapi kematian!"
Si pemuda menyeringai. "Sudahlah, tak sedap
bicara denganmu. Dari jauh saja bau mulutmu membuat hidungku seperti mau
tanggal!"
"Bangsat rendah!" teriak kepala rampok itu.
"Mampuslah!" Ronggokaraprrn menggembor. Tangan kanannya bergetar
tanda ada tenaga dalam yang dialirkan ke situ. Tiba-tiba dia menghantam ke
depan kirimkan satu pukulan tangan kosong. Selarik angin keras menyambar ke
arah dada si pemuda. Meja dan kursi berpelantingan saking hebatnya. Bahkan
beberarapa orang anak buah Rongglokarapan cepat menyingkir takut terserempet
angin pukulan itu.
Yang diserang rupanya juga bukan manusia sembarangan
walau masih muda dan tampangnya kelihatan tolol. Dengan satu gerakan kilat dia
melompat seraya menyambar tubuh gadis yang didudukkannya di kursi. Baru saja
dia berkelebat dari tempat itu, kursi kosong itu hancur berantakan kena
hantaman pukulan tangan kosong Ronggokarapan. Dinding papan di belakangnya ikut
pecah-pecah. Dapat dibayangkan bagaimana kalau pukulan ganas tadi mengenai
tubuh si gadis yang berada dalam keadaan tidak sadar diri itu!
Baik Ronggokarapan maupun si pemuda tampaknya
sama-sama terkejut. Si pemuda tidak menyangka kalau kepala rampok itu memiliki
kepandaian yang begitu tinggi dan benar-benar inginkan nyawanya. Sebaliknya
gembong rampok Kali Bedadung itupun tidak mengira kalau si pemuda bakal sanggup
mengelakkan serangannya itu bahkan sekaligus mampu menyelamatkan gadis di atas kursi!
Diam-diam Ronggokarapan menyeluh. Mengapa hari ini dia
sampai menemui dua orang pemuda yang berkepandaian demikian tinggi. Urusan
dengan pemuda pertama tadi belum selesai. Kini muncul satu lagi. Apakah kedua
orang ini punya hubungan satu sama lain?
Tanpa mengacuhkan kepala rampok itu, sambil memanggul
tubuh gadis yang tak sadarkan diri, pemuda berambut gondrong bergerak cepat
menuju bagian belakang kedai.
"Hai! Kau mau kabur ke mana?!" bentak
Ronggokarapan mengejar.
Di bagian belakang kedai si pemuda menemukan sehelai
kain panjang tergantung. Benda ini segera disambarnya dan dipergunakan untuk
menutupi tubuh gadis yang dipanggulnya. Kemudian dengan cepat dia mengumpulkan
nasi serta lauk yang dapat ditemuinya di tempat itu, membungkusnya dengan daun
dan keluar.
Namun di hadapannya Ronggokarapan dan tiga anak
buahnya telah menghadang. Dalam keadaan seperti itu si pemuda masih saja
bersikap luar biasa. Tanpa rnengacuhkan orang-orang yang ada di depannya dia
berkata pada Ki Sepuh Bawean. "Terserah kau mau bilang aku pencuri.
Perutku betul-betul lapar dan aku tak punya uang untuk membeli nasi serta lauk
yang barusan kubungkus ini. Kain panjang inipun kupinjam dulu. Atas kebaikanmu
aku ucapkan terima kasih. Budi baikmu pasti akan kuingat."
"Bangsat! Lagak bicaramu seperti pemain sandiwara
keliling!" Yang membentak adalah Rongaokarapan.
Lalu tanpa banyak menunggu lagi dia tusukkan dua jari
tangannya ke mata si pemuda. "Sebelum kubunuh biar kubikin cacat dulu
kau!"
"Terima kasih untuk seranganmu. Ini kuberi dulu
hadiah menarik!" menyahuti si pemuda. Tahu-tahu kaki kanannya sudah
menderu ke perut lawan.
Bagaimanapun juga serangan kaki jauh lebih panjang
dari serangan tangan. Akibatnya tendangan kaki itu akan lebih dulu mencapai
sasaran dari pada serangan tangan. Hal ini diketahui benar oleh Ronggokarapan.
Dengan gemas dia mendengus dan cepat mengelak ke samping kiri. Dari sini dia
langsung susul serangannya yang tadi batal dengan satu jotosan ke arah pelipis
kanan pemuda berambut gondrong.
Kali ini si pemuda tidak punya kesempatan untuk
mengelak karena kalau itu dilakukannya dia kawatir pukulan lawan akan mengenai
salah satu bagian tubuh gadis yang berada di panggulannya. Maka terjadilah satu
tontonan yang menarik. Pemuda rambut gondrong lemparkan bungkusan nasi yang
dipegangnya ke udara lalu dengan lengan kanan dia menangkis pukulan
Ronggokarapan. Si kepala rampok lipat gandakan tenaga dalamnya. Dia yakin
sekali tangannya beradu dengan lengan si pemuda maka pemuda itu akan
terjengkang dengan tangan patah!
Sedetik kemudian dua lengan mereka saling beradu
dengan mengeluarkan suara keras. Disusul oleh keluhan kesakitan keluar dari
mulut Ranggokarapan. Ketika dia meneliti ternyata lengan kanannya berwarna
merah dan bengkak sedang tubuhnya sendiri akibat bentrokan itu terpental sampai
empat langkah! Selagi lawan berdiri terkesima dan kesakitan pemuda rambut
gondrong telah menangkap kembali bungkusan nasi yang tadi dilemparkannya ke
udara!
"Keroyok dia! Cincang sampai lumat!" teriak
Ronggokarapan tiba-tiba.
Mendengar perintah itu delapan anak buah Ronggo
termasuk dua bersaudara Wongso menyerbu. Ada yang mengandalkan tangan kosong
tapi kebanyakan merasa lebih aman dengan senjata di tangan.
"Sialan betul, lama-lama di sini aku bisa berabe!
" si pemuda yang menjadi buian-bulanan serangan mengomel dalam hati. Dia
berteriak keras dan kelihatan tubuhnya mencelat ke atas hampir menyundul
langitlangit kedai. Di lain kejap selagi lawan terkejut bahkan ada yang bingung
si pemuda lancarkan tendangantendangan pada kepala atau dada lawan-lawannya
yang berada di bawah.
Randuwongso muntah darah akibat kena tendangan tepat
di dada kirinya, langsung roboh dan tergelimpang tak sadarkan diri di lantai.
Seorang lagi anak buah Ronggokarapan mencelat sambil menjerit. Hidungnya
melesak menghambur darah, bibirnya pecah dan giginya amblas akibat terkena
hantaman tumit si pemuda!
"Bunuh! Pateni!" teriak Taliwongao yang jadi
beringas karane melihat saudaranya roboh tak berkutik dan disangkanya sudah
mati. Golok besarnya menderu membabat pinggul lawen sementara dua orang anggota
rampok lain kirimkan tusukan dari kiri kanan. Si pemuda berkelebat ke arah
pintu. Dua tusukan dapat dielakkannya, sambaran golok Talliwongso menggores
bajunya. Ini membuat dia jadi penasaran dan sebelum lawan memburu dia pindahkan
bungkusan nasi ke tangan kiri.
"Setan alas! Kowe mau lari ke mana?!" teriak
Taliwongso dan mengejar ke pintu karana menyarngka lawan hendak lari.
"Rampok bau! Siapa bilang aku mau kabur. Silakan
hadiahku ini!" teriak si pemuda lalu putar tangan kanannya dan menderulah
rangkuman angin
***
KEDAI Kayu yang tak seberapa besar itu laksana dilanda angin punting beliung. Benda-benda berpelantingan. Enam anggota rampok terhuyung-huyung lalu jatuh satu demi satu. Taliwongso masih sanggup bertahan dari hempasan angin dan dengan golok besar di tangan kembali menyerang lawan. Si pemuda pukulkan tangan kanannya ke arah Taliwongso. Kali ini Taliwongo terjajar ke belakang lalu jatuh terjengkang di antara anggota-anggota rampok lainnya. Ronggokarapan kelihatan berkerut keningnya. Dia kerahkan seluruh tenaga yang ada agar jangan sampai ikut terseret oleh gelombang angin yang menggebu-gebu itu. Tubuhnya bergetar. Pakaiannya berkibar-kibar. Kumis dan cambang bawuknya berjingkrak!
***
KEDAI Kayu yang tak seberapa besar itu laksana dilanda angin punting beliung. Benda-benda berpelantingan. Enam anggota rampok terhuyung-huyung lalu jatuh satu demi satu. Taliwongso masih sanggup bertahan dari hempasan angin dan dengan golok besar di tangan kembali menyerang lawan. Si pemuda pukulkan tangan kanannya ke arah Taliwongso. Kali ini Taliwongo terjajar ke belakang lalu jatuh terjengkang di antara anggota-anggota rampok lainnya. Ronggokarapan kelihatan berkerut keningnya. Dia kerahkan seluruh tenaga yang ada agar jangan sampai ikut terseret oleh gelombang angin yang menggebu-gebu itu. Tubuhnya bergetar. Pakaiannya berkibar-kibar. Kumis dan cambang bawuknya berjingkrak!
Di sudut lain Panji Kenanga tegak dengan rangkapkan
kedua tangan di depan dada. Diam-diam murid Brahmana Lokapala ini juga kerahkan
tenaga dalamnya agar jangan sampai kena tersapu sambaran angin yang keluar dari
tangan si gondrong. "Siapa adanya pemuda gagah ini!" tanya Panji
Kenanga dalam hati. Jika saja dia tidak memiliki ilmu yang tinggi pasti sudah
sejak tadi terseret oleh gelombang angin. Ronggokarapan yang juga memiliki ilmu
silat dan tenaga dalam tinggi kerahkan kekuatannya namun tak urung lututnya masih
terasa goyah. Dia mengambil keputusan untuk menyerbu saja dari pada menderita
malu karena jatuh dilanda angin serangan lawan. Maka didahului satu bentakan
keras kepala rampok Kali Bedadung ini menerjang ke depan. Tangan kanannya
dihantamkan ke arah lawan.
Selarik sinar hitam berkiblat ganas ke jurusan pemuda
yang memanggul gadis. Setengah depa lagi sinar ha am ini akan menghantam mati
si pemuda, tiba-tiba dia balas menghantam dengan tangan kanan, menyongsong
datangnya sinar pukulan lawan. Serangkum angin yang padat dan berbuntal-buntal
bulat menderu. Dan punahlah sinar hitam Ronggokarapan dengan mengeluarkan suara
mendesis.
Melihat pukulan "wesi hitam" yang amat
diandalkannya dibikin musnah oleh lawan begitu mudah, Ronggokarapan menjadi
kecut dan lumer nyalinya. Apelagi saat itu ketika memandang berkeliling
dilihatnya anak-anak buahnya masih pada berjelapakan di lantai tiada daya
sedang di ujung sana musuhnya yang lain yakni Panji Kenanga tegak memandang
mengejek ke arahnya.
Tengah kepala rampok ini berpikir-pikir untuk ambil
langkah, seribu mendadak dirasakannya dadanya amat sakit lalu satu bayangan
berkelebat. Ronggo merunduk. Tapi terlambat. Satu tamparan mendarat di
keningnya, laki laki ini melintir lalu jatuh duduk di lantai dengan pandangan
berkunang-kunang.
"Selamat tinggal Ronggokarapan. Lain kali kita
bertemu lagi!" Terdengar seruan pemuda rambut gondrong dan di lain kejap
dia sudah lenyap lewat pintu kedai bersama gadis di atas panggulnya.
"Hebat sekali pemuda itu," kata Panji
Kenanga dalam hati. "Bahkan agaknya dia belum mengeluarkan seluruh
kepandaiannya karena sikapnya berkelahi tadi seperti main-main saja." Lalu
murid Lokapala ini berpaling pada Ranggokarapan yang masih menjelapak di lantal
kedai. Dan kagetlah Panji Kenanga ketika menyaksikan bagaimana di kulit kening
kepala rampok itu kelihatan tertera tiga buah angka yaitu : 212.
"Dua satu dua ...," desis Panji Kenanga
sambil leletkan lidah. "Kalau begitu ... Jadi rupanya dialah yang dijuluki
Pendekar 212. Pantas ... Guru pernah menerangkan tentang dia. Sekarang melihat
bagaimana hebatnya dia benar-benar aku merasa masih jauh ketinggalan!"
Sementara itu Ronggokarapan dengan terhuyung-huyung
mencoba berdiri diikuti oleh anakanak buahnya kecuali Randuwongso yang masih
menggeletak pingsan dan seorang lagi yang tadi sempat ditendang remuk mukanya.
Kepala rampok itu meneguk sisa-sisa tuak yang masih ada dalam salah satu kendi
sekedar untuk melegakan perasaan kecut serta sakit pada kepalanya. Kendi tuak
kemudian dibantingnya hingga pecah di lantai lalu kembali sifat ganasnya
keluar.
"Lawang Kuning!" bentak Ronggokarapan.
"Kemari cepat!"
Kepala kampung Warnasari yang masih ketakutan di sudut
kedai tersentak kaget dan terbungkuk bungkuk melangkah menghampiri kepala
rampok itu Begitu kepala kampung itu sampai di hadapannya tangan Rongpokarapan
segera hendak melayang menamparnya, namun gerakannya dihentikan oleh seruan
tiba-tiba dari salah seorang anak buahnya!
"Pemimpin! Keningmu!"
Kepala rampok itu berpaling tak mengerti.
"Keningmu!" kini Taliwongso yang bicara
sambil tepuk keningnya sendiri.
Ronggokarapan usap keningnya lalu memperhatikan
tangannya. Hanya keringat yang dilihatnya menempel di situ. Tak ada kotoran
apa-apa seperti yang disangkanya. Taliwongso melangkah mendekati dan dengan
suara bergetar dia berkata,
"Ada tiga angka aneh tertera di keningmu."
"Hah, apa ...?!" dan Ronggokarapan kembali
memegang keningnya. Mengusapnya berulang kali. Namun deretan angka 212 itu
tetap saja tak mau hapus.
"Kau jangan main-main Wongso! Angka keparat apa
yang ada di keningku hah?!" Ronggokarapan marah karena mengira
dipermainkan.
"Demi setan aku tidak main-main. Di keningmu
benat-benar ada angka dua-satu dan dua. Kalau tak percaya tanyakan pada
anak-anak!"
Kepala rampok itu berpaling pada anak-anak buahnya.
Dan kesemua mereka sama melongo ketika menyaksikan bahwa di kening pimpinan
mereka saat itu memang terlihat guratan angka 212. Ronggokarapan mengambil
piring dan mengisinya dengan air putih. Lalu dia berkaca pada air di atas
piring itu. Dinginlah tengkuk pernimpin rampok ini ketika melihat bayangan
wajahnya sendiri dengan tiga buah angka hitam pada keningnya. Dia seperti mau
kencing. Selama malang melintang menjadi orang jahat ada beberapa tokoh
golongan putih yang paling ditakutinya dan diusahakannya agar jangan sampai
bertemu. Salah satu diantara mereka adalah yang berjuluk Pendekar Kapak Maut
Naga Geni 212. Dan hari ini tiada di sangka dia telah berhadapan bahkan
berkelahi dengan pendekar tersebut. Serta meninggalkan angka pengenalnya yang
angker!
Kepala rampok Kali Bedadung itu kerahkan tenaga
dalamnya dan coba menghapus tulisan di keningnya. Namun sia-sia saja.
"Sekalipun kulit kepalamu dikelupas, angka-angka itu tak bakal hilang!" Yang bicara ini adalah Panji Kenanga.
"Sekalipun kulit kepalamu dikelupas, angka-angka itu tak bakal hilang!" Yang bicara ini adalah Panji Kenanga.
Ronggokarapan berpaling. Kini amarahnya ditumpahkannya
pada pemuda yang satu ini.
"Pemuda keparat! Sudah saatnya kau musti
mampus!"
Begitu membentak begitu dia menyerang dengan lepaskan
pukulan "wesi hitam" yang mengeluarkan sinar hitam dan deru ganas.
Meskipun pukulan saktinya itu tadi tidak mampu menghadapi Pendekar 212 Wiro
Sableng namun Ranggokarapan beranggapan Panji Kenanga tidak sedigdaya Wiro
Sableng dan pasti konyol dilanda pukulannya itu.
Namun tidak semudah itu merobohkan Panji Kenanga.
Meski dia masih muda dan belum banyak pengalaman tetapi Brahmana Lokapala dari
gunung Raung telah menggemblengnya cukup hebat. Ketika melihat kepala rampok
itu lepaskan pukulan maut Panji Kenanga cepat menghindarkan diri ke samping dan
dari tempat kedudukannya yang baru pemuda ini membalas dengan satu tendangan
kilat ke arah tulang-tulang iga lawan.
"Kurang ajar!" maki Ronggokarapan penasaran
bukan main karena bukan saja serangannya mengenai tempat kosong tapi juga tidak
menyangka kalau lawan bakal kirimkan seranqan balasan secepat itu. Dengan
sedikit repot dia meliukkan badan ke kiri dan di lain kejap selarik sinar putih
memapas ke arah kaki Panji Kenanga.
Murid Lokapala itu kaget dan cepat-cepat menarik
pulang tendangannya. Ternyata Ronggokarapan telah cabut golok besarnya dan
membabatkan senjata itu ke kaki kanan si pemuda. Ilmu golok kepala rampok ini
memang hebat hingga Panji Kenanga harus bertindak hati-hati. Meski dia tahu
dengan kegesitan dalam ilmu meringankan tubuh senjata lawan tak bakal
mencelakainya, namun Panji tak mau main-main lebih lama dengan penjahat ini.
Segera dia keluarkan seruling perak dari balik pakaiannya dan pergunakan benda
ini untuk menghadapi senjata lawan. Gerakan-gerakannya yang gesit, sambaran dan
tusukan-tusukan suling perak yang gencar membuat serangan Ronggokarapan jadi terbendung.
Setiap saat dia harus berlaku awas waspada. Beberapa kali pakaiannya hampir
terkait ujung suling perak.
Beberapa jurus berlalu cepat. Permainan golok
Ronggokarapan mulai mengendor bahkan kacau..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar