WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE
DI BAWAH badai dahsyat yang melanda kawasan laut utara
Datuk Api Batu Neraka, salah seorang tokoh silat kepercayaan Ratu Laut Utara
sampai di selatan Pulau Karimunjawa. Dia datang bersama Ning Kameswari, seorang
gadis cantik yang merupakan pembantu Ratu Laut Utara sekaligus kekasih gelap
sang Datuk. Mereka sengaja mencari bagian pantai yang agak ketinggian agar
dapat melihat jelas keadaan di sekitarnya. Walau badai membuncah dan matahari
belum muncul di ufuk timur namun terpisah sekitar dua puluh langkah di
hadapannya sang Datuk dapat melihat dua orang berada di tepi pasir, di bagian
pantai yang dangkal.
"Dua orang itu, kau mungkin tidak kenal mereka.
Tapi aku tahu mereka adalah Bujang Gila Tapak Sakti dan Bidadari Angin
Timur" kata Datuk Api Batu Neraka pada Kameswari. Orang tua bersorban dan
berjubah putih Ini mempunyai mulut lebar mulai dari bawah kuping kiri sampai
kuping kanan.Tenggorokan selalu bergerak-gerak seperti dia tengah menelan
sesuatu. Urat leher menyembul merah.
"Kameswari sekarang saatnya kau pergi. Lakukan
apa yang aku katakan. Tapi awas, jangan membuat aku cemburu. Begitu tubuh si
gendut itu panas kelojotan kau lekas kembali ke sini. Aku akan menyambung
pekerjaanmu. Sebentar lagi Sri Paduka Ratu akan muncul untuk menantang dan
memancing Bidadari Angin Timur."
"Aku siap pergi Datuk." jawab Ning
Kameswari. Kedua orang ini telah lama melakukan hubungan mesum. Sebagai imbalan
Kameswari mendapatkan hadiah berupa barang-barang berharga dalam bentuk
perhiasan dan lain sebagainya.
"Setelah semua urusan Ini selesai, kita akan
tinggal beberapa hari di pulau ini untuk bersenang-senang. Aku sudah meminta
izin dari Ratu Laut Utara. Apakah kau suka?"
Tentu saja aku suka, Datuk. Jangankan beberapa hari,
satu bulan purnama penuhpun aku akan senang melayanimu. Asalkan kau tidak lupa
memberiku hadiah. Kali ini tentu lebih banyak dari yang sudah-sudah," kata
Ning Kameswari pula sambil mengelus-elus janggut putih Datuk Api Batu Neraka
yang diikat menjadi satu dengan rambut dan kumis.
Datuk tua tertawa girang. Sambil tangan kiri
mengusap-usap belakang pinggul Kameswari dia berkata. "Hadiah lebih
banyak. Berarti tentunya kau akan melayaniku jauh lebih hebat dari yang
sudah-sudah!" Kedua orang itu sama-sama tertawa. Datuk Api Batu Neraka
cium wajah Kameswari berulang kali lalu berkata. "Sebelum pergi coba aku
periksa dulu tabung yang kau bawa."
Ning Kameswari ambil sebuah tabung bambu yang
tergantung di pinggangnya. Datuk Api Batu Neraka membuka kain tebal penutup
tabung. Hawa panas menebar keluar dari dalam tabung disertai membersitnya
cahaya redup kebiruan. Si orang tua Jauhkan sedikit wajahnya dari mulut tabung
lalu memperhatrkan. Dalam kegelapan dia masih bisa melihat tujuh ekor
kalajengking biru bergerak-gerak di dalam tabung. Umumnya kalajengking berwarna
hitam. Warna biru merupakan pertanda bahwa tujuh binatang itu merupakan
kalajengking jenis langka dan memiliki racun yang sangat jahat.
***BUJANG Gila Tapak
Sakti berada di dalam laut sampai sebatas bahu. Kopiah hitam kupluk dibenam
dalam-dalam di atas kepala agar tidak diterbangkan badai. Kipas kertas
kesayangan disimpan di bawah kopiah Hu. Di belakangnya si cantik berambut pirang
Bidadari Angin Timur berdiri menempelkan dua telapak tangan ke punggung pemuda
gemuk itu.
"Gendut, aku sudah siap..." Berkata Bidadari
Angin Timur.
"Aku Juga! Awas, jangan ada niat mau main-main
daiamotakmu.Kita tengah menghadapi urusan besar. Kalau bukan lawan maka kita
yang akan jadi bangkai!" Jawab Bujang Gila Tapak Sakti Pemuda bertubuh
gemuk dengan berat ratusan kati ini segera pancarkan tenaga dalam yang berpusat
di pusar.
Sementara di belakangnya Bidadari Angin Timur mulai
menyalurkan seluruh tenaga dalam yang ada ke tubuh Bujang Gila Tapak Sakti
sehingga kekuatan tenaga dalam dan hawa sakti yang ada di tubuh si gendut itu
Jadi berlipat ganda dan bukan olah-olah hebatnya.
"Dess! Desss! Dess!"
Asap kelabu yang menebar hawa luar biasa dingin mengepul
keluar dari telinga, hidung dan mulut Bujang Gila Tapak Sakti. Sementara hawa
dingin yang keluar dari dalam tubuh pemuda sakti Itu menderu dahsyat Bukan saja
menahan terpaan badai tapi sekaligus mengalir masuk ke dalam air laut, turun ke
bawah Jauh mencapai dasar samudera dimana terletak Istana Kerajaan Bawah Laut
Ratu Laut Utara.
Bangunan Istana yang terbuat dari batu pualam diseling
batu karang hitam laksana dibenam dalam gumpalan es. Gundukan-gundukan putih
menyerupai salju menyelimut dimana-mana terutama di bagian atap yang memiliki
tiga menara. Ribuan ikan melesat ke permukaan mencari selamat dan berenang
menjauhi kawasan itu. Ratusan diantara Ikan-ikan Hu dilempar gelombang,
bertebaran di pantai, meng-gelepar sebelum menemui ajal. Siapapun mahluK yang
ada dalam Istana Bawah Laut dan tidak sanggup melawan hawa dingin akan segera
menemui kematlnn kalau tidak cepat-cepat naik selamatkan diri ke permukaan air
laut. Puluhan pengawal dan pelayan Istana berenang ke atas untuk cari selamat.
Kebanyakan dari mereka menemui ajal secara mengenaskan. Di pantai ratusan
bangkai ikan bertumpukan bercampur dengan belasan mayat manusia!
Mahluk Jin Durna Rawana peliharaan dan pembantu Ratu
Laut Utara mengusap kepala botaknya berulang kali. Saat itu dia duduk di atas
salah satu dari tiga menara Istana tengah berjaga-jaga sesuai perintah Ratu
Laut Utara. Dia satu-satunya orang Ratu Laut Utara yang masih ada di tempat
itu. Mahluk yang Sekujur tubuhnya berwarna kuning dan tertutup bulu lebat serta
memiliki tiga buah mata ini mulai merasa gelisah. Kegelisahan itu bukan saja
karena adanya hawa dingin aneh yang mencucuk masuk ke dalam tubuhnya tapi juga
karena di atas sana dia tidak lagi mendengar suara tiupan seratus anak buahnya
yang diperintahkan menciptakan badai. Sementara getaran badai yang sampai ke
tubuhnya terasa mengendur.
Jin bertubuh raksasa yang hanya mengenakan cawat ini
alirkan hawa panas ke seluruh tubuh sampai ke kepala Namun apa yang
dilakukannya tidak mampu menolak hawa dingin yang menyerang semakin hebat
Rahang bergemeletukan, dua taring basah merah bergetar.
"Apa yang terjadi dengan diriku. Air laut berubah
jadi sangat dingin Aneh! Lebih aneh lagi aku tidak mampu melawan hawa dingin
itu. Di atas sana, aku tidak mendengar seratus anak buahku meniup badai. Apa
yang terjadi dengan mereka?"
Tidak menunggu lebih lama Jin Durna Rawana segera
melesat naik ke permukaan laut DI dalam gelap dia tidak melihat seorangpun dari
seratus anak buahnya Yang tampak ratusan bangkai ikan mengapung lalu beberapa
mayat manusia dan selanjutnya, ini yang mengagetkan Durna Rawana. Dia melihat
puluhan benda putih sebesar batangan pohon pisang mengapung di permukaan laut.
Penuh curiga Durna Rawana hampir! satu benda putih
yang paling dekat. Dia meraba. Tangannya tersengat hawa dingin luar biasa.
"Gumpalan es! Menyerupai sagu atos! Apa yang ada
di dalam gumpalan Ini. Jangan-jangan...." Durna Rawana yang merasa curiga
segera hantamkan tangan kanannya.
"Braakk!"
Benda putih hancur berentakan laiu leleh masuk ke
dalam laut Begitu gumpalan putih hancur maka menyembul sosok anak buahnya. Jin
bertubuh seukuran manusia bertubuh pendek, berkepala botak, bermata merah dan
bermulut tebar. Sosok jin ini menggeliat satu kafi, keluarkan suara mengering
lalu semburkan cairan dari mulut. Tubuh mengepulkan asap merah. Sesaat kemudian
ujud dan asap lenyap dalam kegelapan.
"Kurang ajar! Ada orang sakti membunuh
peliharaanku dengan hawa dingin! Bangsat! Aku mau tahu siapa jahanamnya!"
Durna Rawana bertindak cepat. Semua benda putih yang
mengapung di permukaan laut dihancurkan. Ternyata benda putih ini adalah semua
anak buahnya yang telah dibalut es. Dari seratus jin hanya enam puluh dua orang
yang bisa diselamatkan . hidup-hidup. Sisa tiga puluh delapan tidak tertolong,
menemui kematian, berubah jadi asap merah lalu lenyap ditelan kegaiban.
Kepada yang masih hidup Durna Rawana berteriak.
"Kalian semua lekas menghilang! Lakukan tiupan
badai dari alam gaib! Aku akan mencari siapa bangsat yang membunuh kawan-kawan
kalian!"
Mendengar perintah pimpinan mereka enam puluh dua jin
keluarkan suara seperti anjing meraung lalu tubuh mereka hampir bersamaan
lenyap dari pandangan mata.Tak lama kemudian badai yang tadi mulai mereda kini
kembali menderu hebat walau tidak sedahsyat sebelumnya.
Niat Jin Durna Rawana untuk mencari siapa yang
membantai tiga puluh delapan anak buahnya terhalang karena Datuk Api Batu
Neraka yang datang menemuinya memerintah agar dia segera kembali ke dasar laut
untuk menjaga Istana.
Walau marah namun Durna Rawana terpaksa mematuhi karena
di Kerajaan Bawah Laut Ratu Laut Utara kedudukannya memang berada di bawah
Datuk Api Batu Neraka. Sebenarnya Durna Rawana sudah lama membenci sang Datuk.
Apa lagi diam-diam dia juga menaksir Ning Kameswari. Namun yang bisa
dilakukannya sampai sebegitu Jauh hanya men-dendam dan mengeluarkan ancaman di
dalam hati.BADAI yang oleh Nyi Roro Manggut disebut sebagai badai setan masih
terus menggila. Disebut badai setan karena diciptakan oleh mahluk jin bernama
Durna Rawana peliharaan Ratu Laut Utara yang memiliki seratus anak buah. Durna
Rawana memerintahkan mereka muncul ke permukaan laut. Setelah merapal mantera
maka seratus jin meniup. Saat itu juga di tengah laut utara menderu badai
dahsyat, laut dibuncah gelombang luar biasa besar dan tinggi, menggemuruh menyapu
ke arah pantai. Beberapa penampungan nelayan yang terletak sepanjang pantai
utara porak poranda. Penduduk berlarian ketakutan menyelamatkan nyawa. Belum
pernah mereka mengalami kejadian mengerikan seperti Ini. Belasan perahu
penangkap ikan beserta nelayan yang ada di atasnya lenyap amblas tak berbekas,
ditelan gelombang, masuk ke dalam laut.
Telah dituturkan sebelumnya dalam sertai Wiro Sableng
bejudul "Badai Laut Utara" bagaimana Pendekar 212 Wiro Sableng
bersama Ratu Duyung sampai di pantai laut utara dalam mengejar pencuri Batu
Mustika Angin Laut Kencana Biru. Petunjuk da-lam cermin sakti menyatakan bahwa
mahluk yang men-curi batu sakti itu yakni Nyai Tumbal Jiwo alias Ratu Duyung
jejadian telah menemui ajal dan batu milik Nyai Roro Kidul itu kini berpindah
tangan. Melihat arah lenyapnya batu mustika terjadi di kawasan laut utara Ratu
Duyung dapat memastikan bahwa batu tersebut kini berada di bawah kekuasaan Ratu
Laut Utara.
Untuk mendatangi Kerajaan Bawah Laut Ratu Laut Utara
guna mengambil batu sakti dari tangan Sang Ratu penguasa tidak mudah. Selain
Ratu Laut Utara memiliki ilmu kesaktian tinggi dia juga mempunyai banyak
pembantu sakti mandraguna termasuk Jin Durna Rawana yang punya seratus anak
buah.
Setelah melakukan samadi untuk berhubungan langsung
dengan Ratu Agung Nyai Roro Kidul Penguasa Laut Selatan, Ratu Duyung mendapat
petunjuk bahwa satu-satunya cara untuk dapat menerobos masuk ke dalam Kerajaan
Bawah Laut Utara Wiro harus menerapkan Ilmu Meraga Sukma yang didapatnya dari
Nyai Roro Kidul melalui nenek sakti Nyi Roro Manggut
Ternyata Ratu Laut Utara yang kini memiliki seorang
pembantu berkepandaian tinggi yakni Purnama, berhasil mengetahui apa yang akan
dilakukan oleh Pendekar 212 Wiro Sableng. Bersama Purnama yang telah dibuat
menjadi pengikutnya dibawah tenung sirapan Ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat Hati Ratu
Laut Utara melesat kepermukaan laut, ber-gerak ke arah pantai dimana murid
Sinto Gandeng tengah duduk bersila menerapkan Ilmu Meraga Sukma.
Wiro memang berhasil mengeluarkan sukmanya dan masuk
ke dalam laut utara namun hanya beberapa saat setelah hal Hu dilakukan Ratu
Laut Utara di-dampingi Purnama sampai di tepi pantai tempat di-mana raga kasar
sang pendekar berada. Sang Ratu yang telah membawa senjata penangkal yakni
sebilah bambu kuning sepanjang tiga jengkal berujung runcing secepat kilat
menancapkan bambu itu ke leher Wiro.
Ratu Duyung berusaha mencegah tapi terlambat.
"Craass!"
Ratu Duyung terpekik.
Bambu kuning menancap amblas, masuk di leher kiri,
tembus ke leher kanan Pendekar 212! Anehnya tidak ada darah mengucur. Tak ada
Jerit kesakitan keluar dari mulut Wiro. Namun kejap itu juga, tubuhnya
kehilangan bobot. Laksana daun kering sambaran angin membuat Wiro mencelat ke
arah laut Selagi melayang di udara gulungan ombak besar menerpa hingga tubuh
itu kembali terpental, terguling-guling di pasir pantai hingga akhirnya
tergeletak terkapar di depan satu gundukan batu yang terbongkar akibat hantaman
badai.
"Wiror
Ratu Duyung menjerit keras. Dia melompat mengejar.
Namun sebelum mampu mencapai sang pendekar, Ratu Laut Utara telah lebih dulu
melesat dan menyambar tubuh Wiro. Kakinya di hentakkan ke pasir hingga bagian
pantai di tempat itu bergetar seperti digoyang gempa. Membuat Ratu Duyung yang
hendak mengejar terhuyung-huyung hampir jatuh. Selagi Ratu Duyung berusaha
mengimbangi diri kesempatan dipergunakan Ratu Laut Utara untuk memanggul Wiro
lalu berkelebat membawa lari Pendekar 212 ke arah timur.
"Perempuan jahat! Jangan harap kau bisa
lari!" Teriak Ratu Duyung dan cepat mengejar. Namun mendadak berkelebat
satu bayangan biru menghadang. Gerak Ratu Duyung tertahan. Sepasang mata biru
membeliak besar, tak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya.Tegak
berkacak pinggang sambil sunggingkan senyum mengejek.
"Purnama sahabatku! Aku benar-benar tidak
percaya. Kau bergabung dengan orang-orang laut utara! Kau menjadi kaki tangan
Ratu Laut Utara!Mungkinkah aku salah menduga?!'
Senyum sinis pupus dari wajah Purnama. Mulut berucap
menjawab perkataan Ratu Duyung.
"Kau tidak salah menduga. Aku tidak melihat ada
salahnya kau bergabung dengan orang-orang laut selatan. Lantas apakah ada
salahnya kalau aku bergabung dengan orang-orang laut utara?!"
"Gila. Purnama, apa yang terjadi dengan dirimu?!
Kau mengkhianati para sahabat! Kau mengkhianati Wiro."
Purnama tertawa. "Aku mungkin mengkhianati para
sahabat Tapi aku tidak mengkhianati Wiro.Tidak akan pernah. Dia akan segera
menjadi pimpinan kami di Kerajaan Laut Utara. Kami akan menguasai rimba
persilatan. Di laut dan di daratan. Delapan penjuru angin! Ha... ha...
ha!"
Rahang Ratu Duyung menggembung. Bola matanya yang biru
laksana dikobar! api.
"Gusti Allah. Apa yang terjadi dengan gadis alam
roh ini? Dia tidak seperti dirinya. Aku melihat ada sesuatu yang aneh pada
sinar matanya." Lalu dengan suara selembut mungkin dia
berkata."Pumama,apa kau sadar pada semua yang barusan kau ucapkan? Semua
apa yang kau perbuat?"
Jawaban Purnama justru sangat mengejutkan.
"Ratu Duyung, aku diberi wewenang untuk
membunuhmu! Aku masih mau memberi kesempatan! Pergilah sebelum pikiranku
berubah!"
Pertarungan antara dua gadis cantik itu, satu dari
alam sakti laut selatan dan satu lagi dari alam gaib 1200 silam tidak dapat
dihindari.
Purnama memulai dengan serangan yang disebut Menahan
Raga Menyerap Tenaga untuk melumpuhkan Ratu Duyung. Sebaliknya Ratu Duyung
menangkis sambil balas menggempur dengan pukulan Genta Biru Menatap Langit.
Begitu dua kekuatan serangan sakti saling bertabrakan
di udara, satu dentuman menggelegar dahsyat.
Ratu Duyung terjajar ke belakang nyaris Jatuh terkapar
di tanah. Purnama sendiri terjengkang di pasir dengan wajah pucat pasi. Gadis
dari Latanahsilam ini menyadari kalau lawan memiliki tenaga dalam satu tingkat
lebih tinggi.
Perlahan-lahan Purnama bangkit berdiri. Air muka yang
membesi serta sikap berdirinya Jelas dia siap melancarkan serangan kedua.RATU
Duyung menatap tak berkesip. Dalam hati gadis ini membatin. "Sesuatu telah
terjadi dengan dirinya Aku yakin! Ratu Laut Utara telah mencuci otaknya dengan
mantera jahat! Aku pernah menyirap kabar Ratu Laut Utara mencuri semacam ilmu
penunduk hati ketika masih menjadi pembantu Nyai Roro Kidul. Walau cuma separuh
yang didapatnya sebelum ketahuan namun mungkin dia telah mampu mengembangkan
menjadi ilmu hitam yang bisa mencelakakan siapa saja! Mungkin Nyi Kuncup
Jingga? Aku masih belum melihat tua bangka satu itu!"
"Purnama! Bagaimanapun juga kau adalah sahabatku!
Jika kau tidak mau sadar aku terpaksa menjatuhkan tangan keras padamu!"
Purnama tertawa panjang mendengar kata-kata Ratu Duyung.
"Jangan membalik kenyataan. Aku yang tadi telah
lebih dulu mengampuni selembar nyawamu! Ternyata kau keras kepala. Sekarang aku
tidak punya belas kasihan lagi terhadapmu! Aku hanya akan ikut bersedih Jika
kelak Wiro meratapi kematianmu!"
Purnama lalu keluarkan ilmu Menyusup Bumi
Menghancurkan Bala.Tubuhnya masuk ke dalam tanah sampai sebatas bahu. Dengan
cara begini dia mampu menyerap kekuatan tenaga bumi sampai sedalam tiga lapis.
Begitu tubuhnya melesat keluar Purnama menghantam dengan serangan Kutuk Alam
Gaib Lapis Ketujuh.
Jangankan manusia biasa, mahluk alam roh seperti Nyai
Tumbal Jiwo saja bisa menemui ajal dengan tubuh tercabik-cabik. Apa lagi kini
di dalam tubuh Purnama mendekam kekuatan tenaga dalam serta hawa sakti yang
luar biasa hebatnya!
Ratu Duyung Wni sadar kalau lawan benar-benar punya
niat jahat hendak membunuhnya. Tidak mau berlaku ayal Ratu Duyung lepaskan dua
pukulan tangan menyilang serta kedipkan mata. Empat larik sinar biru menyambar
ke arah Purnama. Dua yang dari mata merupakan ilmu Inti Biru Laut Selatan
sedang yang berkiblat dari dua tangan membentuk pedang bersilang adalah Dua
Genta Melanda
Samudera. Sebelumnya tidak pernah orang kepercayaan
Nyai Roro Kidul ini melepas dua pasang ilmu sakti itu sekaligus secara
berbarangan!
Dua dantuman dahsyat menggelegar menindih deru badai.
Laut bergejolak. Gelombang membuncah dan tepian pantai laksana digetari gempa.
Dua Matan menyilaukan bertabur di udara. Bersamaan dengan itu dua gadis yang
barusan saling serang sama-sama keluarkan jeritan keras. ‘
Purnama terkapar di pasir, diam tak berkutik. Di
kening dan dada pakaiannya ada tanda berbentuk garis hangus bersilang. Mulut
keluarkan suara mengerang. Dia berusaha kerahkan tenaga dalam, menggeliat
beberapa kali lalu mencoba bangkit namun jatuh terduduk. Sepasang mata
membeliak, tubuh menghuyung lemas.
Ratu Duyung sendiri saat Itu tampak duduk bersimpuh di
pasir pantai. Walau wajah kelihatan segar namun saat itu dari, telinga, hidung
serta sudut bibir tampak lelehan darah. Dada turun naik. tarikan dan lepasan
nafas mengeluarkan suara menguik. Dia kerahkan seluruh kekuatan yang
ada.Tiba-tiba gadis ini bertenak keras.Tubuh melesat di udara sejajar pasir
laksana seekor burung elang siap menyambar mangsa.Tangan kanan membentuk tinju,
diarahkan ke depan. Sesaat lagi pukulan Genta Laut Selatan yang dilancarkan
Ratu Duyung akan mendarat dan menghancurkan kepala Purnama tiba-tiba dua orang
berkelebat dibawa den. angin badai dan tebaran pasir. salah seorang dari mereka
beteriak.
"Tahan serangan! Jangan pukul!"
Saat itu juga ada orang bertangan kuat mencekal tangan
kanan Ratu Duyung hingga dia tak mampu menggerakkan apa lagi meneruskan
serangan. Orang yang sama lalu mendorong tubuhnya hingga terguling di pasir.
Pukulan Genta Laut Selatan menghantam udara kosong, membuat tebaran pasir yang
dihembus badai berpijar merah!
Di tempat lain Purnama merasa dua totokan melanda
pangkal lehernya.Tubuhnya serta merta pan-carkan cahaya biru pelindung diri.Dua
totokan buyar. Namun dua totokan lagi datang menyusul, mendarat telak di dua
urat besar di bagian punggung.Tak ampun lagi gadis dari alam gaib ini melosoh
ke pasir.Tubuh tak mampu bergerak. Mulut masih bisa bersuara dan mata masih
sanggup melihat serta mengenali.
"Nek..."
Purnama kembali kerahkan tenaga dalam.Tubuh mampu
menggeliat. Namun satu totokan lagi bersarang di ubun-ubunnya. Kali Ini membuat
dia melosoh ke pasir tak ingat apa-apa lagi.
Dua orang yang muncul ternyata adalah Nyi Roro Manggut
dan Kembaran Ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu. Nyi Roro Manggut berkata pada
sahabatnya. "Nenek Kembaran Ketiga Kau jaga Ratu Duyung! Aku akan mengejar
Ratu Laut Utara! Dia menculik Wiro. Aku juga melihat ada bayangan batu mustika
biru di dadanya!"
"Nyi Roro Manggut," menyahuti Kembaran
Ketiga Eyang Sepuh KembarTilu."Kau saja yang menolong, Ratu Duyung. Kau
lebih tahu dirinya dari pada aku.
Biar aku yang mengajar Ratu Laut Utara!" Lalu
tanpa menunggu lagi si nenek berkelebat ke arah timur, ke jurusan lenyapnya
Ratu Laut Utara yang memboyong Pendekar212.
Nyi Roro Manggut berusaha mencegah namun nenek
Kembaran Ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu telah lenyap. Nyi Roro Manggut tarik
nafas dalam. Dia merasa kawatir. "Nenek kembar manusia alam roh,"
katanya perlahan. "Bagaimanapun juga ketinggian ilmumu, kau tidak tahu
seluk beluk di kawasan laut utara. Sekali kau terperangkap dalam kelicikan
nyawamu akan minggat ke alam roh untuk selama-lamanya!"
"Nyi Roro," tiba-tiba Ratu Duyung keluarkan
suara. "Lekas kau Ikuti nenek itu. Dia bisa celaka jika berani masuk ke
dalam laut utara."
"Aku sudah mencegah tapi dia bersikeras mau pergi
sendiri.Lagi pula aku harus menolongmu. Untung tadi pukulan Genta Laut Selatan
yang kau lepaskan hanya menghantam udara kosong. Kalau sampai menghantam telak
kepala gadis alam gaib itu, kau memang bisa membunuhnya, tapi keselamatanmu
sendiri terancam. Seluruh tenaga dalam serta kesaktian yang kau miliki akan
terkuras ludas! Kau akan menjadi seorang nenek jompo yang tiada daya!"
Wajah cantik Ratu Duyung berubah pucat. Dia menyadari
apa yang dikatakan si nenek itu memang betul adanya
"Nyi Roro Manggut, jangan perdulikan diriku.
Nenek satu itu harus ditemukan kembali! Lekas pergi! Aku harus memulihkan
tenaga lebih dulu!"
Nyi Roro Manggut yang berambut panjang putih selutut
hanya mengangguk-angguk. Dalam hati dia berkata. "Wiro memang perlu
diselamatkan. Batu mustika harus didapat kembali. Tapi nenek kembar alam gaib
Itu nekad pergi sendirian, aku punya dugaan dia ingin menyelamatkan Wiro karena
diam-diam menyukai pemuda itu. Mungkin dia tidak pernah menduga kalau akupun
menyukai Wiro. Hik... hik!" Si nenek yang bertubuh cebol dan mengenakan
jubah hijau menatap wajah Ratu Duyung. Hatinya kembali berucap. "Aku tahu,
gadis ini sangat mencintai Wiro. Aku menyirap kabar kepergiannya ke puncak
Gunung Gede menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah untuk membicarakan soal
perjodohan. Jangan-jangan sang Kiai sudah menikahkan mereka. Kalau itu sampai
terjadi berapa banyak gadis cantik yang akan meratap menangis diri, mungkin
patah hati dan mungkin pula bisa bunuh diri. Hik...hik. Aku saja yang sudah
nenek peot begini bisa terenyuh sedih karena merasa kehilangan. Aku ingat waktu
aku merubah diri jadi gadis cantik ketika dia datang ke istana Nyai Roro Kidul
di samudera selatan. Hik... hik. Aku merayunya sewaktu dia meminta Ilmu Meraga
Sukma. Ternyata dia memang tidak bisa dibujuk dengan tubuh bagus dan wajah
cantik. Ratu Duyung, kau seharusnya merasa bahagia karena selalu berdekatan
dengan pemuda itu dibanding dengan sekian banyak gadis lain yang
mancintalnya.Tapi sekarang nasib keadaan dirinya..."
Ratu Duyung seka darah yang membasahi hampir separuh
wajahnya lalu cepat-cepat duduk bersila. Mata dipejam. Kerahkan hawa sakti dan
perlahan-lahan coba alirkan tenaga dalam. Ketika dia merasakan keadaan dirinya
mulai pulih dan membuka sepasang mata birunya kembali dia terkejut dapatkan Nyi
Roro Manggut masih berada di tempat itu.
"Nyi Roro, kau masih di sini?!"
"Ratu Duyung, aku tidak mungkin meninggalkan kau
sendirian dalam keadaan lemah seperti ini. Sementara badai belum reda aku
mencium bahaya besar sekeliling kita."
Ratu Duyung memandang berkeliling.
"Kau benar Nyi Roro. Bahaya besar sekeliling
kita. Buktinya Purnama tidak ada lagi di tempat ini."
Nyi Roro Manggut sampai tersedak saking terkejut Dia
berpaling ke arah mana sebelumnya Purnama tergeletak. Apa yang dikatakan Ratu
Duyung memang benar. Purnama tak ada lagi di tempat itu!
"Tadi mata dan pikiranku terpusat pada dirimu.
Aku sudah kecolongan!" Nyi Roro Manggut menyesali diri.
"Syukur kalau cuma kecolongan." Sahut Ratu
Duyung."Kalau orang yang melarikan Purnama mau, dia pasti bisa membokong
dan paling tidak mencelakai salah seorang di antara kita!"RATU LAUT Utara
lari laksana terbang sepanjang pantai dengan memanggul raga atau tubuh kosong
Pendekar 212 ke arah timur. Di satu tempat dia berputar talam ke arah kiri,
berkelebat ke sebuah bukit batu yang cukup tinggi dan terjal. Lalu dari bukit
ini dia melompat terjun memasuki laut yang masih dibuncah badai. Siapapun yang
melihat akan menduga bahwa Ratu Laut Utara membawa Pendekar 212 ke Istana Bawah
Laut miliknya yang terletak di dasar samudera laut selatan. Pada hal ini semua
adalah tindakan untuk mengelabui belaka. Karena tak selang berapa lama
perempuan cantik berusia 40 tahun berpakaian biru Ini menyembul di pantai Pulau
Menjangan Besar yang tertelak berseberangan di barat daya Pulau Karlmunjawa.
Pulau kecil yang jarang didatangi orang Ini tampak
gelap. Badai yang melanda laut utara Ikut memporak-porandakan pulau ini.
Pepohonan bertumbangan terutama yang tumbuh sekitar pantai bertumbangan.
Meskipun cuaca masih gelap namun Ratu Laut Utara mampu
berkelebat cepat. Satu pertanda dia cukup mengenal keadaan dan liku-liku pulau
ini. Di depan deretan tiga pohon waru di bagian tengah pulau Ratu Laut Utara
hentikan lari. Kaki kanan dihentakkan tiga kali ke tanah. Saat itu juga secara
aneh pohon waru di sebelah tengah bergeser ke belakang Pada bekas geseran
terlihat sebuah lobang cukup besar. Di bagian bawah lobang tampak tangga batu
menuju ke bawah. Aneh, ada cahaya terang di dalam sana.
Sekali berkelebat Ratu Laut Utara telah lenyap masuk
ke dalam lobang. Pohon waru besar bergeser ke depan menutup lobang. Di bawah
tanah pulau Ratu Laut Utara berjalan cepat melewati satu lorong cukup panjang.
Pada jarak-jarak tertentu, di dinding lorong terdapat obor. Cahaya obor inilah
rupanya yang merambas dan terlihat dari luar.
Di satu tempat lorong bercabang dua. Tepat di
pertengahan cabang ada dinding lorong berwarna merah berbentuk segi empat
seperti pintu. Ratu Laut Utara turunkan sosok Pendekar 212 didudukkan di lantai
lorong menghadap ke arah dinding merah.
"Pendekar, pujaan hati tambatan jiwaku. Duduklah
dengan tenang. Harap kau mau bersabar sampai aku mendatangkan sukmamu dan masuk
kembali bersatu dengan ragamu. Sebelum aku membawamu ke ruangan bernama Ruang
Penantian Cinta, aku ingin seseorang melihat dan mengetahui kehadiran dirimu di
tempat ini."
Sosok Pendekar 212 terduduk tak bergerak. Mata nyalang
tapi tak melihat, mulut terbuka tapi tak bisa bicara. Bambu kuning masih menancap
di leher. Ratu Laut Utara dekap pipi pemuda itu dengan kedua tangan lalu
mencium keningnya.
"Wiro walau baru kali ini kita saling berjumpa,
sejak sekian lama aku telah memutuskan bahwa kaulah satu-satunya kekasihku.
Lebih dari dua puluh empat purnama aku menantikan kedatanganmu. Akhirnya kau
hadir juga. Wiro kekasihku, aku telah mempersiapkan segala sesuatunya. Kita
berdua akan menguasai rimba persilatan, delapan penjuru daratan, delapan
penjuru lautan..."
Setelah mengecup bibir sang pendekar Ratu Laut Utara
mundur dua langkah. Telapak tangan kanan ditempelkan di dinding merah. Tenaga
dalam dialirkan. Terdengar suara berdesir. Dinding batu bergerak ke samping,
membuka ruangan sebentuk pintu yang dibatasi enam jalur besi hitam sebesar
betis. Di antara celah-celah jeruji besi terlihat satu ruangan batu tak
seberapa besar.
Dari dalam ruangan ini menghampar bau tidak sedap. Di
sudut ruangan sebelah kiri ada satu obor kecil yang nyala apinya tampak
berkedap kedip. Pada dinding sisi sebelah kanan terlihat satu tempat tidur
batu. Di ujung tempat tidur batu, duduk bersandar ke dinding seorang perempuan
berambut kusut riap-riapan. Sepasang mata terpejam. Wajah, pakaian serta
tubuhnya kotor, diselimuti daki yang nyaris membentuk lumut dan menebar bau
busuk. Salah satu kaki diikat dengan rantai besi besar. Ujung lain dari rantai
ini ditanam di lantai ruangan. Tangan kanan sebatas pergelangan sampai ke ujung
jari berwarna hitam. Uma jari tampak bengkok dan nyaris tanpa kuku.
Siapakah gerangan perempuan malang yang ada dalam
ruangan berupa penjara itu? Dia bukan lain adalah Ayu Lestari, Ratu Laut Utara
yang asli. Beberapa tahun silam Ratu Laut Utara yang sekarang, yang bernama Nyi
Harum Sarti, dan sebelumnya adalah anak buah Nyai Roro Kidul, merebut tahta
Kerajaan Bawah Laut dari tangan Ayu Lestari. Ratu yang asli dipenjarakan.
Selama ini Ayu Lestari tidak bisa dibunuh dan konon pada 300 hari mendatang dia
baru bisa dihabisi yaitu pada saat kesaktian yang masih melekat di tubuhnya
lenyap.
"Perempuan celaka di dalam ruang batu!"
tiba-tiba Ratu Laut Utara berteriak keras. "Buka matamu! Lihat siapa yang
hadir bersamaku!"
Orang yang duduk di tempat tidur batu dengan kaki
terbelenggu rantai besi ke lantai ruang batu tidak bergerak. Dua mata tetap
saja tertutup.
Ratu Laut Utara menyeringai gusar. Tangan kiri
betulkan letak mahkota emas di atas kepala lalu tangan dikacakkan di pinggang.
Tiba-tiba tangan kanan dipukulkan ke dalam ruangan. Selarik sinar hijau melesat
melewati celah antara dua jeruji besi. Menghantam dinding batu ruangan, satu
jengkal dari kepala Ayu Lestari.
"Braakkk!"
Dinding ruangan hancur berantakan. Hancuran batu
bertaburan, sebagian mengenai pipi kiri Ayu Lestari. Namun tidak ada luka atau
goresan terjadi pada pipi itu. Pertanda ada satu kekuatan yang melindungi
dirinya. Sementara sepasang mata tidak membuka. Malah dalam keadaan tidak
bergerak dan mata masih terpejam dari mulut Ratu Laut Utara yang asli ini
keluar suara tawa panjang lalu begitu suara tawa lenyap keadaan di tempat itu
kembali hening.
"Perempuan celaka! Kau akan menyesal masuk
keliang kubur kalau tidak mau melihat siapa orang yang ada bersamaku! Sekian
tahun kau telah merindukannya!"
Tiba-tiba kepala Ayu Lestari yang agak tertunduk
bergerak sedikit. Mulutnya bergerak.
"Puaahhh!"
Dari mulut perempuan muda yang kecantikannya tenggelam
dibalik lapisan daki tebal melesat ludah, menyambar ke arah pintu.
"Traang!"
Suara nyaring laksana dihantam benda keras membuat
salah satu jeruji besi yang kena sambaran ludah bergetar bengkok! Namun sesaat kemudian
besi yang bengkok secara aneh kembali lurus dengan sendirinya Ratu Laut Utara
mendelik besar melihat apa yang terjadi.
"Perempuan celaka ini ternyata masih memiliki
limu kesaktian. Tenaga dalamnya tidak berubah! Mungkin dia masih dilindungi
oleh Ratu Sepuh. Untung aku telah memagari ruangan Ini dengan Ilmu Dinding Gaib
Laut Utara. Kalau tidak sudah dulu-dulu dia bisa kabur dari tempat ini."
Kehebatan ilmu yang diterapkan Ratu Laut Utara di
dalam ruangan itu memang luar biasa. Misalnya Ayu Lestari mampu menghancurkan
atau memutus rantai besi yang mengikat kakinya. Namun sekejap kemudian rantai
itu kembali utuh. Kalau dia bisa menjebol dinding ruangan dengan pukulan sakti,
sesaat sesudah Itu secara ajaib lobang menutup dengan sendirinya Karena telah
bosan berulang kali tak pernah berhasil dalam usahanya meloloskan diri akhirnya
Ayu Lestari hanya tinggal pasrah disekap di tempat itu. menunggu sampai tiga
ratus hari dimuka yang penuh mendebarkan yaitu pada saat dimana konon seluruh
ilmu yang dimilikinya akan musnah dan dia akan mudah dihabisi oleh Ratu Laut
Utara bernama Nyi Harum Sarti itu.
"Perempuan tolol! Kau benar-benar tidak mau
melihat orang yang pernah menyelamatkan dirimu dan pernah kau cintai?!"
Ayu Lestari tetap diam, tidak bergerak juga tidak
bersuara
"Kau akan menyesal! Kau akan jadi arwah penasaran
selama bumi terhampar selama langit terkembang dan selama laut
bergelombang!"
Ratu Laut Utara tekan dinding batu berwarna
merah.Terdengar suara berdesir dan perlahan-lahan dinding batu yang merupakan
pintu penutup ruangan bergeser ke samping.
"Tunggu!"PEREMPUAN yang duduk kaki
terbelenggu rantai besi di atas tempat tidur batu keluarkan suara. Sangat
keras, membuat Seantero ruangan batu yang tidak seberapa besar itu bergetar
bahkan ada bagian langit-langit ruangan yang luruh rontok. Kepala disentakkan
hingga rambut yang menutupi sebagian wajah tersingkap. Perlahan-lahan sepasang
mata dibuka. Kalau pakaian dan seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai
ujung kaki perempuan ini tampak kotor diselimuti daki tebal, maka satu-satunya
yang kelihatan masih bersih dan bening walaupun sayu adalah sepasang matanya.
"Kau sudah melihat?!" Bentak Ratu Laut
Utara.
Ayu Lestari, perempuan di atas pembaringan batu tidak
menjawab sementara sepasang mata menatap sayu tak berkesip.
"Kau tidak mengenali pemuda ini?! Lihat! Buka
matamu lebar-lebari Jangan berpura-pura! Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng!
Orang yang pernah menolongmu! Pemuda yang pernah kau cintai dan seumur hidup
kau rindukan! Lihat! Pandang untuk terakhir kali sebelum kau menemui kematian
beberapa puluh hari dimuka!"
"Aku tidak melihat manusia! Aku tidak melihat
Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng. Tiba-tiba Ayu Lestari keluarkan ucapan.
"Apa?!" Sepasang alis bagus Ratu Laut Utara
berjingkrak ke atas.
"Apa matamu sudah menjadi buta karena terlalu
lama disekap di tempat celaka ini?!"
"Aku memang melihat sesuatu..."
"Perempuan keparat! Apa yang kau lihat?!"
Menghardik Ratu Laut Utara.
"Aku melihat kau membawa sendiri malaikat maut
yang akan mencabut nyawamu. Kasihan. Mengapa kau berlaku sebodoh itu?"
"Jahanam!"teriak Ratu Laut Utara
marah.Tangan kanannya dipukulkan ke arah Ayu Lestari.
"Wuuttt!"
Selarik sinar hijau menyambar ke arah kepala Ayu
Lestari.
"Wusss!"
Itulah pukulan bernama Mambang laut Utara. Jangankan
tubuh manusia. Batu karang atospun akan hancur berkeping-keping kalau sampai
kena dihantam.
Selarik cahaya biru tiba-tiba melesat keluar dari
bagian tubuh yang diserang. Sinar hijau terdorong hebat dan berbalik menghantam
ke arah Ratu Laut Utara! Ratu Laut Utara memekik marah! Dengan cepat dia
rundukkan tubuh sambil mendorong sosok kosong Wiro yang ada di sampingnya.
"Trang!"
"Braakkk!"
Dua jeruji besi sebesar betis putus! Dinding batu di
depan pintu berjeruji besi hancur bertaburan membentuk lobang besar. Namun
anehnya! Sesaat kemudian dinding batu pulih kembali, dua jeruji yang putus
bersambung utuh lagi! Itulah kehebatan ilmu pelindung bernama Dinding Gaib Laut
Utara yang diterapkan oleh Ratu Laut Utara.
"Jahanam keparat!" Ratu Laut Utara memaki
marah.
"Perempuan celaka itu masih menguasai Ilmu
kesaktian hebat Tunggu! Tak berapa lama lagi kau akan sampai pada hari nahas
hari celakamu! Begitu semua ilmu kesaktianmu rontok aku akan
menghabisimu!"
Ratu Laut Utara tekan dinding merah. Dinding bergerak
menutup pintu berlapis enam jalur besi sebesar betis. Dia panggul tubuh kosong
Pendekar 212 lalu cepat-cepat tinggalkan tempat itu. Dari dalam ruangan batu
terdengar suara tawa bergelak tiada henti dan baru lenyap setelah Ratu Laut Utara
sampai di bagian lorong dimana terdapat sebuah tangga batu menurun dan di ujung
sana terdapat sebuah pintu besi berwarna coklat.
Di bagian atas pintu pada satu palang besi tergantung
seekor kelelawar raksasa hitam dengan sayap menguncup, kaki ke atas kepala ke
bawah. Sepasang mata merah menyala berputar-putar tiada henti, menga-wasi
seantero tempat. Mulut menganga memperlihatkan barisan gigi putih dan lidah
bercabang merah basah yang selalu bergerak-gerak. Yang hebatnya, di sekujur
tubuh kelelawar raksasa ini bergantungan ratusan kelelawar kecil berwajah tak
kalah seramnya!
Tiba-tiba kelelawar raksasa geleparkan dua sayapnya.
Mulut membuka lebih lebar dan keluarkan suara menguik menggidikkan. Ratusan
kelelawar kecil ikut menguik. Kelelawar raksasa ulurkan leher hingga kepala
menyentuh lantai. Kepala dianggukkan beberapa kali seolah memberi hormat pada
perempuan cantik yang ada di hadapannya laau kepala ditarik kembali ke atas.
Ratu Laut Utara tersenyum.
"Raja Kalong Laut Utara! Aku senang sampai saat
ini kau tetap setia menjaga kamar tidurku. Di luar sana di kawasan laut utara
kita tengah menghadapi bahaya. Banyak orang jahat berkeliaran. Tapi aku telah
mengecoh mereka. Tidak satupun di antara mereka yang tahu tempat rahasia di
bawah pulau Ini. Selain itu sebentar lagi mereka semua akan menemui ajal secara
sengsara!"
Ratu Laut Utara usap punggung Wiro dan cium bahu sang
pendekar."Raja Kalong Laut Utara, aku membawa seseorang untuk kutinggal
kutitipkan di dalam kamar. Jika aku pergi Jaga dia baik-baik. Ketak dia akan
menjadi pendampingku di Kerajaan Laut Utara."
Kelelawar raksasa yang disebut Raja Kalong Laut Utara
keluarkan suara mengulk keras dan anggukkan kepala tiga kali. Bersamaan dengan
itu pintu besi warna coklat terbuka. Ratu Laut Utara segera melangkah masuk
membawa raga Pendekar 212 yang ada di bahu kanannya.
Ruang tidur Ratu Laut Utara ternyata adalah satu
ruangan sangat besar. Di situ terdapat sebuah ranjang besar dan bagus. Seluruh
lantai ditutup permadani tebal dan lembut Di atas sebuah meja terdapat banyak
kendi perak berisi berbagal minuman. Juga ada piring piring perak besar
dipenuhi bermacam-macam buah segar. Pada empat sudut ruangan terdapat sebuah
pendupaan tanah berlapis tembaga kuning yang mengepulkan asap halus menebar bau
harum semerbak. Inilah ruangan yang oleh Ratu Laut Utara disebut sebagal Ruang
Penantian Cinta.
Hebatnya! Di salah satu dinding ruangan terdapat
lukisan seorang pemuda gagah berambut panjang yang wajahnya mirip sekali dengan
Pendekar 212 Wiro Sableng. Luar biasanya, lukisan ini merupakan satu lukisan
telanjang! Wiro dilukiskan secara utuh namun tidak mengenakan pakaian sama
sekali! Ratu Laut Utara sering datang ke tempat ini hanya untuk memandangi,
bicara dan mencumbui lukisan.
Setiap hal itu dilakukan dia selalu berkata.
"Pendekar, walau kita belum pernah berjumpa namun
diri ini yakin satu ketika hal Itu akan menjadi kenyataan.Tali sambungan
kasihku padamu tidak akan pernah terputuskan oleh apa dan siapapun. Satu ketika
kita akan berjumpa dan tali yang indah itu akan mengikat diri kita untuk
selama-lamanya.Oh... betapa rindunya aku padamu..."
Apa yang diucap dan diharapkan Ratu Laut Utara hari
itu menjadi kenyataan. Dia berhasil menemui Wiro bahkan kini mendapatkan raga
sang pendekar walau tidak dalam keadaan utuh karena sukmanya berada di tempat
lain.
Ratu Laut Utara dudukkan Wiro yang masih dalam keadaan
bersila di atas tempat tidur besar. Lalu dia menotok beberapa bagian tubuh sang
pendekar. Sambil memegang dua ujung bambu yang menancap di leher Wiro dia kerahkan
tenaga dalam hingga tubuhnya bergetar mandi keringat. Sesaat kemudian tubuh
yang tadinya kaku itu kini menjadi lentur dan bisa dibaring-kan di atas tempat
tidur. Dua kaki ditarik memanjang ke bawah, dua tangan di kembangkan ke
samping.
Kemudian Ratu Laut Utara baringkan tubuhnya disamping
Wiro. Sambil mengusap kening sang pendekar dia berkata.
"Kekasihku, kau akan tenang dan aman di sini.
Bertahun-tahun aku menanti kedatanganmu. Pengap rasanya dada ini. Membara
rasanya lubuk hati ini. Aku seperti mau meledak. Kekasihku.. Jangan biarkan aku
meledak seorang diri..."
Setelah menciumi wajah Wiro berulang kali Ratu Laut
Utara melangkah ke arah meja. Dta meneguk habis minuman dalam beberapa kendi
hingga wajahnya yang cantik bersemu merah, bibir mekar bergetar, mata merah
membara dan dada busung menantang.
Minuman di dalam kendi bukan minuman biasa. Melainkan
air kelapa yang telah dirubah menjadi arak cukup keras. Arak dari kendi ke lima
tidak ditelan seluruhnya. Sebagian dari minuman masih ditahan di dalam mulut
Lalu Ratu Laut Utara melangkah ke tepi ranjang. Pipi Wiro ditekan hingga
mulutnya membuka. Ratu Laut Utara dekatkan mulutnya ke mulut Wiro. Minuman
dalam mulut kemudian dialirkan ke mulut sang pendekar. Minuman tak mampu masuk
melewati tenggorokan. hanya menggenang di dalam mulut Wiro.
Sedikit demi sedikit Ratu Laut Utara menjilati minuman
di dalam mulut sang pendekar hingga habis.
Kendi perak tercampak jatuh ke lantaLTubuh Ratu Laut
Utara bergetar hangat dan menghuyung lalu rebah menelungkup di atas sosok
Pendekar 212.
"Kekasihku aku terpaksa meninggalkanmu. Aku sedih
melihat lehermu yang masih ditancapi bambu kuning. Sebenarnya aku ingin
cepat-cepat mencabut bambu itu dari lehermu. Namun keadaan memaksa. Wiro,
sebelum kau kutinggalkan, perbolehkan diriku bersatu raga dengan dirimu. Aku
sudah menunggu kesempatan ini selama ratusan hari....Kekasihku izinkan
diriku..." Dua tangan halus Ratu Laut Utara bergerak menyibak dada pakaian
hitam yang dikenakan Pendekar 212.KETIKA suara tawa bergolak lenyap, ruang bau
tempat Ayu Lestari disekap berubah sunyi. Namun hanya sebentar. Karena sesaat
kemudian bekas Ratu Laut Utara ini keluarkan suara mengisak. Butiran-butiran
air mata jatuh meleleh di pipinya yang kotor.
"Wiro....Apa yang terjadi. Mereka menangkap
ragamu! Mereka menancapkan bambu penangkal di lehermu agar sukmamu tidak bisa
kembali bersatu dengan raga kasarmu. Ya Tuhan, dimana sukmamu saat ini? Sejak
kau meninggalkan Kerajaan Laut Utara beberapa tahun lalu, aku tak pernah
melupakan dirimu. Aku memang tidak pernah mengatakan padamu, aku tidak pernah
berterus terang betapa besar dan tulusnya cintaku padamu. Hari-hari perpisahan
dimana aku tidak pernah melihat dirimu lagi adalah hari-hari dimana cintaku
tumbuh semakin subur walau hati ini sebenarnya merana karena rindu. Wiro aku
tidak bisa menolongmu seperti dulu kau menolongku. Budimu agaknya tak pernah
akan terbalaskan kecuali dengan menyerahkan hati, cinta serta ragaku untukmu
seorang. Wiro, ditempat terkutuk ini aku hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa
agar kau diselamat-kannya dan kita bisa bertemu lagi. Kerajaan Laut Utara
adalah milikku. Kalau aku mampu mendapatkan tahta itu kembali aku ingin kau
mendampingiku. Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Kuasa, kabulkan permintaan
orang yang teraniaya.
Ayu Lestari usap air mata yang membasahi wajahnya. Dia
memandang seputar ruangan batu tempat dirinya disekap. Setelah menghela nafas
dalam Ratu Laut Utara yang asli Ini kembali keluarkan ucapan. "Ratu
Sepuh....Nenek Cempaka, dimana kalian berdua? Apakah kalian mengetahui keadaan
sengsara diriku. Kalau saja kalian ada di sini..."
Ratu Sepuh adalah pendiri Kerajaan Bawah Laut Utara
dan merupakan Ratu Laut Utara yang pertama. Setelah menyerahkan tahta Kerajaan
Laut Utara padanya konon Ratu sepuh kembali ke alam dan ujud asalnya yaitu
seekor buaya putih. Dikabarkan Ratu Sepuh bertapa di satu tempat yang tidak
seorangpun mengetahui. Menurut yang pernah melihat Ratu Sepuh dalam ujud buaya
putih sesekali memperlihatkan diri di sekitar Istana Kerajaan Bawah Laut Utara.
Jika hal Ini terjadi maka dipimpin oleh Ratu Laut Utara Ayu Lestari penghuni
Istana menebar kembang tujuh rupa di dalam lautan. Sejak Nyi Harum Sarti
memegang kekuasaan buaya putih itu tidak pernah kelihatan lagi.
Adapun Nenek Cempaka dia merupakan seorang nenek
cantik sakti pembantu dan kepercayaan Ratu Sepuh. Ketika Nyi Harum Sarti
merebut tahta Kerajaan Bawah Laut Utara, Nenek Cempaka menghilang entah kemana.
Ada yang menduga dia bergabung men-dampingi Ratu Sepuh di pertapaan. Ada pula
yang memperkirakan kalau nenek Itu telah dibunuh oleh Ratu Laut Utara yang
baru. Untuk mengetahui riwayat mereka silahkan dibaca serial Wiro Sableng
berjudul "Pembalasan Ratu Laut Utara".NENEK kembaran ketiga Eyang
Sepuh Kembar Tilu meninggalkan Ratu Duyung yang cidera dan dijagai oleh Nyi
Roro Manggut. Nenek alam roh Ini berusaha mengejar Ratu Laut Utara yang
melarikan Wiro. Dia masih sempat melihat perempuan itu melompat dari satu bukit
batu, masuk mencebur ke dalam laut yang diamuk gelombang dan angin deras bersama
Wiro yang ada di panggulan bahu kanannya.
Tanpa menunggu lebih lama nenek ini segera pula
menyusul melompat masuk ke dalam laut. Dia tidak pernah tahu kalau masuknya
Ratu Laut Utara ke dalam laut hanya satu tipuan belaka. Sang Ratu seperti yang
telah dituturkan sebelumnya tidak menuju ke Istana Kerajaan Bawah Laut
melainkan pergi ke satu tempat rahasia di Pulau Menjangan Besar.
Di bagian bawah permukaan laut utara ternyata cuma
sekali tidak ada gejolak badai. Namun ada rasa dingin yang luar biasa.
"Gila! Mengapa air laut dingin seperti es begini
rupa?! Aku bisa kencing terus-terusan! Hik... hik!" ucap si nenek begitu
dia berada di dalam laut. Matanya dibuka lebar-lebar. Dia tidak bisa melihat
jelas. Air laut seperti berkabut. Lama-lama kedua matanya menjadi perih.
Cepat-cepat dia kerahkan tenaga dalam dan alirkan hawa sakti panas pada kedua
mata hingga rasa perih hilang dan penglihatannya kembali terang.
"Kurang ajar" Kemana kaburnya Ratu keparat
yang melarikan raga Wiro itu. Aku harus menemukan Istana bawah laut. Wiro pasti
di bawa ke sana. Gila! Arah mana yang harus aku tempuh. Dimana letak istana
itu."
Sepasang mata merah si nenek memperhatikan kian
kemari. Di bawah sana dia melihat ada seberkas cahaya. Dengan sikap hati-hati
si nenek melayang turun lebih dalam ke dasar laut Yang memancarkan cahaya
ternyata adalah sebuah bangunan besar memiliki tiga menara, terbuat dari batu
pualam berkilauan. Beberapa bagian dari bangunan itu terutama di bagian atap
dan menara dibalut benda putih menyerupai salju. Di depan bangunan berdiri satu
mahluk raksasa membelakangi arah datangnya si nenek. Kedua bahu makhluk ini
juga dipenuhi tumpukan salju.
"Istana bawah laut!" ucap si nenek.
"Ada mahluk raksasa tengah mengawasi berjaga-jaga Pasti salah satu anak
buah Ratu Laut Utara. Pasti Ratu jahanam itu ada di dalam istana bersama raga
Wiro! Aku harus menyelidik. Aku harus bisa masuk ke dalam bangunan itu! Apakah
sukma pemuda itu sudah berada di dalam istana? Mengapa keadaan sunyi-sunyi
saja?"
Si nenek kembali bergerak turun. Gerakannya yang cukup
deras membuat air laut bergejolak dan menyebabkan mahluk raksasa yang ada di
depan bangunan istana balikkan tubuh. Air laut bersibak. Tubuh si nenek
terdorong sampai beberapa tombak. Memandang ke depan dia terkesima kaget
menyaksikan mahluk besar luar biasa mengerikan.
Mahluk bertubuh raksasa ini memiliki tiga mata
berwarna merah. Mata ketiga yang ada di kening selalu berkedap kedip. Sekujur
tubuh tertutup bulu tebal. Yang tidak tertutup bulu berwarna kuning pekat. Ada
cairan merah keluar dari mulutnya yang bercaling. Inilah Jin Durma Rawana yang
ditugaskan Ratu Laut Utara menjaga Istana Kerajaan Bawah Laut Utara. Dua bahu
digoyang.Tumpukan salju pecah berhamburan. Begitu melihat si nenek yang
besarnya hanya seperempat dari besar tubuhnya, mahluk raksasa meniup.
Air laut bergulung. Nenek jejadian kembaran ke tiga
Eyang Sepuh Kembar Tilu terpelanting jungkir balik dilanda gulungan air laut.
Selagi dia berusaha mengimbangi diri tiba-tiba mahluk raksasa bergerak. sekali
mahluk ini ulurkan tangan dia berhasil mencekal pinggang lawan. Jika sampai
diremas maka ikan hancur remuklah pinggang si nenek. Nyawa pasti amblas dan dia
akan kembali ke alam roh untuk selama-lamanya!
Sadar akan bahaya maut yang akan menimpa dirinya si
nenek tidak tinggal diam. Dengan kedua tangan dia lancarkan pukulan menyilang.
Selarik sinar merah membentuk kipas terbuka menderu. Air laut berubah panas
merah laksana darah dan bersibak deras. Sebagian tumpukan salju di atas atap
dan menara Istana mencair leleh. Pukulan Kipas Roh!
Durna Rawana meraung marah. Walau tidak cidera namun
dadanya yang terkena sambaran sinar merah seperti melesak. Tubuhnya terhuyung
ke belakang! Rasa sakit membuat dia melepas cengkeraman pada pinggang si nenek.
Kesempatan ini dipergunakan oleh si nenek untuk
melesat ke atas. Jin peliharaan Ratu Laut Utara mengejar. Walau tubuhnya besar
gerakannya ternyata lebih ringan dan lebih cepat dari si nenek. Sebelum
tubuhnya kembali dicengkeram, si nenek menyembur. Maksudnya hendak menyerang
dengan ilmu Asap Penggulung Raga. Namun ternyata di dalam'air laut ilmu ini
tidak bisa diterapkan. Kesaktian yang seharusnya bisa mengeluarkan asap kelabu
dan mengurung serta menghalangi pandangan lawan, di dalam taut hanya tinggal
merupakan alur-alur air yang tentu saja tidak ada artinya bagi Jin Durna
Rawana. Sekali dia melesat ke atas si nenek dengan mudah dapat ditangkap
kembali.
"Edan!" maki si nenek. Dengan cepat dia
terapkan ilmu Merubah Ujud, Menipu Pandang, Melindungi Raga. Tubuhnya serta
merta berubah menjadi seekor ikan bertubuh panjang dan sangat licin. Sekali
menggeliat si nenek mampu loloskan diri dari cekalan jin Durna Rawana.
Sadar walau bisa lolos namun akan sulit baginya untuk melarikan diri maka si nenek berlaku nekad. Masih dalam keadaan berbentuk ikan dia menyusup masuk ke balik cawat yang dikenakan jin Durna Rawana,
Sadar walau bisa lolos namun akan sulit baginya untuk melarikan diri maka si nenek berlaku nekad. Masih dalam keadaan berbentuk ikan dia menyusup masuk ke balik cawat yang dikenakan jin Durna Rawana,
"Kalau aku remas hancur kemaluanmu masakan tidak
akan mampus!" Begitu si nenek berpikir. Maka dalam keadaan tubuh masih
menyerupai ikan dia kembalikan bentuk kedua tangannya.Tapi ketika dua tangan
itu menyelinap ke bagian bawah perut Jin Durna Rawana untuk meremas, kaget si
nenek bukan alang kepalang.Ternyata bagian bawah jin bertubuh raksasa itu licin
polos!
"Oala! Mahluk jahanam ini tidak punya kemaluan!
Bangsat ini laki-laki atau perempuan!" Dalam bingungnya si nenek
kembalikan ujud kepalanya. Mulut menyeringai. Bagian licin dibawah perut mahluk
jin itu digigitnya kuat-kuat. Walau barisan gigi si nenek atas bawah sudah
tidak lengkap lagi, banyak yang ompong, namun sisa gigi yang ada selain
besar-besar juga runcing dan kuat!
Jin Durna Rawana meraung keras hingga air laut
bergejolak membuncah ke atas.Tubuh menggelepar kian kemari. Dua kaki
terkembang. Bagian bawah perut luka besar namun tidak ada darah yang
keluar.Tangan kanan dimasukkan ke daiam cawat untuk menangkap si nenek. Tapi si
nenek yang kini berujud setengah ikan setengah manusia itu telah melesat ke
permukaan laut. Selain tidak tahan akan air laut yang semakin dingin, dia juga
kawatir karena cepat atau lambat mahluk raksasa akan mampu menangkap dirinya
kembali. Karena itu sambil naik ke atas si nenek berkali-kali melepas Pukulan
Kipas Roh guna menahan gerak lawan, sekaligus memancing Durna Rawana naik ke
daratan sementara tubuhnya kembali ke ujud semula.
Walau terbanting-banting di dalam air akibat serangan
susul menyusul yang dilepas oleh si nenek namun jin Durna Rawana masih mampu
mengejar. Sesaat menjelang mendekati permukaan laut dia berhasil menangkap kaki
kiri nenek jejadian itu.
Si nenek berusaha menarik kakinya sambil berenang naik
ke permukaan laut. Secepat kilat dia kemudian balikkan tubuh. Kaki kanan
ditendangkan.
"Praakk!"
Tendangan keras itu mendarat telak di mata kanan Durna
Rawana hingga melesak hancur. Raungan dahsyat sang jin membuat air laut
bergejolak dan muncrat ke atas. Waiau mata kanannya kini menjadi buta dan dia
menahan sakit bukan alang kepalang, Durna Rawana tidak lepaskan cekatannya di
kaki kiri lawan. Malah kini dia berhasil mencekal kaki satunya dari si nenek.
Begitu dua kaki si nenek berada dalam cengkeramannya, Durna Rawana menariknya
ke arah yang berlawanan.
"Ggrreeek!"
Saat itu juga tubuh nenek jejadian robek mengerikan.
Mulai dari bawah perut hingga ke dada seolah dibelah!
Jin Durna Rawana keluarkan suara menggembor yang
membuat air laut buncah bergejolak dan cairan merah membersit keluar dari
mulut. Lalu dengan gerakan sangat kuat dia lemparkan tubuh si nenek ke atas
permukaan laut.
Dalam keadaan tubuh terbelah dan alam roh siap
menyambut kematian ke dua kalinya, sementara tubuh melayang melesat di di udara
nenek kembaran ketiga masih mampu keluarkan teriakan untuk terakhir kali.
"Wiroooooo....!"RATU Duyung masih duduk
bersila di atas pasir pantai sementara badai terus membuncah laut utara walau
tidak sehebat sebelumnya. Dengan bantuan Nyi Roro Manggut dia berhasil
mengerahkan tenaga dalam dan mengalirkan hawa sakti ke seluruh tubuh namun
keadaanya masih belum pulih betul.
"Aku hampir saja membunuh sahabatku
Itu..."Ucap Ratu Duyung perlahan.
"Maksudmu Purnama?" tanya si nenek cebol.
Ratu Duyung anggukkan kepala
"Dia bukan sahabatmu lagi Ratu. Bukan sahabatku.
Bukan sahabat kita. Gadis alam roh itu telah berlaku culas. Menyeberang ke
pihak musuh, menjadi kaki tangan Ratu Laut Utaraf
"Nyi Roro, aku melihat ada kelainan dalam
dirinya. Kalau dia memang pengkhianat berarti pantas dibunuh. Lantas mengapa
kau dan nenek kembar ke tiga itu mencegah apa yang tadi aku lakukan?"
"Kami tidak mencegah kematiannya. Justru mencegah
kematian dirimu!" Jawab Nyi Roro Manggut
"Aku tidak mengerti Nek."
SI nenek manggut-manggut beberapa kali. Matanya yang
juling menatap Ratu Duyung. "Saat kau melancarkan pukulan Genta Laut
Selatan, keadaanmu sangat lemah. Kau mengerahkan seluruh tenaga dalam dan hawa
sakti. Sama saja dengan kau menguras membongkar diri sendiri. Pada saat kau
menghancurkan kepala Purnama, gadis dari alam roh itu akan memberikan
perlawanan berupa cahaya biru yang keluar menyelubungi tubuh. Kau bisa menembus
cahaya itu tapi sebagian kekuatan yang ada dalam cahaya biru akan berbalik
menghantam dirimu. Dia mati, kau juga akan menemui ajal."
"Kalau begitu, aku sangat berterima kasih padamu
dan nenek kembar ketiga itu." Kata Ratu Duyung pula "Sekarang kita
harus mengejar nenek itudan mencari Wiro. Mereka dalam bahaya. Si nenek akan
terjebak di dalam laut Wiro tidak mampu mengembalikan sukmanya ke dalam raga.
Dan Ratu Laut Utara kini menguasai raga Itu."
Nyi Roro Manggut membantu Ratu Duyung berdiri seraya
berkata. "Sebenarnya aku lebih suka kau beristirahat barang beberapa lama.
Biar aku yang masuk ke dalam laut. Aku...."
SI nenek hentikan ucapan. "Aku mendengar suara di
kejauhan. Seseorang berteriak menyebut nama Wiro...."
"Aku juga," jawab Ratu Duyung seraya
mendongak ke langit
Tiba-tiba sebuah benda melesat keluar dari dalam laut
melayang di udara dan blukkk! Jatuh di samping kedua orang itu!
Ratu Duyung menjerit keras. Nyi Roro Manggut meraung
dahsyat ketika keduanya mengenali siapa yang terkapar di atas pasir. Nenek
kembaran ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu! Keadaannya luar biasa mengerikan.Tubuh
terbelah dari bagian bawah perut sampai pertengahan dada! Cairan merah
kehitaman dan pekat menyelubungi seluruh tubuh dan jubah kuningnya.
"Gusti Allah! Siapa yang melakukan perbuatan
kebiadaban ini!" teriak Ratu Duyung.
"Sobatku! Aku bersumpah akan membalas
kematianmu!" Nyi Roro Manggut susul berteriak.
Tiba-tiba dua bayangan kuning samar-samar berkelebat
dari langit, melayang turun ke tempat nenek kembaran ke tiga tergeletak. Walau
tidak jelas namun Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut masih bisa mengenali.
"Arwah Eyang Sepuh Kembar Tilu bersama kembaran
kedua datang menjemput kembaran ketiga mereka..." bisik Nyi Roro Manggut
dengan suara bergetar.
Ratu Duyung merasa tengkuknya dingin.
Cepat sekail dua nenek kembar samar menggotong mayat
nenek kembaran ke tiga. Lalu membawanya melesat ke langit gelap dibawahi deru
badai dan lenyap dalam sekejapan mata.
"Kasihan....kasihan sekali nenek itu..."
kata Ratu Duyung sambil berusaha menahan tangis. "Kalau Wiro tahu, dia
pasti akan mengamuk. Sebelumnya Wiro telah terpukul sewaktu seorang nenek dari
Latanahsilam sahabatnya menemui kematian."
Ratu Duyung pegang lengan nenek cebol.
"Nak, kita harus segera pergi dari sini. Kita
harus menemukan raga Wiro. Kita harus mendapatkan Batu Mustika Angin Laut
Kencana Biru..."
Belum sempat keduanya bergerak mendadak satu mahluk
tinggi besar berkepala botak, hanya mengenakan cawat melesat keluar dari dalam
laut. Sekujur tubuh tertutup bulu lebat. Jin Durna Rawanal
Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut sampai tersurut
beberapa langkah melihat kemunculan mahluk raksasa yang mengerikan ini.
"Aku mengenali mahluk ini... " bisik Nyi
Roro Manggut." Dia jin yang telah hidup ratusan tahun dan jadi anak buah
kaki tangan Ratu Laut Utara. Lihat mata kanannya. Melesak hancur. Jangan-jangan
dia berkelahi dengan nenek kembaran ke tiga. Nenek itu berhasil menghancurkan
matanya"
"Berarti dia yang membunuh secara kejam nenek
sahabat kita itu! ucap Ratu Duyung pula. "Nak, kita sudah bersumpah untuk
menghabisi siapapun yang telah membunuh nenek kembaran ke tiga itu.Tunggu apa
lagi. Mari kita musnahkan mahluk durjana ini."
"Sumpah tinggal sumpah Ratu," jawab Nyi Roro
Manggut. "Tapi kita berdua mungkin tidak mampu membunuhnya. Mahluk jin
seperti dia hanya bisa dihabisi dengan Ilmu api. Kita berdua tidak punya ilmu
kesaktian yang mengandalkan kekuatan api!"
"Nek, kita berdua orang-orang kepercayaan Nyi
Roro Kidul. Kita mendapatkan banyak ilmu kesaktian dari Ratu Agung! Kalau nenek
kembaran ke tiga mampu membuat matanya hancur melesak, masakan kita berdua
tidak sanggup berbuat lebih dari itu!" kata Ratu Duyung pula.
"Jangan keliru. Nenek itu mahluk alam roh yang
punya kekuatan inti bumi dan inti langit!" Jawab Nyi Roro Manggut
Ratu Duyung tidak perduli. Dia menyahuti. "Ilmu
kesaktian kita berdua kalau digabung masakan tidak bisa membunuh mahluk ini!
Lihat, dia memiliki mala ke tiga di kening. Aku yakin mata itu titik kekuatan
sekaligus kelemahannya!"
Habis berkata begitu didahului teriakan keras Ratu
Duyung melompat ke hadapan Jin Durna Rawana sambil dua tangan kirimkan pukulan
dua tangan menyilang.
"WuutttWuuutt!"
Dua larik sinar biru berkiblat ke arah kepala Durna
Rawana. Ilmu Pedang Inti Samuderal
"Blaar! Blaaar!"
Suara laksana patir menyambar menggelegar di tepi
pantai begitu pukulan sakti Ratu Duyung menghantam telak kepala dan leher Jin
Durna Rawana.
Nyi Roro Manggut tak tinggal diam. Dia segera merapal
ajian Ilmu Menggunung Raga Melaut Tenaga. Saat itu juga tubuh si nenek berubah
menjadi tinggi dan besar, hampir menyamai sosok Jin Durna Rawana. Bersamaan
dengan perubahan tubuhnya. Nyi Roro Manggut lepaskan satu pukulan tangan kosong
ke arah lawan. Selarik sinar biru menggebubu menyapu tubuh Durna Rawana.
Akibat serangan yang dilancarkan Ratu Duyung kening
Durna Rawana terbelah tepat di bagian mata ke tiga. Leher putus. Kepala
menggelinding di pasir. Lalu begitu tubuhnya kena dihantam pukulan sakti yang
dilepas Nyi Roro Manggut tubuh tinggi besar Durna Rawana laksana meledak,
berubah menjadi kepingin-kepingan mengerikan, bertebaran di atas pasir pantai!
"Nek!" Ratu Duyung berteriak girang.
"Lihat! Kita berhasil membunuhnya!"
Nyi Roro Manggut diam saja. Dia tahu banyak tentang
mahluk ini dan dia maklum apa yang akan segera terjadi.
"Ratu, cepat tinggalkan tempat ini!" ucap si
nenek sambil tarik lengan Ratu Duyung.
Ratu Duyung yang tidak mengerti malah menolak pegangan
si nenek. Dia merasa puas karena berhasil menghabisi mahluk yang telah membunuh
sahabatnya nenek kembaran ketiga. Namun gadis bermata biru ini membaliak dan
keluarkan suara melengak kaget ketika melihat bagaimana kening simahluk yang
terbelah merapat kembali. Kepala yang putus menggelinding melayang dan menempel
lagi ke leher! Tubuh yang berkeping-keping satu persatu melesat di udara,
bergabung menyatu kembali! Asap aneh mengepul! Sesaat kemudian mahluk itu,
sudah berdiri tegak, menyeringai mengerikan lalu wuuttt wuuutt! Dua tangan
laksana kilat mencengkeram ke arah dada pakaian Ratu Duyung dan Nyi Roro
Manggut.
"Bukk! Bukkk!"
"Dukkk!"
Nyi Roro Manggut hantamkan dua Jotosan sekaligus ke
dada Durna Rawana hingga tubuhnya mengepulkan asap. Ratu Duyung menghajar
perutnya dengan tendangan keras membuat tubuh jin itu terangkat. Namun Durna
Rawana tidak cidera malah menyeringai.
Didahului suara menggembor mulutnya menyembur. Cairan
merah dan hawa aneh melesat ke wajah serta tubuh Nyi Roro Manggut. Saat itu
juga sosok si nenek kembali mengecil ke bentuk asal! Mukanya tertutup cairan
merah yang membuat matanya perih.
"Jin Durna Rawana tertawa bergelak. Dua tangan
kiri kanan bergerak menghantamkan kepala Ratu Duyung dengan kepala Nyi Roro
Manggut Jika Yang Maha Kuasa memang sudah menakdirkan, kedua or-ang Itu akan
hancur kepala masing-masing karena saling kepruk!PADA saat sangat genting
menegangkan itu dimana kepala Ratu Duyung akan berhantaman dan saling
menghancurkan dengan kepala Nyi Roro Manggut tanpa kedua orang ini bisa berbuat
sesuatu untuk selamatkan diri tiba-tiba dari arah pantai sebelah timur muncul
seorang berpakaian hitam. Dari arah orang ini terlihat kilatan api. Lalu sesaat
kemudian wussss! Larikan lidah api menyambar susul menyusul melabrak Jin Durna
Rawana.
Jin bertubuh raksasa meraung keras. Cengkeramannya
pada Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut terlepas. Kedua orang ini cepat jatuhkan
diri, berguling di pasir menjauh dari Durna Rawana yang saat itu telah dikobari
api tubuhnya sebelah belakang mulai dari tengkuk sampai ke kaki! Dalam keadaan
seperti itu jin ini balikkan tubuh sambil mulut menyembur dan tangan kanan
memukul.
Cairan merah menderu, disusul gelombang angin pukulan
yang bukan kepalang hebatnya. Pasir pantai berserabutan, menghambur ke depan
berubah menjadi benda sangat berbahaya yang bisa membuat tubuh manusia
berlubang hangus.
Orang berpakaian hitam yang mendapat serangan melesat
dua tombak ke udara. Lalu dari udara kelihatan dua lidah api menyambar. Jin
Durna Rawana kembali meraung begitu tubuh ditambus api! Kali ini muka dan
perutnya. Sambil meraung keras mahluk ini lari dan menceburkan diri ke dalam
laut.
Saat itu Juga deru angin mengendur.Tebaran pasir yang
membubung di udara perlahan-lahan luruh jatuh ke laut dan ke tepi pantai.
Gelombang raksasa yang menggila di tengah laut sedikit demi sedikit menyurut
dan akhirnya lenyap sama sekali. Badai yang melanda sirna secara aneh. Laut
kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Di kejauhan terdengar
suara raungan aneh riuh sekali lalu sunyi. Itu adalah suara raung enam puluh
dua jin anak buah Durna Rawana yang terpuruk kembali ke alam gaib begitu
pimpinan mereka menemui ajal. Tapi apakah benar Jin raksasa ini telah menemui
kematian?
Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut saling pandang.
"Badai berhenti Nek. Apa yang terjadi?" ucap
Ratu Duyung.
Nyi Roro Manggut menatap ke tengah laut."Kurasa
ada sangkut paut dengan kematian jin tadi. Pasti dia yang menciptakan badai
setan atas perintah Ratu Laut Utara."
Sementara orang berpakaian hitam yang tadi menyerang
Jin Durna Rawana melayang turun ke arah Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut Di
tangan kiri memegang sebuah benda yang ternyata adalah batu hitam empat persegi
panjang. Di tangan kanan dia mencekal kapak bermata dua yang menebar cahaya
menyilaukan di udara yang masih gelap itu.
"Wiro!" seru Ratu Duyung dan Nyi Roro
Manggut Kedua perempuan ini langsung memeluk sosok Pendekar 212 yang sebenarnya
adalah sukma, bukan raga aslinya. Seperti diketahui batu hitam batu sakti jika
digesekkan dengan mata Kapak Naga Geni 212 akan mencuatkan lidah api dahsyat
Serangan lidah api inilah tadi yang dilakukan Wiro terhadap Jin Durna Rawana.
"Syukur kau datang. Kalau tidak kami berdua pasti
sudah mati di tangan mahluk jin itu!" ucap Ratu Duyung terbata-bata.
"Seharusnya aku membunuh mahluk itu di dasar
laut. Aku melihatnya sewaktu hendak memasuki istana Ratu Laut Utara. Tapi aku
memilih membiarkannya dulu karena ingin buru-buru mengejar Ratu Laut Utara.
Ternyata Ratu Laut Utara tidak ada dalam istananya. Aku juga berusaha mencari
sahabatku Ayu Lestari, Ratu Laut Utara yang asli.Tidak bisa aku
temukan..."
"Pasti gadis itu disekap di satu tempat lain yang
rahasia," kata Nyi Roro Manggut sementara Ratu Duyung berdiam diri
mendengar disebut-sebutnya nama Ayu Lestari. Sambil bicara Nyi Roro Manggut
melirik ke arah Ratu Duyung. Dia maklum kalau dalam hati gadis ini ada seberkas
rasa cemburu terhadap Ayu Lestari. "He..he.„ Cemburu... Apakah aku sendiri
tidak merasa cemburu?" si nenek berkata dan tertawa sendiri dalam hati.
Seperti diketahui ketika hendak memberikan Ilmu Meraga Sukma pada Pendekar 212
Nyi Roro Manggut walau hanya menguji telah merubah diri menjadi gadis cantik
dan berusaha menggoda Wiro.
"Ketika aku berenang menuju permukaan laut, aku
sempat mendengar suara orang berteriak memanggil namaku..."
"Wiro..." Nyi Roro Manggut tidak meneruskan
ucapannya melainkan memandang pada Ratu Duyung.
"Ada apa Nyi Roro, intan?" tanya Wiro.
"Wiro," Ratu Duyung terisak dan jatuhkan
kepalanya di dada Pendekar 212. "Yang kau dengar Itu mungkin suara nenek
kembaran ketiga Eyang Sepuh KembarTilu. Seharusnya kau bunuh mahluk jin itu
ketika masih di dalam laut. Ketahuilah, dia barusan membunuh nenek sahabat kita
Itu."
"Apa?!" Suara sukma Wiro menggelegar.
Terbata-bata Ratu Duyung ceritakan apa yang telah
terjadi dengan nenek jejadian kembaran ke tiga.
"Kurang ajar! Aku harus mengejar mahluk itu dan
membunuhnya sekarang juga! Mungkin dia belum mati dan sembunyi di dalam
laut!"
Wiro acungkan Kapak Naga Geni 212.
"Kau tak perlu mengejar. Kau sudah membakar
sekujur tubuhnya. Api adalah musuh utama dan kelemahan mahluk jin Kurasa saat
ini dia sudah kembali ke alamnya," kata Nyi Roro Manggut.
"Yang lebih penting adalah mengejar Ratu Laut
Utara." Kata Ratu Duyung pula.
Wiro memperhatikan berkeliling. Saat itu fajar telah
menyingsing hingga dia bisa melihat cukup jelas kemanapun dia memandang. Dia
tidak menemukan apa yang dicarinya.
"Wiro, sesuatu telah terjadi dengan ragamu."
Kata Ratu Duyung. Gadis ini berpaling pada si nenek di sampingnya. "Nyi
Roro, aku tidak tega mengatakan. Tolong kau saja yang menceritakan apa yang
telah dilakukan Ratu Laut Utara."
"Wiro, tak berapa lama setelah sukmamu masuk ke
dalam laut, Ratu Laut Utara muncul bersama Purnama..."
"Apa?! Ratu Laut Utara muncul bersama Purnama,
Nek?! Kau ini cerita apa?!" Nyi Roro Manggut angkat tangan kiri memberi
tanda agar Wiro jangan memotong bicaranya dulu.
"Sesuatu telah terjadi hingga gadis dari negeri
seribu dua ratus tahun silam itu tunduk dan ikut bersama musuh. Kurasa dia
masuk perangkap sang Ratu. Kini dia menjadi kaki tangan Ratu Laut
Utara..."
"Aku tidak menduga seculas itu hatinya. Sejahat
itu pekertinya..."
"Ratu Laut Utara muncul membawa bambu kuning
penangkal ilmu meraga sukma. Ratu jahanam itu menancapkan bambu kuning ke leher
ragamu. Selama bambu itu menancap di ragamu, sukmamu tidak akan bisa masuk
kembali. Kami berdua berusaha mencegah tapi terlambat"
"Lalu ragaku, dimana ragaku sekarang. Seharusnya
ada di sekitar sini."
"Ratu Laut Utara membawa lari ragamu. Ketahuilah
ragamu yang tanpa sukma menjadi sangat enteng. Mudah dibawa kemana-mana.
Purnama lenyap dari tempat ini. Dia dalam keadaan terluka setelah bertempur
melawan Ratu Duyung. Pasti ada orang-orang sakti kaki tangan Ratu Laut Utara
yang menyelamatkannya."
Rahang Pendekar 212 menggembung. Darah dalam tubuhnya
laksana mendidih. "Ratu Laut Utara tidak ada di Istananya. Dia tidak ada
di dalam laut Intan, coba kau selidiki dengan cermin saktimu."
"Aku tidak tahu apa cerminku sudah bisa
dipergunakan. Terakhir sekali cermin itu berwarna hitam pekat..." Ratu
Duyung keluarkan cermin bulat dari balik pakaiannya. Dia membolak balik cermin
sakti itu beberapa kali lalu memperhatikan." Ah, syukur cerminku sudah
bisa bekerja kembali!" Ratu Duyung berseru girang. "Wama hitam titik
buta lenyap. Aku melihat laut. Aku melihat..."
Tiba-tiba satu cahaya hijau melesat dan arah utara.
Sebelum tiga orang itu sadar apa yang terjadi cahaya hijau telah menghantam
cermin sakti di tangan Ratu Duyung hingga hancur berkeping-keping dan
mengepulkan asap.
Wiro cepat memeluk Ratu Duyung yang terpekik dan kini
tertegun dengan muka pucat.
"Aku, aku tidak apa-apa Wiro.Tapi cermin Itu. Ah.-"
"Nyawamu lebih penting dari cermin itu. Aku
berjanji akan memintakan cermin baru dan iebih sakti pada Nyai Roro
Kidul," kata Nyi Roro Manggut pula.
"Intan, waktu kau melihat ke dalam cermin kau
berkata kau melihat laut. Lalu kau masih sempat berucap kau melihat... melihat
sesuatu yang tak sampai kau ucapkan. Kau melihat apa Intan? Kau bisa
mengingat?"
Ratu Duyung pegang lengan Wiro. "Ya, aku melihat
sesuatu. Aku melihat pulau," jawab Ratu Duyung.
"Intan, cepat kau terapkan Ilmu Menembus
Pandang.."
"Pulau itu cukup jauh dari sini. Tak mungkin
menyelidik dengan Ilmu Menembus Pandang."
"Aku dan Nyi Roro Manggut akan bantu mengerahkan
tenaga dalam agar daya lihatmu jadi berlipat ganda. Kau pasti mampu. Ayo Intan,
Nyi Roro. Mari kita lakukan!"
Wiro letakkan dua telapak tangan di punggung Ratu
Duyung. Nyi Roro Manggut melakukan hal yang sama. Perlahan-lahan Ratu Duyung
hadapkan wajahnya ke arah laut Sepasang mata biru menatap ke arah kejauhan,
diluar batas kemampuan pandangan manusia. Mata yang bagus itu lalu
di-kedipkan.KITA kembali pada Bujang Gila Tapak Sakti dan Bidadari Angin Timur
yang berada di pantai selatan Pulau Karimunjawa. Dengan bantuan tenaga dalam
gadis berambut pirang itu Bujang Gila Tapak Sakti berhasil membuat air laut
menjadi sedingin es sehingga semua penghuni Istana Kerajaan Bawah Laut Ratu
Laut Utara terpaksa naik ke permukaan laut. Yang terlambat menyelamatkan diri
menemui ajal secara mengenaskan. Yang ikut jadi korban adalah tiga puluh
delapan jin anak buah Jin Durna Rawana. Satu-satunya mahluk yang masih bisa
bertahan saat itu sebelum dibakar oleh Pendskar212 Wiro Sableng adalah Durna
Rawana sendiri
"Sobatku gendut Kurasa tak ada lagi mahluk yang
masih hidup dan bisa bertahan di dasar laut sana. Ratu jahat itu bersama
pengikut-pengikutnya pasti Juga sudah kabur. Saatnya kita mencari tamen-teman.
Katamu menurut petunjuk Kakek Segala Tahu...." Gadis berambut pirang itu
tidak teruskan ucapannya karena tiba-tiba dari arah barat dia mendengar suara
perempuan berteriak. Walau badai membuncah kawasan itu namun suara teriakan
terdengar cukup jelas tanda perempuan ini memiliki tenaga dalam tinggi serta
mampu mengarahkan teriakannya kepada orang yang dituju.
"Bidadari Angin Timur! janda Kepala Pasukan
Kesultanan Cirebon bernama Tubagus Kesumaputra! Kau berada di Kawasan Kerajaan
Laut Utara tanpa izin tanpa diundang! Kau berserikat dengan musuh-musuh
Kerajaan merencanakan sesuatu! Seharusnya kau dihukum mati! Tapi aku Ratu Laut
Utara berbaik hati memberi kesempatan hidup padamu! Aku sudah lama mendengar
kehebatanmu! Janda muda! Apa kau berani menerima tantanganku barang satu dua
jurus?! Jika kau mampu mengalahkanku maka aku akan membebaskanmu! Tapi jika kau
menjadi pecundang maka kau harus menyembah dan tunduk padaku!"
Bukan teriakan yang menggelegar itu yang membuat kaget
Bidadari AnginTimur setengah mati! Tapi ucapan bahwa dia janda muda Kepala
Pasukan Kesultanan Cirebon Tubagus Kesumaputra itulah yang membuat gadis ini
seperti mau meledak. Bidadari Angin Timur berpaling ke arah barat pulau di mana
terdapat satu bukit rendah. Di atas bukit ini ada gugusan batu hitam. Di salah
satu batu hitam berdiri seorang perempuan berpakaian biru gelap. Rambut
melambai-lambai ditiup angin. Di kepalanya ada sebuah mahkota emas bertabur
batu permata.
Bujang Gila Tapak Sakti yang Juga mendengar teriakan
perempuan itu dan jadi terheran-heran Setelah memandang ke arah barat lalu
berkata "Bidadari AnglnTimur. Aku yakin perempuan di atas batu itu adalah
Ratu Laut Utara Dia menantang dirimu! Yang aku tidak mengerti mengapa dia
menyebut dirimu janda muda Janda Kepala Pasukan Kesultanan Cirebon! Eh,
memangnya apa kau pernah kawin. Lalu suamimu itu mati atau kau dicerai atau
bagaimana?"
"Perempuan jahanam! Akan aku robek
mulutnya!" Ucap Bidadari Angin Timur."Bujang gila kau tetap di sini.
Tunggu sampai aku datang membawa kepala perempuan itu..."
"Kurasa tugasku di sini sudah selesai. Ratu Laut
Utara musuh kita bersama. Aku Ikut! Menurut Kakek Segala Tahu perempuan Itu
sangat berbahaya!"
Tidak perdulikan ucapan si gendut, Bidadari Angin
Timur telah berkelebat lebih dulu ke arah bukit gugusan batu hitam. Bujang Gila
Tapak Sakti tekan peci hitamnya hingga turun sampai sebatas alis lalu memutar
tubuh. Namun sebelum sempat bangkit dan keluar dari dalam laut yang agak dangkal
itu tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu menyusup ke balik celana komprang
hitamnya.
Kaget si gendut ini bukan alang kepalang. Tapi ada
rasa-rasa nikmat yang membuat dia sesaat jadi terperangah diam, malah
senyum-senyum keenakan
"Ini |elas bukan ikan. Heh, siapa yang meraba
diriku...?"
Mendadak dari dalam laut dangkal melesat keluar
sesosok tubuh. "Kini selain kaget Bujang Gila Tapak Sakti juga terkesiap.
Betapa tidak. Yang muncul di antara dua kakinya yang terkembang adalah seorang
gadis cantik bertubuh dan berambut panjang basah riap-riapan. Di sebelah atas
gadis ini tidak mengenakan apa-apa.
"Kekasihku, apakah kau sudah lama menungguku di
tempat ini?"
Si gadis yang bukan lain adalah Ning Kameswari menyapa
sambil layangkan senyum serta lirikan mata penuh menggoda. Sambil bicara dia
menggoyangkan dada hingga Bujang Gila Tapak Sakti yang mau bicara jadi
tergagap-gagap.
Si gendut berkata polos. "Aku ... aku bukan
kekasihmu. Aku ... aku tid ... tidak menunggumu di sini."
"Hal, Jangan membuat hatiku sedih mendengar
ucapanmu itu. Namaku Kameswari. Bukankah namamu Bujang Gila Tapak Sakti?"
St gadis bertelanjang dada berkata.
"Betul....Bagaimana kau tahu namaku? Eh, apakah
tanganmu yang ada dalam celanaku?" Bujang Gila Tapak Sakti bertanya sambil
senyum-senyum.
Si gadis tertawa cekikikan. Saat itu dua tangannya
mulai bekerja membuka kain penutup tabung bambu berisi tujuh kalajengking biru.
Begitu penutup tanggal, tabung ditunggingkan. Tujuh kalajengking biru
bertebaran langsung mengantuk tubuh bagian bawah perut Bujang Gila Tapak Sakti.
SI gendut ini mendelik lalu menjerit keras. Tubuh terjengkang, dua kaki
menggelepar. Hawa panas menjalar ke sekujur tubuh. Kameswari tertawa panjang
lalu menyusup masuk ke dalam air lautdan lenyap dari pemandangan.
Di saat bersamaan, di atas bukit dimana Datuk Api Batu
Neraka menunggu, begitu melihat Ning Kameswari berhasil melakukan tugasnya,
orang tua bersorban dan berjubah putih ini buka mulutnya yang lebar. Sekali
menyembur dari mulut Itu bertumpahan ratusan batu menyala, masuk ke dalam laut
hingga air laut yang tadi telah dibuat dingin oleh Bujang Gila Tapak Sakti kini
berubah panas. Di dalam laut Bujang Gila Tapak Sakti tidak beda merasakan
seperti direbus! Keponakan Dewa Ketawa ini menjerit keras, menggeliat beberapa
kali tak berkutik lagi. Sekujur tubuhnya berwarna biru.KETIKA melihat ratusan
batu merah menyala melesat bertaburan ke arah laut. Bidadari Angin Timur
hentikan lari. Di satu bukit lain yang berdampingan dengan bukit batu gadis
berambut pirang itu melihat seorang tua bersorban dan berjubah putih
me-muntahkan batu-batu menyala itu. Di saat yang sama dia mendengar suara
jeritan keras. Suara Bujang Gila Tapak Sakti!
Bidadari Angin Timur menoleh ke belakang. Memandang ke
arah laut di bawahnya. Dia tidak melihat sosok Bujang Gila Tapak Sakti. Malah
sekelebatan dia melihat ada sosok lain yaitu seorang perempuan bertelanjang
dada mencebur masuk ke dalam laut. Ketika dia kembali memandang ke arah bukit
batu, perempuan berambut panjang berpakaian biru gelap tidak kelihatan lagi!
Di bagian bukit yang lain Bidadari Angin Timur melihat
orang tua bersorban dan berjubah putih masih terus memuntahkan batu-batu
menyala ke dalam laut.
"Tua bangka berilmu setan! Dia pasti anak buah
Ratu Laut Utara. Dia hendak mencelakai Bujang Gula Tapak Sakti!"Tidak
menunggu lebih lama Bidadari Angin Timur lepaskan pukulan tangan kosong jarak
jauh mengandung tenaga dalam tinggi.
"Wuuutt!!"'
"Byaaarr!"
Pukulan sakti menghantam bukit kecil dengan tepat
Bukit kecil itu laksana meledak.Tanah mencuat bertaburan. Namun sosok orang tua
berjubah putih telah lebih dulu melenyapkan diri.
Penasaran Bidadari AnginTimur melanjutkan lari ke arah
puncak bukit batu Sampai di atas, perempuan Itu memang benar-benar tak ada lagi
di tempat semula dia berdiri!
"Ratu keparat! Pengecut! Berani menantang tapi
sekarang kabur menghilang!" Mendadak selintas pikiran muncul di benak
Bidadari Angin Timur. "Aku dijebak! Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa
tertipu!"
Tidak menunggu lebih lama Bidadari Angin Timur segera
lari menuruni bukit Ketika dia sampai di tepi pantai dilihatnya sosok gendut
Bujang Gila Tapak Sakti sebagian terapung di laut setengah lagi terkapar di
atas pasir.
"Celaka! Apa yang terjadi! Bujang Gila! Kau
kenapa?!"
Tak ada sahutan.
Susah payah Bidadari Angin Timur cepat menarik tubuh
gendut Bujang Gila Tapak Sakti agar tidak terseret air laut Si gadis dekapkan
telinga kirinya ke dada.
"Masih hidup. Masih terdengar detakan jantung.
Tapi gila! Sekujur tubuhnya membiru!" Ucap
Bidadari Angin Timur. Dia terpekik dan melompat ketika melihat tujuh ekor
kalajengking biru menyelinap keluar dari balik kaki celana hitam komprang yang
dikenakan Bujang Gila Tapak Sakti, meluncur di atas pasir menuju ke laut.
Bidadari Angin Timur ingat pada perempuan setengah telanjang yang tadi
dilihatnya berada di dekat Bujang Gila Tapak Sakti. "Aku benar-benar
tertipu Ketika aku mengejar Ratu keparat perempuan setengah telanjang itu
mengerjai Bujang Gila!"
Saking geramnya Bidadari Angin Timur lalu lepaskan
pukulan tangan kosong.Tujuh kalajengking biru hancur amblas masuk ke dalam
pasir!
"Racun kalajengking! Bagaimana aku
menolong!" Dalam bingungnya Bidadari Angin Timur lalu membuat selusin
totokan di berbagai, bagian tubuh Bujang Gila Tapak Sakti. Gadis ini jatuhkan
diri, terduduk di samping tubuh gemuk tak bergerak itu. Dta sadar totokan yang
dibuatnya hanya sanggup menunda kematian Bujang Giia Tapak Sakti selama satu
hari. Mungkin lebih cepat dari Ku!
Dalam keadaan bingung begitu rupa tiba-tiba dua orang
berkelebat di udara. Gerakan mereka selain cepat juga enteng. Sekejap kemudian
dua orang Itu telah berdiri di hadapan Bidadari Angin Timur yang masih duduk
kebingungan di samping tubuh Bujang GilangTapak Sakti.
Orang pertama adalah kakek berjubah hitam dengan
tangan kiri dibalut. Dia bernama Ki Ngumpil Sebaki alias Si Lidah Hantu.
Beberapa waktu lalu dalam satu perkelahian dengan Nyai Tumbal Jiwo yang
menyamar diri dengan ujud Ratu Duyung, tangan kiri si kakek kena ditendang
patah dengan tendangan Kaki Roh Menjebol Karang. (Baca serial Wiro Sableng
sebelumnya berjudul "Badai Laut Utara")
Nenek yang muncul bersama Ki Ngumpil Sebaki, berkepala
kuncup berkulit dan berpakaian ungu. Mata bengkak, bibir dower merah. Siapa
lagi kalau bukan Nyi Kuncup lingga.
Mencium bahaya Bidadari Angin Timur segera berdiri
lalu membentak.
"Kalian pasti dua cecunguk kaki tangan Ratu Laut
Utara! Setelah teman kalian mencelakai sahabatku ini, kalian masih berani
muncul! Benar-benar minta mampus!"
"Gadis rambut pirang! Jangan salah menduga!"
menjawab Nyi Kuncup Jingga.
"Benar," menyambung Ki Ngumpil Sebaki.
"Kami tidak ada sangkut paut dengan Ratu Laut Utara. Kami datang justru
hendak menolong sahabatmu yang terkena racun kalajengking biru ini!"
Bidadari Angin Timur menatap dua orang di hadapannya
tak berkesip. Lalu dia dongakkan kepala dan tertawa melengking panjang.
"Tua bangka tolol! Kalau kalian bukan satu komplotan bagaimana tahu sahabatku ini celaka karena racun kalajengking biru!"
"Tua bangka tolol! Kalau kalian bukan satu komplotan bagaimana tahu sahabatku ini celaka karena racun kalajengking biru!"
Nyi Kuncup Jingga dan Ki Ngumpil Sebaki sama-sama
tersentak karena baru menyadari kalau salah satu dari mereka telah salah
bicara!
"Lihat Hantu," bisik si nenek pada temannya.
"Dia sudah tahu siapa kita. Kita sudah tahu siapa dia! Sesuai perintah Sri
Paduka Ratu kita harus meng-habisinya sekarang juga!"
Bidadari Angin Timur yang sudah yakin kalau sepasang
kakek nenek itu adalah anak buah Ratu Laut Utara, selagi keduanya
berbisik-bisik segera menerjang lancarkan serangan.
Dengan gerakan luar biasa cepat karena ilmu
meringankan tubuhnya yang sangat tinggi gadis berambut pirang ini kirimkan
tendangan ke arah Ki Ngumpil Sebaki sementara si nenek dihantam dengan pukulan
tangan kosong. Sepasang kakek nenek yang sudah bersiap-siap waspada tidak
tinggal diam.
Sambil berteriak keras ke duanya rundukkan tubuh lalu
secara berbarengan lepaskan pukulan bernama Gelombang Laut Utara.
Suara ombak bergemuruh dahsyat memenuhi tempat itu. Di
depan matanya Bidadari Angin Timur benar-benar melihat gelombang besar
menerjang ke arahnya. Sesaat lagi tubuhnya akan digulung dan dilumat hancur
serangan ganas itu Bidadari Angin Timur cepat melesat ke udara. Dari atas dia
hantamkan dua tangan sekaligus ke arah dua lawan. Yang dicecar adalah kepala
menakal
"Wuutt..Wuuuttt!" Dua larik sinar biru
berkiblat menyerupai pedang. Menyambar ke arah batok kepala Nyi Kuncup Jingga
dan Ki Ngumpil Sebaki.
"Awas Pedang Biru Liang Akhirat!" Teriak Nyi
Kuncup Jingga Serangan dua sinar biru yang dilepas Bidadari Angin Timur seperti
yang terlihat memang berbentuk sepasang pedang namun ilmu kesaktian itu tidak
bernama. Selama malang melintang dalam rimba persilatan Bidadari Angin Timur
memiliki beberapa pukulan sakti. Tetapi semua pukulan itu seolah mengandung
rahasia dan jarang sekali diberi nama. Entah bagaimana si nenek bisa saja
menyebut serangan sebagai Pedang Biru Liang Akhirat.
Menghadapi serangan lawan Nyi Kuncup Jingga cepat
menyingkir ke kiri. Nenek ini unjukkan muka pucat dan keluarkan keringat dingin
waktu melihat bagaimana tanah di hadapannya yang kena dihantam sinar biru
terbongkar membentuk lobang besar sedalam betis! Tidak menunggu lebih lama
nenek ini segera melepas pukulan bernama Mega Jingga.
Ki Ngumpil Sebaki juga berhasil menyelamatkan diri
dari serangan Bidadari Angin Timur. Sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki
tertutup tanah yang mencuat ke udara akibat pukulan sakti yang dilepaskan
Bidadari Angin Timur. Kakek ini jatuhkan diri ke tanah. Sambil bergulingan dia
lancarkan pukulan Perangkap Raga Penjirat Jiwa. Malah seolah belum puas dia
susul serangan ini dengan ilmu yang disebut Lidah Hantu. Sekali dia membuka
mulut maka lidahnya yang merah basah melesat panjang keluar. Laksana ular hidup
lidah ini menelikung ke arah pinggang Bidadari AnginTimur!SERANGAN maut Mega
Jingga yang menebar cahaya ungu menyilaukan mencurah dari tangan kanan Nyi
Kuncup Jingga. Dari arah lain serangan Ki Ngumpil Sebaki yang memancarkan
cahaya hitam, begitu mencapai Bidadari Angin Timur cahaya berubah menjadi
jaring samar yang siap meringkus gadis berambut pirang ini. Inilah serangan
bernama Perangkap Raga Penjirat jiwa. Sekali seseorang masuk terperangkap dalam
jaring hitam, sulit baginya untuk bisa melepaskan diri. Lalu masih ada serangan
ke tiga yaitu sambaran lidah panjang si kakek yang melesat ke arah pinggang!
Walau Bidadari Angin Timur memiliki kecepatan gerak
luar biasa yaitu Ilmu yang disebut Selaksa Angin namun menghadapi tiga serangan
sekaligus benar-benar membuat gadis Ini tergetar nyalinya. Selain kemampuan
hebat yang dimiliki dua orang lawan itu. Juga telah dibekali tambahan kekuatan
oleh Ratu Laut Utara. Apa lagi saat itu pikiran Bidadari Angin Timur masih
tersita oleh keadaan Bujang Gila Tapak Sakti yang tengah sekarat akibat
keracunan. Ditambah pula dengan teriakan Ratu Laut Utara yang masih terngiang
di telinganya, meneriakkan bahwa dirinya adalah seorang Janda!
Didahului teriakan dahsyat Bidadari Angin Timur
berkelebat laksana angin. Tubuhnya lenyap hanya tinggal bayangan biru. Dua
tangan dipukul membuat gerakan menangkis sekaligus balas menyerang. Sinar
Jingga tercabik-cabik di udara mengeluarkan letupan-letupan mengepulkan asap.
Nyi Kuncup Jingga terjajar beberapa langkah, muka pucat berkerut, kepala
mengkerut aneh. Nenek ini semburkan ludah ke tanah. Ludahnya tampak berwarna
merah pertanda bentrokan ilmu kesaktian tadi membuat dirinya terluka di dalam
walau tidak parah. Setelah kerahkan tenaga dalam dan alirkan hawa sakti ke
dada, sambil menjerit marah si nenek kembali lepaskan satu pukulan. Kali ini
memancarkan tiga cahaya sekaligus. Merah, hitam dan kuning! Inilah ilmu pukulan
mengandung racun jahat bernama Jelaga Kematian.
Ilmu jaring yang dilepas Ki Ngumpil Sebaki untuk meringkus lawan juga musnah berentakan dihantam serangan balasan Bidadari Angin Timur. Namun semburan lidahnya berhasil menyusup dan menyambar ke arah pinggang si gadis.
Ilmu jaring yang dilepas Ki Ngumpil Sebaki untuk meringkus lawan juga musnah berentakan dihantam serangan balasan Bidadari Angin Timur. Namun semburan lidahnya berhasil menyusup dan menyambar ke arah pinggang si gadis.
Hantaman serangan dua lawan cukup membuat kuda-kuda
sepasang kaki Bidadari AnginTimur goyah. Selagi dia berusaha mengimbangi diri
lidah panjang Ki Ngumpil Sebaki telah menjirat pinggangnya! Sekali lidah itu
disentakkan maka hancurlah pinggang si gadis sampai ke tulang-belulangnya!
Kehebatan ilmu Lidah Hantu ini sudah pemah kita ketahui ketika Ki Ngumpil
Batangnipa menjerat hancur leher Gumelar Kartasuwita, pemuda gagah pimpinan
rombongan sandiwara keliling "Jaka Lelana"(Baca "Badai Laut
Utara")
"Ihhh!"
Bidadari Angin Timur berteriak kaget dan jijik. Dia
coba lepaskan diri dengan memukul lidah sambil melesat ke atas.
"Bukk! Bukkk!"
Dua kail tangan kiri Bidadari Angin Timur berhasil
memukul telak lidah yang menjirat pinggangnya.Tapi seperti memukul karet, tangan
si gadis membal ke atas. Bidadari AnginTimur merasa tangan yang tadi memukul
sakit kesemutan, nyaris kaku digerakkan. Dalam keadaan lidah terjulur begitu
rupa Ki Ngumpil Sebaki masih bisa tertawa bergelak dan keluarkan ucapan.
"Gadis cantik! Umurmu sampai di sini!"
Sebelum lidah menyentak meremukkan pinggangnya
Bidadari Angin Timur berteriak nekad.
"Tua bangka jahanam! Aku mengadu jiwa
denganmu!"
Lalu si gadis pergunakan dua tangan untuk membetot
lidah. Begitu tubuh Ki Ngumpil Sebaki ikut tertarik ke depan, Bidadari Angin
Timur hantamkan kepalanya ke kepala lawan!
Sama-sama mati, itulah yang bakal terjadi. Tapi Ki
Ngumpil Sebaki belum mau mati. Kakek ini buka mulutnya lebih lebar, tangan
kanan bergerak menarik sendiri lidah itu. Lalu greekk.
Lidah panjang merah dan basah itu terlepas tanggal
dari mulutnya. Akibatnya Bidadari Angin Timur yang menarik lidah dengan sekuat
tenaga terpental ke belakang. Di saat bersamaan tiga cahaya pukulan Jelaga
Kematian yang dilepas Nyi Kuncup Jingga datang menyambar wajah Bidadari Angin
Timur. Gadis ini merasa dadanya sesak dan peman-dangannya menjadi lamur. Lidah
panjang yang tadi berada dalam cekalan kedua tangannya lenyap meninggalkan bau
amis!
Ki Ngumpil Sebaki keluarkan tawa bergelak. Tangan
kanan menjotos ke dada Bidadari Angin Timur. Tepat di arah jantung. Di saat
kematian sudah menghadang di depan mata dan tubuh miring ke kiri, Bidadari
Angin Timur kerahkan seluruh tenaga dalam lalu singkapkan pakaian birunya di
bagian perut.
Ki Ngumpil Sebaki yang melihat putih bagusnya perut si
gadis sempat terkesiap dan kerenyitkan kening. Dia berpikir Bidadari Angin
Timur hendak membuka seluruh pakaiannya dan tengah menggoda dirinya.
"Gadis cantik., kalau kau memang ingin menyerah
dan mengundang bersenang-senang aku yang tua ini tidak sungkan-sungkan menerima
dan melayani. Tapi tempatnya bukan di sini! Ha...ha... ha!" ucap si kakek
lalu tertawa gelak-gelak.
"Ki Ngumpil awas!" Teriak Nyi Kuncup Jingga
mengingatkan.
Tapi tertambat. Pusar Bidadari AnginTimur yang tadinya
rata tiba-tiba mencuat bodong. Selarik sinar biru mencuat berkiblat. Sinar Geni
Biru. Ilmu Pusar Pusaka!
"Rertttt!"
Tubuh Ki Ngumpil Sebaki terbelah hangus mulai dari
kepala ke dada. Kakek ini menemui ajal tanpa jeritan sama sekali. Sekujur
badannya berubah biru dan kepuikan asap!
Bidadari Angin Timur jatuh terduduk di tanah seolah
kehabisan tenaga tiada daya Pemandangannya semakin samar.
"Gadis celaka! Kau telah membunuh temanku!
Sekarang terima kematianmu!"
Nyi Kuncup Jingga melompat dan akan hantamkan tangan
kanan ke batok kepala Bidadari AnginTimur! Untuk kesekian kalinya maut siap
merenggut nyawa gadis cantik ini. Namun yang sekali Ini agaknya dia tidak bisa
lagi lolos dan kematian. Sesaat lagi kepala berwajah cantik jelita itu akan
pecah tiba-tiba air laut di tepi pantai bersibak, mencuat tinggi ke udara. Di
celah sibakan muncul satu mahluk putih besar panjang mengerikan. Meluncur ke
arah Bujang Gila Tapak Sakti terkapar di pasir. Tubuh dan kepalanya jelas
adalah kepala seekor buaya namun ada bagian-bagian seperti hidung, kening dan
mata menyerupai manusia. Di kepala binatang raksasa ini ada sebentuk mahkota
kecil terbuat dari emas bertabur batu-batu permata.
"Buaya putih!" Nyi Kuncup Jingga berseru
kaget Tubuh bergetar tengkuk dingin dan wajah berubah. Nyalinya nyaris leleh.
Saat itu terdengar suara orang bicara. Suara
perempuan. Entah siapa orangnya.
"Manusia malang! Hawa dingin yang kau tebar telah
membangunkan aku dari tidur seribu hari! Tidak ada salahnya aku membalas budi
kebaikanmu."
Buaya putih buka mulutnya lebar-lebar. Diarahkan ke
sosok Bujang Gila Tapak Sakti. Dari dalam mulut binatang ini keluar suara
menderu. Saat itu juga tubuh gemuk Bujang Gila Tapak Sakti tersedot amblas,
masuk ke dalam mulut buaya putih. Buaya putih bergerak surut masuk ke dalam air
laut berputar-putar beberapa kali.
Bidadari Angin Timur yang sempat menyaksikan kejadian
itu walau dalam pandangan samar hanya bisa berteriak.
"Hai! Jangan bunuh temanku!"
Lalu gadis ini terjerembab ke depan, tertelungkup di
tanah tidak sadarkan diri lagi. Nyi Kuncup Jingga melompat mendatangi. Kaki
kanan ditendangkan ke kepala Bidadari Angin Timur. Namun gerakannya tertahan
ketika ada suara mengiang muncul di telinganya.
"Nyi Kuncup! Jangan dibunuh! Kita kekurangan
orang. Bawa dia ke pulau. Masukkan di ruang perawatan, satukan dengan Purnama.
Obati lalu terapkan ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat Hati."
"Sri Paduka Ratu," kata Nyi Kuncup Jingga
sambil membungkuk hormat. "Perintah Sri Paduka Ratu akan saya jalankan.
Namun kalau boleh izinkan saya memberi tahu sesuatu terlebih dulu."
"Ada apa Nyi Kuncup. Sayang aku telah ke-hilangan
Dulang Perak Sejuta Mata hingga tidak dapat mengetahui banyak kejadian diluar.
Aku kini hanya bisa menyelidik secara tidak langsung melalui sambungan rasa
dengan anak buahku termasuk dirimu."
"Sri Paduka Ratu, barusan saya melihat seekor
buaya putih berkepala setengah manusia muncul di tepi pantai..."
"Apa Nyi Kuncup?!" suara mengiang itu
seperti ledakan keras hingga si nenek tekap ke dua telinganya yang kesakitan.
"Buaya putih Sri Paduka Ratu. Saya melihat seekor
buaya putih..... (lanjutkan membaca setelah login gratis di
sini )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar