Garam
Mogok Asin
Aku
garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di
kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak
batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur dalam masakan agar cepat larut.
Rasaku?
Jangan ditanya lagi. Keasinanku sudah terkenal dari masa ke masa. Ada yang
sangat asin, asin dan cukup asin. Maka kau bisa menaburkanku sesuai dengan
kadarnya.
Tanpaku
masakan jadi terasa hambar dan tak nikmat. Coba saja kalo tak percaya. Tapi
jangan coba-coba mencicipinya begitu saja dalam jumlah banyak. Lidahmu akan
kelu keasinan.
Sebalnya,
manusia tak menghargaiku! Berapa coba harga garam? Dengan lima ratus rupiah,
manusia bisa mendapatkan sekantong garam. Padahal fungsiku tak sebanding dengan
harga belinya. Seenaknya saja mereka meremehkanku. Mentang-mentang aku ada
dalam jumlah banyak.
Aku memutuskan memulai aksi protes ini dengan mengirimkan sms berantai ke kawanan garam di sebuah kampung.
Aku memutuskan memulai aksi protes ini dengan mengirimkan sms berantai ke kawanan garam di sebuah kampung.
“Prens,
sudah saatnya kita menyuarakan hak kita. Keadilan harus ditegakkan. Jangan mau
dihargai semurah ini sementara manusia begitu rakus memanfaatkan kita. Mari
bersama kita melakukan gerakan aksi anti asin. Setiap kita yang dicampur
... baca selengkapnya di Lintang Kemukus Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
... baca selengkapnya di Lintang Kemukus Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar